Kemarin saat kami diam-diaman, aku yang lebih dahulu menurunkan emosi dan egoku untuk memulai percakapan. Namun, saat ini aku tidak ingin lagi menurunkan egoku. Aku merasa tidak salah. Dia yang terlalu posesif. Masa angkat telepon di luar saja dia sudah curiga. Aku kan menghindari kalau Fajar berbicara yang aneh-aneh, takut terdengar olehnya dan berpotensi membuat dirinya marah.
Saat aku dan Mas Aarav telah berada di rumah sampai kegiatan makan malam kami hanya diam-diaman. Tidak ada yang bertegur sapa, hanya suara Lulu dan Dani saja yang tadi meramaikan suasana makan malam.
"Ibu duluan ke kamar ya. Selamat malam semua," ucap Ibu pamit lebih dahulu setelah itu dilanjut oleh Lulu dan Dani. Selepas kepergian mereka, aku menatap Mas Aarav yang berdiri lalu pergi meninggalkanku sendirian di meja makan.
Dia parah banget. Biasanya kami merapikan meja makan berdua, tetapi saat ini aku malah ditinggal sendirian. Dia sepertinya marah beneran. Egonya besar juga, tetapi aku tidak akan gentar. Aku juga tidak akan menurunkan egoku. Biar kita sama-sama keras.
Aku mencuci piring lalu melangkahkan kaki menuju ke lantai dua. Saat berada tepat di depan pintu kamar, aku mendadak malas untuk tidur di sana. Aku lebih baik tidur di kamar sebelah, kamar yang biasanya dipakai Ibu untuk tidur siang.
Aku masuk ke dalam kamar itu lalu menaiki ranjangnya. Kantukku belum datang sehingga aku memilih untuk memainkan ponselku dan seketika fokusku teralihkan ke benda tipis itu. Tiba-tiba suara pintu terdengar. Aku yang sedang menonton film lantas menatap ke arah sumber suara.
Mas Aarav masuk ke dalam kamar masih dengan wajah datarnya. Dia meletakan skincare-ku di meja lalu melirik sekilas ke arahku. "Biasanya kamu pakai skincare kalau ingin tidur. Itu saya bawakan." Aku hanya terdiam lalu dia berbalik menuju pintu dan keluar dari kamar.
Tidak lama berselang, pria itu kembali masuk dan membawa handbody milikku di tangannya. "Kamu juga biasanya pakai handbody," ucapnya sambil meletakan handbody-ku di samping skincare.
Aku masih tetap terdiam. Kali ini dia menatapku lekat lalu dia duduk tepat di pinggir ranjang. "Kamu tidur di mana?" aku masih bungkam, "kalau kamu tidur di sini, saya juga tidur di sini."
Aku menggeleng cepat lalu mendorong tubuhnya dari ranjang. "Aku mau sendirian aja. Mas ke kamar sebelah aja."
"Tapi kamunya di sini."
"Ya terus kenapa? Kita sebelah-sebelahan ini."
Dia membaringkan tubuhnya di sebelahku lalu menarikku ke dalam pelukannya. "Saya enggak bisa tidur, kalau enggak begini."
Aku melepaskan pelukannya dengan sekuat tenaga, tetapi tenagaku tidak seberapa jika dibandingkan dengan tenaganya. "Peluk guling aja."
"Rasanya beda, Dhara."
Aku berdecak sebal. Kali ini aku pasrah, biarkan saja dia memelukku.
"Marah?"
Aku masih diam.
"Kamu masih marah?"
Aku mendengus sebal.
"Semenjak kita menikah, kamu jadi sering marah-marah ya."
Pria ini benar-benar tidak introspeksi diri. Aku kan marah juga karena sifat menyebalkannya. Kalau saja dia tidak seperti tadi, aku pasti bakal biasa saja.
Cerita ini sudah tersedia versi lengkap, untuk kalian yang mau baca duluan, dapat diakses di k********a.
Di k********a kalian bisa mendapatkan
1. Ebook Lengkap (59 part)
2. Bagian Tambahan Ekslusif di karyakarsa
Sudut Pandang Aarav (10 part)
Sudut Pandang Dhara (3 part)
Sudut Pandang Fajar (1 Part)
Sudut Pandang Penulis (3 Part)
Hanya dengan Rp44.000 kalian bisa akses semua partnya.
Cara belinya:
1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi.
2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ Ebook _ Mr. Scary and Our Journey _ TheDarkNight_)
4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih.
Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, s****e Pay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank.
5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR).
6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".