Bab 9

1142 Kata
Selamat membaca ^^ Setelah beberapa saat Chris membujuk Teresa, akhirnya wanita itu bersedia memakan spanakopita yang dipesannya. Chris merasa lega. Dia pun melihat Teresa yang memakan makanan itu dengan lahap di sofa. Teresa yang memintanya untuk menjauh. Astaga! Wanita itu benar-benar merepotkan. “Bagaimana rasanya?” tanya Chris. “Hambar.” Chris tertegun sejenak. “Benarkah?” “Sí,” jawab Teresa ketus. “Kalau begitu, aku akan kembali memesan makanan yang sama pada kokiku. Tunggu sebentar ya.” Chris bangkit berdiri, kemudian berniat untuk keluar dari kamar. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara cekikikan dari Teresa. Chris menoleh ke belakang menatap Teresa yang masih menertawainya. Dia paham jika Teresa sedang menjahilinya. “Kau sengaja mempermainkanku?” tanya Chris sambil mendekati Teresa. Teresa pun kembali memasang wajah sinisnya. “Tidak.” “Aku tahu, kau berbohong,” ujar Chris. “Sí. Kenapa? Apa itu jadi masalah untukmu?” Pertanyaan Teresa terdengar begitu menantang di telinga Chris. “Yang harusnya marah itu aku, bukan kau. Sekarang aku tanya, untuk apa kau menculikku, hah? Apa sebelumnya aku pernah berbuat salah padamu? Atau aku pernah berhutang padamu? Dire,” sambung Teresa. Chris masih terdiam sambil menatap wanita yang sedang mengoceh di depannya. Ingatan akan Korinna ketika sedang kesal padanya pun kembali hadir karena Teresa. Sifat mereka berdua memang sama persis. Teresa pun mengernyit. “Kau menangis?” Chris tertegun saat menyadari sebulir airmata sudah menetes di pipinya. Chris segera menghapus airmata itu sambil menampilkan senyum manisnya. Hal itu membuat Teresa semakin kebingungan melihat sikap pria itu. “Ada apa?” tanya Teresa. “Apa aku terlalu menyinggungmu?” “Tidak, Signorina.” “Lalu, kenapa kau menangis?” tanya Teresa lagi. Chris tersenyum. “Aku hanya teringat dengan seseorang.” “Seseorang? Siapa?” “Dia masa laluku. Wajah dan sifatnya sangat mirip denganmu,” jawab Chris yang berusaha untuk menahan rasa sakit di hatinya saat membicarakan tentang Korinna, meskipun ia tidak menyebut namanya. Itu tetap saja menyakitkan. “Apa ini alasanmu menculikku?” Chris tersenyum sambil mengambil pakaian yang ada di atas kasur lalu memberikannya pada Teresa. Pakaian itu adalah pakaian milik Korinna yang sempat tertinggal di mansionnya. Dia merasa Teresa pantas memakainya. “Ganti pakaianmu. Setelah itu kita akan membeli Macbook baru,” ujar Chris sambil melangkah pergi dari kamarnya. Sedangkan Teresa masih menatap pria itu dengan perasaan bingung. Dia tidak menyangka seorang penculik bisa selembut itu. Biasanya dia melihat film yang berhubungan dengan penculikan akan berakhir tragis. Bahkan sampai dibunuh dan dimutilasi. Namun berbeda dengan Chris. “Mungkinkah pria tak bernama itu jelmaan malaikat?” gumam Teresa. *** Sambil menunggu Teresa, Chris terlihat memberi makan ikan-ikan yang ada di kolam belakang mansionnya. Tangan kirinya memegang tempat makanan ikan, sedangkan tangan kanannya melempar segenggam makanan ikan ke kolam. Tapi tatapan matanya begitu kosong. Dia sedang melamun dan masih terbawa suasana saat berbicara dengan Teresa. Manolis yang berada di belakangnya pun merasa bingung melihat tuannya seperti itu. Padahal tadi Chris baik-baik saja, bahkan terlihat begitu bahagia karena kehadiran Teresa. Kenapa sekarang berbeda? “Kýrie Chris,” panggil Manolis. Namun Chris tidak menjawab. Dia masih tetap berada dalam lamunannya akan bayang-bayang masa lalunya. Manolis pun mencoba memanggil nama pria itu sekali lagi. “Kýrie Chris.” Tetap dalam kondisi yang sama. Dengan sangat terpaksa, Manolis harus menepuk pelan pundak kanan Chris. Pria itu tersentak saat Manolis menyentuh pundaknya. Chris menoleh ke belakang untuk menatap Manolis. “Ada apa?” tanya Chris. “Apa Anda baik-baik saja, Kýrie? Sejak tadi saya lihat, Anda terus melamun dan tidak menjawab panggilan saya.” “Aku baik-baik saja.” Manolis hanya mengangguk dan tidak ingin bertanya panjang-lebar pada tuannya. Dia tidak ingin membuat Chris marah lagi. Sedangkan Chris kembali fokus melihat kolam yang sedang ia taburkan makanan ikan. “Hei, pria tak bernama!” Seketika Chris dan Manolis menoleh ke belakang. Kedua pria itu tertegun bersamaan saat melihat penampilan Teresa yang begitu cantik dan sangat mirip dengan Korinna. Dress selutut berwarna putih bercorak hitam itu mampu menghipnotis pandangan Chris. Pria itu sama sekali tak berkedip. Sementara Manolis sudah kembali sadar dari keterkejutannya. Manolis berusaha menyadarkan tuannya, namun tidak berhasil karena Chris terlalu terpana akan kecantikan dan keanggunan Teresa. “Berhenti menatapku!” perintah Teresa dengan nada sinis. Membuat Chris tersadar dan langsung mengalihkan pandangannya ke tempat lain. “Kau bilang mau mengajakku membeli Macbook baru,” sambung Teresa. Chris hanya mengangguk lalu memberikan tempat makanan ikan itu kepada Manolis. Pria ini berjalan menjauhi Teresa dan Manolis tanpa melihat ke arah wanita itu. Teresa pun merasa bingung dengan sikap aneh Chris. Karena sebelumnya Chris selalu tersenyum padanya. Kenapa sekarang berbeda? Teresa mendekati Manolis dan berbisik, “Hei, dia kenapa?” “Mungkin suasana hatinya sedang buruk, Signorina,” jawab Manolis sopan. “Oh, begitu.” “Mari, Signorina.” Manolis menuntun jalan Teresa menuju tempat Chris berada saat ini. Teresa terkejut saat berada di halaman depan mansion itu. Ada sebuah mobil limousin berwarna putih di sana. Chris sudah menunggu di dalam sana. Teresa tidak menyangka pria itu sangat kaya raya. Teresa berjalan mengikuti langkah Manolis. Kemudian masuk ke dalam ketika Manolis sudah membukakan pintu mobil tersebut. Saat berada di dalam, Teresa tak berhenti menatap interior mobil milik Chris. Sangat rapi dan berkelas. Luar biasa! “Hei, pria tak bernama! Kau ternyata kaya raya juga ya. Sama seperti Enzo,” ujar Teresa tanpa melihat Chris yang duduk di sampingnya. Dia lebih terfokus pada interior mobil itu. Chris sedikit tersenyum. “Kau memanggilku dengan sebutan apa?” “Pria tak bernama.” “Itu sebutan yang bagus,” ucap Chris. Membuat wanita itu seketika menoleh ke arahnya dengan tatapan sinis. “Kenapa? Kau tidak suka?” “Aku tidak bilang seperti itu, Signorina,” jawab Chris. Teresa mendengus kesal sambil melipat kedua tangannya di bawah d**a. Pandangannya kini lurus ke depan dengan wajah kesalnya. Sedangkan Chris mencoba melirik wanita yang ada di samping kanannya dan menampilkan senyum khasnya. “Signorina,” panggil Chris. “Hmm.” “Apa kau menyukai mobil ini?” tanya Chris. “Tentu saja. Hanya orang bodoh yang tidak suka dengan ini,” jawab Teresa. Masih dengan nada sinisnya. “Kenapa? Apa kau ingin membelikanku limousin juga?” “Sí.” Jawaban Chris membuat Teresa seketika menoleh ke arahnya dengan ekspresi terkejut. “Kau bercanda?” tanya Teresa. Masih tak percaya. “Tidak, Signorina. Limousin ini kuberikan untukmu. Kau boleh memakainya sesuka hatimu,” jawab Chris sambil tersenyum menatap Teresa. Teresa menggelengkan kepala. “Tidak. Aku tidak mau.” “Kenapa?” “Ini pasti jebakanmu, kan?” Teresa justru balik bertanya sambil menyipitkan sedikit matanya saat menatap Chris. “Kau sengaja memberiku limousin ini agar aku bisa merasa hutang budi padamu. Benarkan?” sambung Teresa. Chris tertawa pelan. “Tidak. Kenapa kau selalu berpikiran negatif padaku?” “Karena kau sudah menculikku tanpa alasan yang jelas dan membuat pekerjaanku jadi terhambat. Harusnya aku sudah mengirimkan file itu pada editorku. Tapi semuanya hancur karena kau,” jawab Teresa. Seketika rasa kesal itu kembali timbul di hatinya. “Maafkan aku. Tapi, aku serius dengan ucapanku tadi. Limousin ini memang akan kuberikan padamu sebagai permintaan maafku,” ucap Chris sambil tetap memperlihatkan senyuman manisnya. “Aku juga sudah meminta beberapa orang menyiapkan ruangan khusus di halaman belakang untukmu.” Teresa menatap Chris. “Untukku?” “Sí. Ruangan khusus agar kau lebih fokus mengerjakan karyamu di sana tanpa gangguan dari siapapun, termasuk aku.” Teresa masih menatap tak percaya ke arah pria itu. Sementara pria itu kembali menatap ke depan dengan senyumannya. “Dia benar-benar berhati malaikat,” batin Teresa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN