-BAB 112-

1382 Kata

Aku masih setia di sini, duduk menatap keluar jendela, dan berharap kejadian beberapa saat lalu hanyalah sebuah mimpi. Rasanya begitu sesak, hati juga terasa perih, dan aku tak tahu harus melakukan apa lagi. Semuanya sudah hancur, tidak ada puing-puing yang tersisa. Aku sudah membuat lubang besar, kemudian anak-anakku akan masuk ke dalam sana tanpa dipaksa. Apa ini jalan yang benar? Hah ... memikirkan tentang hal seperti itu, aku tentunya menjadi sangat panik. Aku memang tidak memiliki pilihan lain, dan ini juga sudah aku pikirkan secara matang beberapa saat lalu. Memang, terkadang kita harus merelakan beberapa hal di dalam kehidupan, tapi melakukan semua ini dengan hati yang ikhlas tentu saja tidak aku lakukan. Aku menjalani segalanya dengan keterpaksaan, karena itu masih ada penjelas

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN