Bab 7

1047 Kata
Selamat membaca ^^ Tiga jam berikutnya, Manolis kembali mengeluarkan ponsel Teresa dan menekan nomor ponsel Enzo untuk menghubunginya. Dia memberikan ponsel tersebut kepada seorang wanita yang sudah berpengalaman dalam menirukan suara siapa saja, termasuk Teresa. Kebetulan sekali dia pandai berbahasa Italia sehingga membuat rencana mereka untuk mengelabuhi Enzo berjalan lancar. “Pronto!” “Nieve?” sapa wanita itu untuk memastikan seseorang di seberang sana benar-benar Nieve. “Oh mia Dio, Teresa!” desah Nieve. Terdengar suara tangis di sana, “Kau ada dimana sekarang?” “Aku sudah ada di Milan. Maaf karena mendadak pulang. Ada sesuatu yang harus aku urus,” jawab wanita tersebut. “Ya, tidak apa-apa. Lain kali bicara dulu padaku. Jangan mendadak seperti ini, mengerti?!” Wanita yang menyamar sebagai Teresa inipun tertawa sehingga membuat Nieve ikut tertawa sambil sesekali terisak karena menangis. “Iya, maafkan aku sudah membuatmu cemas.” “Hmm.” Manolis langsung mematikan sambungan teleponnya. Dia menginstruksikan kepada salah satu rekannya untuk memberikan wanita itu uang sebagai hadiah dari kerjasamanya. “Itu bayaranmu,” ucap Manolis. “Terima kasih,” jawabnya sambil mengambil uang tersebut dan pergi meninggalkan mansion. Sedangkan di kamar, Chris terlihat berbaring di atas kasurnya. Di sampingnya terdapat seorang wanita yang terlelap akibat pingsan sejak beberapa jam lalu. Chris tidak pernah sedetik pun berpaling dari wajah cantik Teresa. Dia terus memperhatikannya, bahkan sesekali jemarinya mengelus lembut permukaan wajah Teresa seolah sangat mengaguminya. Mungkin wanita itu kelelahan sehingga belum sadarkan diri meskipun obat biusnya sudah berhenti bereaksi. Tidak jadi masalah bagi Chris meskipun wanita itu tertidur sampai pagi. Chris akan mengambil kesempatan itu untuk terus menatap wajah cantik wanita yang di sampingnya ini. Chris melakukan penculikan ini dalam keadaan yang sangat sadar. Bahkan dia juga sadar bahwa ini akan berdampak buruk bagi bisnisnya dengan Enzo. Chris akan memaklumi jika suatu saat nanti, Enzo akan menyerangnya karena masalah ini. Namun sebisa mungkin Chris akan menyembunyikan Teresa untuk menghindari serangan Enzo nantinya. Sesaat Chris tertegun mendengar suara ketukan pintu di kamarnya. Dia pun turun dari kasur dan berjalan ke arah pintu. Beberapa kancing kemeja yang terlepas, menampakan tubuh atletis dari seorang Chris. Tak jauh berbeda dengan Enzo, di d**a pria itu terdapat sebuah tato bergambar burung elang dan ada bekas luka tembak di bagian perutnya bawahnya. Di bagian lengan kirinya juga ada bekas luka tembakan. Tangan kanan Chris menarik knop pintu untuk membukanya. Dia melihat Manolis yang menundukkan kepalanya. Chris pun membuka lebar pintu tersebut. “Giatí?” tanya Chris. “Saya sudah melakukan voice pishing dengan Enzo, Kýrie Chris,” ujar Manolis melaporkan bahwa tugasnya sudah dilaksanakan. “Bagus. Apa dia tidak merasa curiga?” tanya Chris. “Sepertinya tidak, Kýrie.” “Baiklah. Kau boleh istirahat. Karena mulai besok, kita akan kerepotan,” ucap Chris sembari menoleh ke arah belakang, dimana Teresa masih terlelap. “Nai, Kýrie.” Chris menutup pintu kamarnya setelah Manolis pamit pergi. Sepanjang langkahnya mendekat ke arah ranjang, Chris sibuk melepas kemejanya dan meletakkannya di atas sofa. Dirinya kembali berbaring di atas ranjang menghadap wanita itu dengan bertelanjang d**a, memamerkan otot-otot tubuhnya yang atletis sehingga mampu membuat pria lain merasa iri. Tangan kirinya menyanggah kepala, sedangkan tangan kanannya berada di atas tubuh Teresa. Jemari tangan kanannya sibuk mengelus permukaan bibir Teresa. Dia ingin merasakan kelembutan bibir itu saat berciuman dengannya. Melihat wanita itu membuat dirinya merasa bersyukur. Kehangatan menjalar begitu saja di hatinya saat melihat Teresa untuk pertama kalinya saat itu. Hati Chris yang semula dingin seakan mencair begitu saja hanya dengan menyentuh wajahnya. “Aku harap setelah bangun nanti, kau tidak mencakar wajahku, Signorina Teresa,” gumam Chris lalu tertidur di samping Teresa. *** Tepat pada pukul dua pagi, Teresa terbangun dari tidurnya. Kedua matanya terbuka perlahan dan mengernyit di detik berikutnya. Rasa pusing masih ia rasakan sedikit. Dirinya mencoba untuk bangun dan duduk bersandar di punggung tempat tidur. Kini, iris matanya memperhatikan bangunan kamar yang ia tempati saat ini. “Dimana ini?” gumam Teresa dengan suara serak khas bangun tidur. Teresa masih belum menyadari kehadiran Chris di samping kanannya yang sedang mendengkur halus. Sampai akhirnya tatapan Teresa tertuju pada sepasang kaki pria yang berada di atas kasur. Kedua mata mulai melihat ke sampingnya dan membelalak. Mulutnya menganga karena terkejut. Seketika ia berteriak dan melompat dari ranjang sambil menarik selimut yang menutupi tubuhnya, juga tubuh atletis Chris. Selimut itu Teresa letakkan di depan d**a. Chris yang mendengar teriakan Teresa pun seketika tersadar dari tidurnya. Padahal Chris baru tidur selama dua jam. Dengan mata yang sedikit tertutup, Chris tersenyum pada Teresa. “Ciao, Signorina Teresa! Kau sudah bangun rupanya,” ucap Chris sambil menguap karena masih mengantuk. “Siapa kau?! Kenapa aku bisa ada di sini bersamamu?! Apa yang sudah kau lakukan padaku, hah?!” Teresa langsung mencecar Chris dengan tiga pertanyaan sekaligus. Dia masih tetap menutupi dadanya agar tidak dilihat oleh Chris. Padahal Teresa masih mengenakan pakaian yang sama dengan sebelumnya. Chris juga tidak melakukan apapun padanya. Hanya sekedar membelai wajah dan bibirnya saja. Tidak lebih. Mendengar pertanyaan seperti itu, Chris menanggapi dengan senyum manisnya. Dia terpaksa menyadarkan dirinya sejenak untuk menjelaskan kesalahpahaman ini. Chris tahu wanita itu sedang menuduhnya melalukan sesuatu yang aneh padanya. “Tenanglah, Signorina,” ucap Chris. “Duduklah di sini. Aku akan menjelaskannya padamu,” sambungnya sambil menepuk tempat di samping kirinya yang kosong. “Tidak!” Chris menghela napas pelan. “Kemarilah. Aku janji tidak akan melakukan apapun padamu. Percayalah.” “Untuk apa aku percaya pada orang asing sepertimu?! Kau pasti memiliki niat jahat padaku, kan?! Katakan, apa maumu?!” seru Teresa yang sepertinya sangat membenci Chris. “Oke, baiklah. Aku tidak akan memaksa,” ujar Chris sambil bangkit berdiri dan mengambil kemeja yang tadi ia letakkan di atas sofa. Pria itu memakai kembali kemejanya sambil tetap memasang senyuman manis diiringi tatapan teduhnya pada Teresa. “Kenapa kau melihatku?!” tanya Teresa dengan nada tidak senang. Lagi-lagi pria ini tersenyum meskipun sikap Teresa buruk padanya. Dia berjalan menghampiri Teresa yang justru memilih mundur ke belakang. “Ini sudah malam. Lebih baik kau lanjutkan tidurmu,” ucap Chris sambil berjalan menjauh dari Teresa. Namun setelah dua kali melangkah, Chris kembali menoleh ke belakang. “Aku tidur di luar. Jika perlu sesuatu, keluarlah dan bangunkan aku. Selamat malam, Signorina,” sambung Chris dan keluar dari kamarnya sendiri. Teresa sedikit tertegun melihat sikap Chris yang sama sekali tidak marah dan tidak tersinggung padanya. Kedua mata Teresa mengerjap seketika. Dia sedikit berlari ke arah pintu lalu menguncinya. Dirinya takut pria itu akan kembali masuk dan melakukan hal yang tidak dia inginkan nantinya. Setelah sedikit tenang, Teresa yang memang masih mengantuk pun kembali berbaring di atas kasur dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga ke d**a. Kedua matanya terpejam dan mulai masuk ke alam bawah sadarnya. Sedangkan Chris tidur di sofa yang berada dekat dengan kamarnya. Chris juga sadar bahwa dirinya tidak bisa memaksa Teresa untuk mendengarkannya, karena dia salah dalam hal ini. “Maafkan aku, Signorina,” ucap Chris tersenyum sambil memejamkan kedua matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN