Safira meletakkan semua piring-piring kotor dalam wastafel tempat cucian piring. Wanita itu marah-marah lantaran begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukannya. Sedangkan rasa kemalasan selalu menggelayutinya. "Sampai kapan aku harus menjadi b***k seperti ini!" Wanita itu mengumpat kesal. "Kenapa sih Bang Azam nggak sewa pembantu saja. Buat apa rumah sebesar ini kalau nggak punya pembantu. Ujung-ujungnya juga mesti aku yang beresin semuanya." Ia mendengus gusar. "Andai setan-setan yang aku ajak bersekongkol juga mau membantuku. Tapi mereka maunya cuma nakutin doang. Huh! Payah. Entah hilang ke mana tuh kuntilanak." Akhir-akhir ini kuntilanak peliharaannya memang tidak pernah muncul di depannya. Tepatnya sejak kejadian pertarungan antara Azam dan kuntilanak. Padahal Safira selalu melaku

