bc

MEMBUNGKAM NYINYIRAN MERTUA DAN TETANGGA DENGAN KESUKSESAN

book_age18+
1.0K
IKUTI
5.8K
BACA
stepfather
mystery
like
intro-logo
Uraian

Outline

Mira adalah seorang istri dari pria yang bernama Romi. Ia berasal dari kampung, ia juga seorang menantu dari mertua yang bernama Bu Ratmi. Pernikahan Mira dan Romi tidak pernah direstui oleh Bu Ratmi, sebab menurutnya Mira bukanlah perempuan yang cocok untuk Romi anaknya.

Karena menurutnya, Mira ini hanya perempuan kampung, yang tidak berpendidikan dan tidak pandai mencari uang, sehingga dia selalu menyepelekan Mira. Dulu sebelum Romi menikahi Mira, Bu Ratmi berniat untuk menjodohkan Romi dengan seorang pegawai Bank anak temannya.

Tetapi dengan tegas Romi menolaknya, sebab cinta Romi hanya untuk Mira. Bahkan Romi menikah pun tanpa di hadiri oleh ibunya, sebab Ibunya itu benar-benar tidak setuju dengan pernikahannya itu. Selain Bu Ratmi, ada juga tetangga yang selalu julid terhadap Mira, ia bernama Marni.

Ia selalu kepo terhadap kehidupan Mira, ia bahkan tidak segan membongkar aib Mira di depan Ibu-ibu kerongkongannya. Nanti juga tidak segan memfitnah Mira, supaya Mira hina dimata orang-orang. Ternyata Marni melakukan semua itu karena dia benci terhadap Mira. Ia dulunya menyukai Romi, tetapi tidak pernah direspon oleh Romi.

Makanya Marni merasa sakit hati, saat Romi malah memilih Mira sebagai pendampingnya. Marni akhirnya menjadi sekutu Bu Ratmi, mereka berdua dengan begitu tega selalu membuat Mira malu dan sakit hati. Bu Ratmi selalu saja menghina Mira mengatakan sebagai perempuan kampung yang selalu menyusahkan anaknya.

Padahal jika tanpa bantuan Mira, Romi belum tentu bisa baik-baik saja. Karena pendapatan Romi tidak tentu, sebab dia hanya seorang sopir angkot. Tanpa sepengetahuan Bu Ratmi, Mira sebenarnya seorang menantu yang kaya raya. Ia tidak mengetahuinya, sebab dulu saat Mira dan Romi menikah ia tidak datang. Jadi tidak tahu bagaimana keadaan besannya itu.

Keluarga Mira memang terlihat biasa, tetapi harta kekayaan berupa sawah dan kebunnya hektaran. Namun, Mira dan orang tuanya selalu bersikap biasa, ia tidak pernah menyombongkan diri. Selain itu Mura juga seorang penulis novel online, serta berjualan pakaian online.

Tetapi pekerjaannya ini tidak seorang pun tahu, termasuk Romi suaminya. Karena Mira sengaja tidak mau terlihat pamer. Dari usahanya itu, ia selalu meraup rupiah yang lumayan besar, sehingga bisa menutupi kekurang biaya hidup sehari-hari.

Bahkan ia bisa membeli rumah dari hasil tabungannya itu. Ia juga bisa membuat toko kue, yang kilonya adalah Lusi temannya.

Sedangkan Bu Ratmi dan Marni setiap hari, hanya mengumbar kejelekan Mira. Karena ia pikir semua itu bukanlah milik Mira, tetapi hanya sekedar titipan orang, seperti apa yang Mira ucapkan selama ini.

Mira tidak peduli dengan cemoohan Mira dan Bu Ratmi, tetapi ia tidak pernah meladeninya. Mira malah terus-menerus berkarya dan terus mengumpulkan uang untuk mendapatkan apa yang dia inginkan selama ini.

Bu Ratmi tadinya tidak percaya, jika menantunya ini bisa mencari uang dengan cara seperti itu. Hingga mendapat apa yang selama ini ia kira milik orang. Karena menurutnya, Mira tidak pernah terlihat bekerja, malah cuma leha-leha di rumah, sambil bermain handphone. Bu Ratmi bahkan selalu membandingkan Mira, dengan menantu lainnya, yang bekerja di kantoran.

Tetapi ternyata, Mira kini malah bisa lebih sukses, dari menantu yang dibanggakannya itu. Menantu yang dibanggakannya, malah tidak peduli dengan kehidupan Bu Ratmi. Pada saat ia terkena struk pun tidak ada anak dan menantunya yang datang, walau hanya untuk sekedar menjenguk.

Tetapi setiap harinya, hanya ada Mira dan Romi saja, yang selalu merawatnya. Dan dari sana Bu Ratmi sadar, kalau Mira adalah menantunya yang tulus dan baik hati. Ia juga rela mengorbankan harta bendanya untuk pengobatan dirinya yang mahal.

Mira kini makin sayang kepada Bu Ratmi, sebab mertuanya ini kini begitu baik kepadanya. Rumah tangga Romi dan Mira pun tetap mulus, mereka malah semakin harmonis, walau banyak sekali aral melintang di dalam kehidupannya itu.

Marni yang selalu jahat mendapat karma atas sebatang selalu diperbuatnya. Ia yang selalu berbuat jahat kepada Mira, bahkan berniat merebut Romi harus meninggal secara tragis karena sebuah kecelakaan yang dialaminya. Tetapi ia sempat meminta maaf dulu kepada Mira, sebelum akhirnya ia meninggal.

Kedua kakak ipar, yang selalu menghinanya pun kini menjadi orang susah, mereka bahkan ditinggalkan para istrinya. Mereka juga link malah bergantung kepada Mira. Mereka pun mengakui kesalahan mereka dan meminta maaf kepada adik iparnya itu.

Mira pun kini hidup bahagia, aman dan damai. Ia bahkan selalu menyesedekahkan rezeki yang dimilikinya, sehingga kehidupannya makin makmur, aman, sentosa. Orang-orang yang dekat dengannya pun ikut bahagia, dengan apa yang dimiliki Mira. Karena mereka selalu kecipratan rezekinya.

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1
"Mbak, kenapa belanjanya hampir setiap hari, menunya cuma itu-itu saja?" Marni, bertanya kepadaku saat sedang berbelanja ditulang sayur keliling. "Iya, Mar. Anak- anak yang meminta. Mereka ingin makan sayur bening bayam, sama tahu tempe ditepungin." Aku, menjawab pertanyaan Marni, yang masih memilih dan memilah sayuran. Entah, sayuran seperti apa yang sedang dia cari. Sebab, dari tadi kerjaannya hanya membolak balik dagangan saja. Aku yang baru datang saja sudah menemukan, sayuran apa yang aku mau. Tetapi, Marni belum ada satupun yang dipilihnya. "Bilang saja kalau Mbak itu nggak punya duit, nggak usah bawa nama anak-anak segala, Mbak." Marni berkata dengan nada menyepelekanku. "Iya bener tuh, Marni. Si Mira ini setiap hari memang kerjaannya cuma membeli sayuran murah. Bagaimana, anak-anaknya mau pintar dan badannya gemuk, coba! Dikasih makanannya saja seperti ini terus setiap hari. Mana tubuh Romi anak saya, semakin hari malah semakin kurus saja kelihatannya. Karena, dia mempunyai istri yang nggak bisa mengurus suami. Padahal, Romi yang telah bekerja banting tulang setiap hari. Eh, dikasih makannya, cuma sayur bening sama tempe tahu saja." Bu Ratmi, yang merupakan mertuaku panjang lebar, menceritakan tentang kejelekanku di depan Marni, serta Ibu-ibu yang sedang berbelanja. Bu Ratmi, bahkan tidak segan membicarakan aku di depan mukaku sendiri. Padahal, aku sengaja mengirit keuangan, sebab memang pendapatan Mas Romi, yang hanya sopir angkutan umum tidak menentu. Aku, hanya ingin menstabilkan ekonomi keluargaku. Supaya, saat Mas Romi mendapat penghasilan sedikit, bahkan tidak dapat sama sekali. Aku masih tetap bisa memberikan mereka makanan yang layak. Bahkan, setiap bulan anak-anak serta suamiku malah naik terus timbangannya, tidak seperti apa yang diucapkan Bu Ratmi barusan. "Iya ya, Bu Ratmi. Mira memang perhitungan banget, walaupun untuk keluarganya sendiri." Marni, menimpali ucapan mertuaku. "Makanya, dari awal Romi mengenalkan Ibu sama Mira. Ibu sudah tidak setuju, dengan hubungan mereka. Karena, Ibu dapat menilai perempuan seperti apa, Si Mira ini." Bu Ratmi melanjutkan ceritanya, ia bahkan mengungkit masa laluku bersama Mas Romi. "Terus kenapa Mbak Mira bisa menikah dengan Mas Romi, Bu? Kalau memang Ibu tidak merestui hubungan mereka, Apa Miranya hamil duluan ya, Bu? Sehingga Mas Romi sampai bersikeras menikahi Mira?" Marni terus bertanya kepada Ibu mertuaku, yang tangannya sedang memilih bawang merah. Marni terus saja mengorek informasi tentangku, kepada Bu Ratmi. Sepertinya, ia ingin tahu sedetail mungkin, tentang kehidupan rumah tanggaku dengan Mas Romi. Entah untuk apa, dia sampai berbuat seperti itu. Mungkin juga memang sifat dia, yang suka Kepo terhadap kehidupan orang lain. "Mira waktu menikah nggak sedang hamil sih, Marni. Tetapi mungkin saja si Mira ini memakai pelet. Sehingga, anakku Romi terus ngotot ingin menikahinya. Padahal waktu itu Ibu sudah ada calon, buat di kenalkan sama Romi. Ia, anak dari temanku, serta sudah bekerja menjadi karyawan Bank. Tidak seperti dia, yang hanya diam ongkang kaki di rumah sambil main handphone, serta bisanya hanya menghabiskan uang suami." Bu Ratmi, panjang lebar menjawab pertanyaan Marni, bahkan ia membawa-bawa tentang keinginannya untuk menjodohkan Mas Romi, dengan anak temannya itu. "Ya ampun kenapa Mas Romi malah memilihnya Mbak Mira ya, Bu! Padahal, kalau kalau Mas Romi memilih anak teman Bu Ratmi, pasti hidupnya tidak akan susah seperti sekarang. Karena, istrinya juga bekerja dan memiliki gaji yang tetap. Bahkan, Bu Ratmi juga bisa kebagian rezeki dari mereka. Tidak seperti menantu Ibu yang satu ini, yang ibu bilang tidak pernah memberi apapun kepada Ibu." Marni menimpali ucapan mertuaku, ia berbicara seakan peduli dengan kehidupan Mas Romi dan juga Ibunya. "Mang, jadi berapa semuanya, ditambah seperempat telor?" Aku bertanya, total harga belanjaanku.  Aku, ingin segera pergi, dari hadapan mertua, serta Marni yang sedang membicarakanku. Aku malas jika harus berlama-lama berada di sana, apalagi jika harus meladeni ucapan mereka berdua. Bisa-bisa, aku memiliki penyakit darah tinggi. Karena, aku harus terus-menerus mendengarkan kata-kata pedas dari mulut mereka. Ibu mertuaku, ternyata suka berbicara kepada orang lain, kalau aku tidak pernah memberikan apapun kepadanya. Padahal, walaupun aku dan Mas Romi tidak setiap bulan memberikan uang yang jumlahnya besar. Tetapi, setiap kali ia meminta uang untuk kebutuhan hidupnya, seperti buat kondangan, bayar listrik, pulsa, serta make upnya. Aku selalu memberikannya, selagi aku ada. Tetapi, ternyata Bu Ratmi tidak merasa kalau aku telah membantunya. Mendengar ucapan mertuaku dan juga Marni, sebagian Ibu-ibu juga ikut membicarakanku. Bahkan mereka terus saja saling lirik melihat ke arahku. "Semuanya, jadi delapan belas ribu, Mbak Mira." Mang Adi menjawab pertanyaanku, sambil menyerahkan kresek yang berisi belanjaanku "Ini, Mang uangnya," ucapku, sambil memberikan satu lembar uang dua puluh ribu rupiah kepada Mang Adi. "Iya, Mbak. Terima kasih ya, Mbak Mira. Ini kembaliannya," sahut Mang Adi, sambil menyodorkan uang kembalian untukku. Aku pun segera menerima uang kembalian dari Mang Adi dan akan segera pergi dari tempat dagangnya. Namun, baru saja aku mau pamit sama Ibu-ibu yang sedang berbelanja. Marni, terus saja memancing emosiku dengan kata-kata pedasnya. "Ya ampun masih ada saja, ya. Di jaman sekarang, belanja cuma habis dua puluh ribu, itu pun masih ada kembaliannya. Ngirit amat, Bu! Awas, hati-hati! Biasanya penyakit cepet datang, kalau sama orang yang suka pelit buat isi perutnya." Marni berkata, dengan suaranya yang sedikit dikeraskan.  "Nggak apa-apa, Mbak Marni. Biarpun Mbak Mira belanjanya sedikit, tetapi ia langsung bayar, daripada belanja banyak terapi ujung-ujungnya ngutang. Bisa tekor dong saya, kalau seperti itu. Nanti, yang ada saya nggak dapat uang buat belanja lagi," sahut Mang Adi, sambil membereskan sayuran yang hanya di acak-acak oleh Mirna "Ibu-ibu saya permisi pulang duluan, ya! Saya, mau segera memasak biar anakku segera makan." Aku pamit kepada semua orang, yang masih setia mengerumuni gerobaknya Mang Adi. "Iya, silahkan," sahut Ibu-ibu, terkecuali Bu Ratmi dan Marni yang tidak menjawab ucapanku. Aku pun, segera berbalik dari tempat berkumpulnya Ibu-ibu, yang sedang berbelanja sayuran. Padahal, sebenarnya aku sudah memasak nasi goreng, sama telor ceplok buat sarapan keluargaku. Aku sudah terbiasa bangun pagi, buat meladeni suami serta anakku. Jadi saat aku berbelanja sayuran, sarapan untuk keluargaku sudah siap tersedia. Aku memang sengaja bebicara seperti itu, supaya aku bisa terlepas dari gunjingan Marni dan Bu Ratmi. Namun, baru saja dua langkah aku mengayunkan kaki. Marni berbicara lagi, dengan suara yang lebih lantang. Mungkin, tujuannya supaya aku dapat mendengar ucapannya itu.  "Alah, mau masak sayur bayam sama goreng tahu saja, berlagak sibuk! Seperti mau masak rendang daging saja, yang membutuhkan waktu lama," ujar Marni. Bersambung ...

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.2K
bc

Kali kedua

read
219.7K
bc

TERNODA

read
200.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.7K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
19.5K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.6K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
79.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook