"Kami mempunyai kontrak untukmu." Pria yang menghampirinya satu hari lalu kini kembali. Membawa sebuah kursi roda dan memerintah tubuh lemah Dika untuk mendudukinya tanpa ada bantuan sedikitpun. Dika harus berusaha keras untuk bangkit dari pembaringan agar ia bisa melihat suasana luar ruangan. Tak ada yang menarik dari bangunan itu. Hanya terdapat lorong-lorong gelap berbeda dengan apa yang ada di balik pintu. Hingga-lah ia berada di sebuah ruangan dengan pintu paling lebar dan gelap. Terlalu mencolok meskipun terdapat di ujung ruangan. Dika kemudian di arahkan untuk bergerak menuju meja besar di tengah-tengah ruangan. Tidak ada jendela di ruangan bercat abu-abu tersebut. Namun cahaya lampu yang kuat membuat penerangan tak berkurang sedikit-pun. Lanjut si pria seraya menyodorkan map ke

