bc

Pembalasan Sang Pewaris

book_age18+
1.1K
IKUTI
2.6K
BACA
billionaire
revenge
dark
counterattack
CEO
drama
city
secrets
crime
like
intro-logo
Uraian

Arryan tengah dilanda kebingungan karena sang kekasih hampir saja mengakhiri hidupnya jika Arryan tidak datang tepat waktu dan menyelamatkannya. Ia sangat terkejut mendengar penjelasan Alice–kekasih Arryan–melakukannya karena lelah terus dikejar-kejar oleh beberapa orang untuk membayar hutang karena ulah kedua orang tuanya yang meminjam kepada mereka. Arryan yang hidup pas-pasan dan serba kekurangan ingin membantu Alice untuk membayar semua hutangnya. Namun, ia tidak memiliki uang sedikit pun. Hingga seseorang bernama Glen tiba-tiba saja datang ke dalam kehidupan Arryan. Glen akan memberikan berapa pun uang yang dibutuhkan Arryan dengan sebuah syarat yang harus Arryan lakukan. Apakah Arryan akan menerima tawaran Glen demi melunasi hutang sang kekasih?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Perjanjian Dengan Glen
“Apa maksudmu dengan menggantikanmu? Aku tidak mengerti,” ucap Arryan seraya membenarkan duduknya dan melihat Glen dalam-dalam. Ia juga memasang telinganya baik-baik agar apa pun yang terucap dari mulut Glen bisa Arryan dengarkan dengan jelas. Arryan sedang berada di rumah Glen, seorang pria yang tidak ia kenali, tetapi menawarkan sejumlah uang yang dibutuhkan oleh Arryan. Arryan adalah seorang pria miskin yang sedang membutuhkan uang senilai 200 juta. Uang itu untuk kekasihnya karena ia memiliki hutang yang sangat banyak karena ulah mendiang orang tuanya. Sebagai seorang kekasih, tentu saja Arryan harus bisa membantunya. Apalagi siang itu ia melihat kekasihnya hendak melakukan percobaan bunuh diri karena terlilit hutang. Arryan yang tidak mau kehilangan kekasihnya, tentu saja harus melakukan berbagai cara. Hingga ia tidak sengaja bertemu dengan Glen, yang akhirnya, Arryan berakhir berada di rumah pria itu. “Kau tahu berita hangat yang tersebar di media sosial atau televisi akhir-akhir ini?” Glen menaikkan sebelah kakinya ke atas kaki yang lain. Tangannya mengambil sebatang rokok yang ia ambil dari tempatnya. Kemudian, ia menyesap secara perlahan membuat asap rokok itu mengudara di sekitarnya. Arryan menggelengkan kepalanya karena ia tidak mempunyai waktu untuk menonton televisi atau pun bermain media sosial. “Tidak, aku tidak tahu.” “Ada seseorang yang merampok dan juga membunuhnya, polisi sedang mencari orang itu,” ucap Glen sambil tersenyum miring ke arah Arryan, membuatnya menaikkan sebelah alisnya. “Kau ... menyuruhku untuk mencari tahu siapa orang itu?” Arryan mencoba menebak. Glen terkekeh mendengar tebakan Arryan, ia bahkan tertawa membuat suaranya menggema di seluruh ruangan. “Tidak, Arryan. Aku ingin kau menjadi pelaku pembunuhan itu menggantikan diriku.” Arryan membulatkan kedua bola matanya setelah mendengar perkataan dari Glen. Ia tidak menyangka jika Glen adalah seorang buronan karena pembunuhan. “Apa kau gila? Kau ingin aku mengakui sebuah kesalahan yang tidak aku lakukan sama sekali?” cecar Arryan yang tidak mau mengakui sebuah tindakan pidana yang tidak ia lakukan sama sekali. “Bukankah kau sedang membutuhkan uang sebesar 200 juta, di dalam tas itu bahkan jumlahnya melebihi jumlah uang yang kau butuhkan. Kita sama-sama diuntungkan dalam masalah ini, kau mendapatkan uang yang kau inginkan, dan aku terbebas dari tuduhan,” jelas Glen membuat Arryan berpikir dua kali. Glen benar, ia tidak akan mendapatkan kesempatan lagi memiliki uang sebanyak ini. Ia yakin, hutang Alice akan segera lunas dengan uang yang berada di dalam tas ransel milik Glen. Demi Alice, Arryan akan melakukan apa pun meski akan membuatnya kesusahan karena harus menanggung beban yang begitu berat. “Baiklah, kapan aku harus menyerahkan diriku ke polisi?” tanya Arryan akhirnya serata menatap tajam Glen. Sebenarnya, ia tidak ingin melakukan sesuatu hal yang merugikan dirinya sendiri. Namun, ia tidak memiliki pilihan lain selain menerima tawaran Glen demi hutang Alice lunas. “Sekarang juga,” jawab Glen sambil tersenyum miring, ia membenarkan duduknya dan mematikan rokok yang sejak tadi ia hisap. Arryan menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar, hanya demi uang sebanyak ini ia harus rela masuk ke dalam sel tahanan meski Arryan tidak melakukan hal apa pun. “Baiklah, tapi izinkan aku untuk menemuiku kekasihku terlebih dahulu.” *** Arryan datang menemui Alice di rumah kekasihnya itu. Alice sangat terkejut ketika melihat Arryan membawa uang yang begitu banyak dari dalam ransel. Sebuah senyuman tidak henti-hentinya terukir di wajah cantik Alice. “Arryan, dari mana kau mendapatkan uang sebanyak ini?” tanya Alice setelah tersadar dan melihat ke arah Arryan dengan tatapan kebingungan. Ia tahu betul jika Arryan adalah orang yang miskin dan serba kekurangan, tidak mungkin jika kekasihnya itu mendapatkan uang yang sangat banyak dengan waktu yang begitu cepat. “Arryan, kau tidak mencuri ‘kan?” Arryan menggelengkan kepalanya sambil menatap Alice dengan tatapan sedih. Ia tidak mau Alice tahu dari mana Arryan mendapatkan uang sebanyak itu. “Kau tidak perlu tahu, sayang. Yang pasti adalah kau tidak akan kerepotan dikejar-kejar oleh orang-orang yang menagih-nagih hutang padamu selama aku pergi nanti.” Alice membulatkan kedua bola matanya lalu meraih tangan kekar Arryan. “Kau ... mau pergi kemana?” “Kau tidak perlu tahu. Aku hanya ingin kau tetap setia menantiku, Alice.” Arryan beranjak dari duduknya hendak pergi. Namun, tangan Alice dengan cepat meraih kembali tangan Arryan, membuatnya terdiam. “Arryan, aku akan ikut bersamamu kemana pun kau pergi!” Arryan melepaskan tangan Alice dengan perlahan. “Tempatku pergi bukanlah tempat yang bagus untukmu. Kau hanya perlu tetap di sini menungguku pulang suatu saat ini.” “Tapi, Arryan. Kau akan pergi meninggalkanku?” tanya Alice lagi dengan air mata yang tertahan. “Maaf, sayang. Semua ini aku lakukan karena aku mencintaimu. Aku yakin, kau akan tahu aku pergi kemana sebentar lagi,” ucap Arryan seraya mencium kening Alice dengan penuh kasih sayang. Air mata Arryan juga tertahan karena harus berpisah dan tidak akan bertemu dengan Alice dalam waktu yang lama. Ia sangat berharap jika Alice setia menantinya sampai Arryan terbebas nanti. Arryan melangkah pergi dengan yakin meninggalkan Alice yang terdiam membeku dengan air mata berderai karena kepergian Arryan yang entah kemana. Di luar apartemen Arryan melihat Glen yang sudah menunggunya di samping mobil sport milik Glen. Ia membuang rokoknya sambil tersenyum miring saat kedatangan Arryan. “Kau pemberani karena sudah melakukan hal semacam ini demi kekasihmu.” Glen menepuk-nepuk pundak Arryan. Arryan hanya terdiam tanpa ingin menjawab ucapan Glen. Perasaannya campur aduk karena sebentar lagi hidupnya akan dihabiskan di dalam sel tahanan. “Kau sudah siap?” tanya Glen lagi seraya membukakan pintu mobilnya untuk Arryan masuk. Siap tidak siap Arryan harus melakukannya. Ia masuk ke dalam mobil Glen, diikuti oleh pemiliknya. Detik berikutnya, mobil Glen melaju begitu cepat membelah jalanan kota yang begitu lenggang. Beberapa menit kemudian, mobilnya berhenti tak jauh dari sebuah gedung yang tak lain adalah kantor polisi. Glen memberi kode untuk Arryan segera turun dan masuk ke dalam gedung itu. Glen menunggunya di dalam mobil untuk memantau Arryan sampai ia benar-benar masuk dan ditangkap di sana. Arryan kembali menarik napasnya lalu menghembuskannya dengan kasar. Ia juga menelan salivanya dengan susah payah. Kemudian, Arryan turun dari mobil Glen dengan penuh keyakinan. Ia datang ke dalam kantor polisi dengan perasaan yang begitu was-was. Terlihat para polisi yang sedang bertugas langsung menatap ke arah Arryan. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya salah satu polisi yang menghampiri Arryan karena sejak tadi ia hanya berdiri diam seraya memandangi semua polisi yang bertugas di sana. Arryan terdiam, ia menatap polisi yang bertanya padanya dengan ragu. “Saya ingin menyerahkan diri, Pak.” Kening polisi itu berkerut. “Apa yang sudah kau lakukan sampai kau berani menyerahkan diri seperti ini?” “Saya adalah orang yang kalian cari, Pak. Saya orang yang sudah membunuh seorang pria waktu itu,” ucap Arryan sambil menutup kedua bola matanya karena sebenarnya ia tidak ingin mengatakannya. Semua polisi yang bertugas di sana langsung menatap Arryan. Saat itu juga, Arryan langsung ditahan dan dimasukkan ke dalam sel tahanan seraya menunggu vonis pengadilan untuknya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

TERNODA

read
201.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.9K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
21.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
83.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook