بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ Maria membuka matanya lebar-lebar. Kepalanya pening, tubuhnya lemas. Energinya terkuras habis setelah bertarung dengan nafsu setan. Bola bundarnya melirik tangannya yang masih memegangi pisau runcing. Ada segores darah pada pisau itu. Sebagian mengalir pelan membasahi lengannya. Ia terkesiap. Siapa yang telah berhasil ia lukai di kala ketidaksadarannya. Satu hal yang terlintas di kepalanya. Abah! Maria berdiri, masih memegangi pisaunya. Lantas melangkah tergesa-gesa, menapaki lantai marmer dan menjomplang pintu kamar ayahnya. Kosong! "Abah?" Gadis itu khawatir, melangkah kembali mencari-cari ayahnya. Sesaat setelah sampai di ruang tamu, kakinya terasa dingin menyentuh cairan kental dan menyesap hingga ke kulit ibu jari. Maria me

