Selamat membaca ^^
Manolis sudah bersiap di pagi hari pada pukul tujuh. Dia berjalan menuju kamar Chris hendak membangunkan tuannya itu. Namun seketika langkahnya terhenti saat melihat Chris tertidur di sofa yang ada di luar kamar sambil melipat kedua tangannya di bawah d**a.
Manolis pun mendekati Chris dan menggoyangkan sedikit tubuhnya agar Chris bangun. “Kýrie Chris,” panggilnya.
Chris terbangun dari tidurnya dan melihat Manolis sudah ada di sampingnya. Dia segera duduk, mencoba untuk memulihkan kesadarannya. Kemudian ia berdeham.
“Kenapa Anda tidur di sini?” tanya Manolis bingung.
“Karena wanita itu sudah bangun dari tidurnya dan memaksaku untuk keluar dari kamarku sendiri,” jawab Chris diiringi tawa singkat darinya. Entah kenapa dia sangat senang pagi ini ketika dirinya mengingat kepanikan Teresa di jam dua pagi tadi. “Dia sangat menggemaskan,” gumam Chris.
“O thee mou! Apa kita perlu mengajarinya sopan santun, Kýrie?”
Chris menggeleng. “Tidak perlu. Dia seperti itu karena panik saat melihatku tidur di sampingnya.”
“Baiklah. Apa Anda ingin mandi air hangat, Kýrie?” tanya Manolis lagi.
“Nai. Tolong siapkan. Tapi jangan di kamar ini ya. Dia pasti sudah mengunci pintunya,” ujar Chris tertawa ringan.
Manolis tersenyum sambil menunduk dan berjalan menjauh dari Chris yang masih duduk di sofa. Pandangannya tertuju pada pintu kamarnya sendiri. Berharap wanita itu akan keluar dan memperlihatkan wajah cantiknya pada Chris. Namun sepertinya itu tidak mungkin terjadi, mengingat sikap Teresa yang buruk padanya. Wanita itu pasti masih sangat marah, bahkan mungkin membencinya.
Chris bangkit berdiri untuk menuju ke kamar lain. Disaat yang bersamaan, pintu kamar utama milik Chris terbuka dan menampilkan sosok Teresa di sana. Wanita itu masih mengenakan pakaian yang sama, namun terlihat lebih segar. Mungkin dia sudah mandi lebih dulu.
“Selamat pagi, Signorina,” sapa Chris dengan senyuman.
Teresa menatap sinis pada pria itu. “Jangan menampilkan senyum palsumu itu. Kau pikir, aku tertarik padamu?”
“Maaf, tapi aku tidak sedang melakukan hal yang kau tuduhkan, Signorina. Aku tulus menyapamu,” ujar Chris tenang. “Apa kau memerlukan sesuatu? Katakan padaku.”
“Tidak.”
Chris tersenyum. “Kau yakin?”
Teresa terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Aku bilang tidak, ya tidak. Jangan membuatku kesal.”
“Baiklah. Kalau begitu, aku pergi dulu ya. Jika perlu sesuatu, cari aku.”
Chris melangkahkan kakinya menjauhi Teresa yang masih menatap punggungnya. Teresa terlihat menggigit bibir bawahnya sambil memegangi perutnya. Sementara Chris dengan sengaja memperlambat langkahnya karena tahu bahwa wanita itu memang sedang membutuhkan sesuatu. Tapi rasa gengsi yang tinggi membuatnya enggan untuk mengatakan itu pada Chris.
“Tunggu!” cegah Teresa. Dia kembali menggigit bibir bawahnya saat Chris berbalik ke belakang dan menatapnya. “Aku lapar. Apakah di sini ada makanan?” tanya Teresa.
Chris sedikit tertawa sambil tersenyum. “Tentu saja ada, Signorina. Katakan, kau ingin makan apa? Di sini juga ada makanan Itali. Apa kau ingin dibuatkan? Aku yang akan menyuruh koki di sini untuk memasaknya,” jelas Chris.
“Tidak. Aku tidak ingin makanan Itali.”
“Lalu?”
“Aku ingin makan spana… spana… Ah! Apa ya?” ujar Teresa sambil terus memikirkan nama makanan khas Yunani yang pernah ia makan bersama Nieve saat di toko roti.
“Spanakopita,” sambung Chris.
Teresa menjentikkan jarinya, menandakan bahwa pria itu benar. “Ya, itu. Aku mau makanan itu. Ada di sini?”
“Sí. Aku akan menyuruh kokiku untuk membuatnya,” jawab Chris. “Hanya itu yang kau butuhkan?”
“Eum, sebenarnya aku juga butuh pakaian,” kata Teresa sambil menyengir kecil pada Chris.
Seketika darah Chris berdesir melihat tingkah lucu wanita itu. Kenapa dia harus memperlihatkan wajah imutnya disaat seperti ini? Chris menggelengkan kepala, berusaha menepis pemikiran yang aneh di kepalanya.
“Aku akan menyiapkan pakaian untukmu. Tunggulah di sini,” ujar Chris yang dijawab dengan anggukan kepala dari Teresa.
Chris berlalu dari hadapan Teresa, sementara Teresa menunggu di dalam kamar.
***
Teresa sedang berusaha mencari Macbook serta ponselnya. Barangkali ada di kamar itu. Dia mencari di setiap tempat yang ada di kamar Chris. Mulai dari laci nakas, hingga lemari pakaian pribadi Chris. Namun benda yang dicarinya tak kunjung ia temukan. Teresa ingat sekali bahwa sebelum dibawa ke sini, dia sedang memegang Macbook dan ponselnya.
“Dimana disimpan pria tak bernama itu?” gumam Teresa yang terdengar begitu lucu. Harusnya seseorang yang diculik akan merasa panik dan berusaha mencari cara untuk melarikan diri. Tapi tidak dengan wanita satu ini. Dia justru lebih mementingkan kedua gadgetnya daripada dirinya sendiri.
Teresa berlutut lalu melihat ke bawah tempat tidur Chris. Mungkin saja Chris menyembunyikannya di bawah sana, pikirnya dan kembali mendapatkan hasil yang nihil. Hingga dia dikejutkan oleh kehadiran Chris yang selalu hadir tiba-tiba seperti hantu, menurutnya.
“Kau itu keturunan apa sih? Tiba-tiba datang lalu mengejutkanku,” gerutu Teresa. “Dimana Macbook dan ponselku? Aku tahu, kau sedang menyembunyikannya. Cepat kembalikan!”
“Makanan yang kau pesan sudah siap, Signorina. Pergilah makan, setelah itu aku akan membelikan Macbook baru untukmu.”
“Apa maksudmu?” tanya Teresa bingung. Namun sedetik kemudian mulutnya menganga, kemudian ditutupnya menggunakan telapak tangan kanan. “Jangan bilang kau merusaknya.”
“Maafkan aku. Macbook terjatuh saat itu dan rusak,” ucap Chris.
Saat itu juga Teresa terduduk lemas di tepi kasur. Dia menyibak rambut lurusnya ke belakang dengan raut wajah sedih bercampur frustrasi. Macbook itu sangat berharga baginya, apalagi ada naskah penting yang harus dia selesaikan dalam waktu dekat ini. Namun semuanya hancur akibat ulah Chris. Jika saja saat itu Chris mau mendengarkan nasehat Peter dan Manolis, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.
Teresa menangis sehingga membuat Chris meletakkan pakaian yang ada di tangannya lalu berlutut di depan wanita itu. Wajah Chris benar-benar sendu dan terdapat rasa penyesalan di sana. Dia tidak menyangka wanita itu akan se-frustrasi ini.
Chris mencoba menggenggam tangan Teresa, namun ditepis langsung oleh pemiliknya. Chris tidak sakit hati akan hal itu karena dia tahu ini memang kesalahannya. Chris pun menunduk.
“Aku minta maaf, Signorina,” ucap Chris.
Teresa menatap Chris dengan tajam meskipun yang ditatap masih menunduk dan berlutut di hadapannya. “Maaf katamu? Setelah apa yang kau lakukan padaku?”
“Aku benar-benar minta maaf. Aku janji akan membelikan Macbook yang baru untukmu. Kau bisa ikut denganku jika kau mau,” ujar Chris yang masih belum berani menatap Teresa.
Chris baru menyadari sifat Teresa juga sama persis dengan Korinna. Keduanya memang seperti anak kembar yang terpisah oleh jarak.
“Aku tidak butuh kata maafmu!” bentak Teresa marah. “Aku bisa saja membeli Macbook lagi dengan uangku sendiri! Tapi naskah yang ada di dalam sana, tidak bisa aku beli kembali!”
“Sí, aku sadari kesalahanku.”
Teresa berdecih. “Kenapa baru sekarang kau menyadari itu, hah?! Setelah kau merusak Macbook dan karirku! Apa kau puas sekarang?!”
Saat Chris hendak menjawab, tiba-tiba saja pintu kamarnya diketuk dari luar. Kemungkinan itu pelayan yang membawakan makanan untuk Teresa. Chris memejamkan matanya sambil menghela napas pelan. Dia berdiri kembali dan berjalan menuju pintu.
Chris menarik knop pintu untuk membukanya dan benar saja, seorang pelayan terlihat membawa nampan berisi spanakopita berikut dengan minuman khas Yunani, segelas ouzo.
“Kýrie, ini makanan untuk Signorina Teresa,” ucap pelayan tersebut.
Chris menoleh ke belakang untuk menatap Teresa. “Kau makan dulu ya. Setelah ini, kita akan mencari Macbook baru.”
“Non voglio,” gumam Teresa dengan bahasa Italia.
Chris mendengar itu. Dia pun menghela napas pelan sambil mengambil nampan tersebut dari tangan pelayannya. “Biar aku saja yang memberikannya. Pergilah,” ujarnya.
“Málista, Kýrie.”