Denting sendok yang beradu dengan piring itu berhenti sejenak. Dua orang yang saling berhadapan itu saling menunduk karena teringat pada janji yang pernah mereka buat sekitar enam tahun lalu. Janji saling menunggu yang akhirnya di ingkari oleh Anggun karena menikah dengan Agung atas paksaan ibunya. "Apa kamu bahagia?" Anggun mengangguk. Ridho mendengus tidak percaya seraya melemparkan punggungnya ke sandaran kursinya. "Abang tidak percaya. Yang Abang percaya sampai saat ini adalah apapun yang ibumu putuskan pasti membuatmu tidak bahagia." Anggun mengangguk karena apa yang Ridho ucapkan adalah sembilan puluh persen benar. "Abang terkejut pas pulang kemarin setelah mendengar cerita tentang kamu dari ibuku. Padahal tujuan Abang pulang ya karena ingin menepati janji yang kita buat wak

