Krucuk-krucuk... Darah menyembur dari mulut Farhan. Namun, pria itu masih bisa bernafas walau terasa berat. "M-maria... si-sini... " Suaranya begitu lirih sembari jemarinya melambai ke arah Maria, seoalah memberi kode untuk menghampirinya. Maria yang masih membopong bayi Farhan, berjalan pelan ke arah lelaki yang mautnya diujung tanduk itu. Air mata mulai mengucur dari pupilnya. "Farhan, dia anakmu. Dia yang kau tunggu-tunggu kelahirannya." Farhan tersenyum memandangi bayinya yang mungil. "M-maria ... a-aku tidak punya banyak waktu lagi. A-aku mohon maafkan aku dan Renatha. A-aku ... yang bersalah atas semua ini." "Tidak Farhan. Jangan menyalahkan dirimu atas kesalahan yang istrimu perbuat." "Ma-maria ... k-kamu ... ha ... harus tahu sebuah ... ke-be-naran. Sama seperti Re-na-tha, a-

