Halo semua. Kali ini aku tepatin janji update 5 Bab ya. Selamat membaca ^^
Teresa melirik ke arah jam yang menunjuk pada angka sembilan malam. Tak terasa sudah satu jam ia menghabiskan waktu berkutat di depan layar Macbook. Teresa pun bangkit berdiri menuju dapur untuk mengambil minum karena merasa haus.
Tangan kanannya meletakkan sebuah gelas kosong di atas meja lalu membuka lemari es. Dia meraih salah satu minuman jus botol yang ada di lemari es tersebut, kemudian menuangkannya ke dalam gelas kosong tadi. Setelah gelasnya terisi penuh, Teresa meletakkan kembali botol jus tersebut ke dalam lemari es. Dia pun meminum jus tersebut sampai habis.
“Hah,” Teresa mendesah pelan saat meletakkan kembali gelas kosong tersebut di atas meja.
Dia pun kembali menuju ruang tengah. Teresa menutup layar Macbook tersebut dan ingin melanjutkan pekerjaannya di luar. Sepertinya akan sangat menarik jika menghabiskan waktu melihat pemandangan malam di desa romantis ini sambil bekerja. Teresa meraih ponsel dan Macbooknya untuk dibawa keluar villa.
Kini, langkah Teresa terhenti karena ponsel yang dibawanya tengah berdering saat dirinya baru tiba di setengah luas halaman depan. Ia menatap layar ponsel tersebut sembari menghela napas kasar setelah melihay siapa pemanggilnya. Dengan terpaksa, dia menggeser ikon hijau untuk menerima panggilan tersebut lalu menempelkan ponselnya ke telinga.
“Pronto,” sapa Teresa. Dia mengapit Macbook-nya karena hendak membuka gerbang kecil yang terbuat dari kayu bercat biru. Tak lupa ia menutupnya kembali saat hendak berjalan menuju jalanan depan villa.
Teresa memutar bola matanya saat mendengar editor tersebut mengoceh di telepon. “Iya. Dua jam lagi aku akan mengirimkannya lewat email,” jawab Teresa.
Langkahnya mengalun pelan di jalan yang tidak terlalu lebar dan hanya cukup dilalui oleh satu mobil.
“Iya. Untuk kontrak filmnya kita bicarakan nanti saja setelah aku pulang,” ucap Teresa. Dia menghentikan langkahnya saat mendengar nada peringatan sambungan teleponnya sudah terputus.
“Cazo!” Teresa mengumpat karena merasa kesal dengan sikap editornya yang selalu tidak sabaran.
Disaat yang bersamaan, sebuah mobil sedan hitam melintas dan berhenti di sampingnya secara tiba-tiba. Teresa terkejut melihat mobil tersebut ditambah lagi ada dua orang pria asing yang keluar dari mobil sambil mendekati dirinya.
“Siapa kalian?” tanya Teresa gemetar.
“Maaf, Nona.”
Tanpa basa-basi, Vincenzo langsung menempelkan saputangan yang sudah terkontaminasi oleh cairan Chloroform itu ke hidung dan mulut Teresa. Dan sedetik kemudian, Teresa merasakan matanya begitu berat dan tubuhnya juga sangat lemas. Macbook dan ponsel yang ia bawa pun ikut terjatuh ke jalan ketika Teresa sudah tak sadarkan diri di pelukan Vincenzo.
Vincenzo segera membawa masuk tubuh Teresa ke dalam mobil, sementara Manolis memungut kedua gadget tersebut dan bergegas masuk ke mobil agar tidak ada yang melihat mereka.
Mobil yang dikendarai oleh Fiorenzo pun berjalan meninggalkan desa tersebut menuju Pyrgos, tempat tinggal Chris. Selama diperjalanan, Chris tak berhenti memandangi wanita yang kini tertidur pulas di samping kirinya. Sedangkan Vincenzo berada tepat di sebelah Teresa.
Tanpa sadar, Chris membelai lembut wajah cantik Teresa sambil tersenyum bahagia. Manolis yang melihat dari kaca spion dalam mobil hanya bisa menggelengkan kepala sambil menghela napas kasar. Dia tidak tahu harus setuju atau tidak dengan ide gila ini. Mungkinkah dirinya juga harus menyembunyikan ini dari Orestes? Sebab Orestes selalu menanyakan banyak hal tentang sikap dan perilaku Chris padanya. Bagaimana jika Orestes tahu soal ini?
“Kau memang sangat cantik, Teresa. Kau juga sangat mirip dengannya,” gumam Chris yang didengar oleh tiga orang lainnya. “Maafkan aku yang telah menculikmu. Aku melakukan ini karena kesalahanmu. Ya, kesalahanmu yang sudah menjadi jelmaan dari mantan kekasihku. Padahal selama ini, aku selalu berusaha untuk melupakannya. Tapi karenamu, obsesiku yang dulu hilang, kini kembali lagi,” sambung Chris.
“Kýrie,” panggilan Vincenzo membuat Chris tertegun.
Chris berdeham untuk menetralkan rasa malunya karena sudah berkata seperti itu di depan Manolis, Vincenzo dan Fiorenzo. Tangan kanannya sedikit melonggarkan dasi yang dikenakannya.
“Ada apa?” tanya Chris berusaha bersikap santai.
Vincenzo juga sedang berusaha menahan tawanya agar Chris tidak marah padanya. “Soal pembunuhan itu….”
“Kita bahas nanti saja. Jangan sekarang,” sela Chris.
“Málista, Kýrie,” ucap Vincenzo.
Chris kembali berdeham. “Dan satu lagi, jangan dengarkan ucapanku tadi. Itu terucap secara tidak sengaja,” ujarnya tanpa melihat Vincenzo ataupun yang lainnya. Ia fokus menatap keluar jendela mobil yang masih melaju dalam kecepatan sedang.
Manolis hanya tersenyum kecut, sedangkan Vincenzo dan Fiorenzo masing-masing sedang menahan rasa gelinya saat melihat tingkah tuannya seperti itu jika menyangkut masalah cinta.
“Astaga! Ini semua karena kau, Teresa. Kau yang membuatku hampir gila. Kenapa kau begitu mirip dengannya?” batin Chris kesal sekaligus malu.
***
Setengah jam kemudian, mereka tiba di depan mansion Chris. Manolis terlebih dulu turun untuk membukakan pintu untuk Chris. Setelah Chris turun, Vincenzo mencoba untuk menggendong tubuh Teresa. Namun Chris menahannya karena dirinya merasa cemburu jika tubuh itu disentuh pria lain, kecuali tadi saat penculikan terjadi.
“Biar aku saja yang menggendongnya. Kau urus yang lain,” ucap Chris sedikit memberi tekanan pada setiap kata-katanya. Menandakan bahwa dirinya sedang marah pada Vincenzo.
Vincenzo hanya menunduk dan beranjak pergi dari hadapan Chris untuk kembali mencari pelaku yang membunuh Korinna. Sementara Manolis mengikuti tuannya di belakang menuju kamar.
Saat Chris membaringkan tubuh Teresa di atas kasurnya, Manolis pun berkata, “Kýrie, saya rasa ini bukanlah ide yang bagus. Kenapa Anda tidak bicara langsung saja pada Enzo untuk berkenalan dengan wanita ini. Jika seperti ini, mungkin Enzo dan….”
“Arketá, Manolis!” bentak Chris.
Seketika Manolis menundukkan pandangannya menatap ke arah sepatu hitam milik Chris. Dia sadar, ucapannya tadi mungkin sudah sangat menyinggung seorang pria yang tengah terobsesi pada wanita bernama Teresa itu. Harusnya tadi ia tidak mengatakan itu.
“Syngnómi, Kýrie,” ucap Manolis.
Chris mendekat ke arah Manolis dengan tatapan marah. “Sudah kukatakan untuk tidak banyak bicara, bukan? Lakukan saja apa yang kuperintahkan. Kau sudah tahu bagaimana sifatku. Jadi, jangan coba-coba ceramah di depanku,” ucapnya kesal.
Manolis hanya mengangguk menanggapi kemarahan Chris. Dirinya mengaku salah karena terlalu ikut campur dalam urusan pribadi tuannya.
“Sekarang kau keluar. Kirimkan pesan pada Enzo bahwa Teresa sudah kembali ke Milan sebab urusan lain. Tiga jam berikutnya, lakukan voice pishing untuk menghubungi dia agar semuanya benar-benar terlihat real. Buat seolah Teresa baru tiba di Milan. Jangan sampai ada kesalahan,” kata Chris memerintahkan.
“Málista, Kýrie.”
Manolis melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar pribadi Chris tanpa rasa dendam sedikitpun terhadap pria itu. Dia mengerti kondisi tuannya yang tiga tahun lalu sempat mengalami depresi dan hampir bunuh diri karena kematian Korinna.
“Semoga suatu saat nanti, Anda akan bahagia bersama wanita pilihan Anda ini, Kýrie Chris,” ucap Manolis tulus mendoakan Chris dari arah luar pintu kamar tersebut.
Manolis mengeluarkan ponsel Teresa dari saku atas jasnya lalu mengetikkan sebuah pesan singkat yang berisi, “Enzo, tolong katakan pada Nieve, aku sudah berangkat ke Milan untuk mengurus novelku. Sampaikan permintaan maafku padanya.”
Selanjutnya Manolis menekan ikon send di sana lalu menyimpan kembali ponsel tersebut. Ia menemui salah satu anggota Chris yang lain untuk mencarikan seseorang yang bisa menirukan suara Teresa.