Anwar...Anwar...tolong saya. Di kamar saya ada Tikus. Saya enggak berani masuk kamar sebelum kamu tangkap Tikusnya!"
"Baik, sebentar Nyonya!"
Suamiku langsung turun dari ranjang kami.
"Sayang, tunggu bentar, ya. Aku mau bantuin Nyonya Cindy tangkep Tikus!"
"Aku ikut ya, Mas." Aku pun reflek ikut turun dari ranjang.
"Enggak usah. Ini udah malam. Sebaiknya kamu istirahat saja!"
"Tapi, Mas--"
"Kamu ikutpun tidak bisa membantu. Kamu kan takut banget sama Tikus. Nanti yang ada malah tambah nyusahin aku!"
Entah kenapa aku merasa tak rela membiarkan suamiku pergi ke kamar Nyonya Cindy meski hanya untuk menangkap seekor Tikus. Bukan tanpa alasan aku cemburu. Malam ini kulihat Nyonya Cindy mengenakan baju tidur sangat seksi. Wajahnya juga terlihat sangat cantik dengan make up tipisnya. Semua perempuan pasti akan merasakan ketakutan yang sama sepertiku jika dihadapkan situasi seperti ini.
"Kamu istirahat duluan, ya. Ini udah malam. Kalau aku belum kembali ke kamar ini berarti aku belum berhasil menangkap Tikusnya!"
Suamiku pergi setelah bicara. Nyonya Cindy berjalan tepat di sampingnya. Mereka berdua terlihat begitu akrab. Jujur hal ini membuatku tak nyaman saat melihatnya.
Setelah kepergian suamiku aku tak bisa tidur. Ingin sekali menyusul ke lantai atas tapi takut dimarahi.
Jam menunjukan pukul Dua belas malam. Ini berarti sudah satu jam lebih suamiku berada di kamar Nyonya Cindy. Sebenarnya apa yang tengah dia lakukan di sana. Mengapa menangkap seekor Tikus saja harus menghabiskan waktu begitu lama. Haruskah aku nekad naik ke atas untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi?
Pusing! Pikiranku kacau karena begitu takut mengambil resiko.
"Kamu lagi ngapain bengong di depan pintu kamarmu malam-malam begini, Nur?" tanya Pak Joko. Dia orang yang bekerja menjadi tukang kebun di rumah ini.
"Saya lagi nungguin suami saya, Pak. Dia lama banget dari tadi di kamar Nyonya."
"Di kamar Nyonya?"
"Iya, Pak. Tadi Nyonya minta tolong buat tangkep Tikus. Tapi sudah sejam lebih belum kembali juga!" curhatku.
"Kalau kamu khawatir, kenapa enggak disamperin ke atas langsung saja?"
"Saya takut dimarahi, Pak." jawabku jujur.
"Enggak ada yang perlu ditakutkan, Nur. Kamu kalau mau ngecek ke atas ya ngecek aja." ucap Pak Joko. Sepertinya apa yang dia katakan benar, tak ada salahnya jika aku langsung mengecek ke lantai atas.
Aku berjalan pelan-pelan saat menaiki anak tangga. Takut membuat suara berisik dan diketahui keduanya.
Tiba di lantai atas aku dikejutkan dengan tertutupnya pintu kamar Nyonya Cindy. Hatiku merasa makin tak karuan saat melihatnya. Benarkah mereka tak melakukan apapun di dalam dengan keadaan pintu tertutup rapat seperti ini?
"Nyonya, kita udahan dulu, ya. Saya takut Nur akan curiga kalau saya terlalu lama ada di sini,"
Aku yang tadinya ingin mengetuk pintu kamar Nyonya Cindy mengurungkan niatku setelah mendengar suara suamiku dari dalam kamar. Maksudnya apa dia bicara seperti itu?
"Apa yang kamu takutkan dari istri jelekmu itu sih, Anwar. Kita bersenang-senang baru sebentar. Aku sama sekali belum puas. Kita lanjutin lagi, ya. Pleace!"
Kedua tanganku reflek mengepal. Jadi Nyonya Cindy menyuruh suamiku ke kamarnya bukan untuk menangkap Tikus melainkan untuk meminta suamiku menikmati tubuhnya. Sekesepian itukah Nyonya Cindy hingga menggoda suami pembantunya agar bisa memuaskannya. Dia juga seorang istri, apakah sedikitpun dia tak merasa berdosa pada suaminya yang selama ini baik padanya.
"Saya tak takut sama dia, Nyonya. Saya bahkan tak peduli jika akhirnya dia minta cerai sama saya. Yang saya takutkan justru nasib Nyonya setelah Nur tahu. Istri saya pasti akan melaporkan hubungan kita sama Tuan Gibran. Saya tidak mau Nyonya mendapatkan masalah karena ini!"
Gila, suamiku benar-benar telah dibutakan oleh cinta. Apakah saat dia mengucapkan kata-kata barusan dia tak ingat kalau aku sedang mengandung anaknya. Jika dia sama sekali tak mempedulikan perasaanku setidaknya pikirkan nasib calon anaknya yang ada dalam rahimku bukan malah mengkhawatirkan nasib selingkuhannya yang bisa membuangnya kapan saja jika sudah merasa bosan.
Nyonya Cindy terdengar tertawa, entah apa yang dia tertawakan. Aku terus menguping pembicaraan mereka di balik pintu.
"Kamu pikir aku bodoh. Sebelum wanita kampungan itu mengadu, aku akan lebih dulu menyingkirkan dia jauh-jauh dari hidup kita." ucap wanita jahat itu setelah tertawa. Owh, jadi ini rencana liciknya. Kalau begitu kita lihat siapa yang akan hancur. Demi anak yang ada dalam kandunganku aku bersumpah, aku akan menghancurkan hidup dua orang jahat itu dengan caraku. Tunggu Tuan Gibran pulang nanti aku baru membongkar hubungan mereka dengan caraku. Untuk sekarang, pura-pura tak tahu hubungan mereka menurutku lebih baik.
"Kalau Nyonya yakin semua aman, saya baru bisa hidup tenang,"
Mimpi! Suamiku ingin hidup tenang setelah mengkhianatiku? Dia pikir karena selama ini aku istri yang penurut dan pendiam itu membuatnya tak perlu takut padaku. Dia salah, aku memang penurut dan pendiam tapi itu bukan berarti aku lemah dan bodoh. Baktiku pada suami tak diriku aku pikir cukup sampai disini saja.
"Jadi gimana, sayang. Kamu mau lanjut lagi, kan?" mohon Nyonya Cindy dengan suara manjanya. Aku benar-benar jijik mendengarnya. Serendah itukah dia sampai-sampai dia mau mengemis sentuhan pada sopirnya yang sudah beristri. Sayang sekali aku tak membawa ponsel jadi aku tak bisa merekam percakapan mereka untuk kuberikan pada Tuan Gibran.
"Ya, tentulah Nyonya. Siapa sih yang nolak bersenang-senang dengan wanita secantik Nyonya!"
"Benarkah aku cantik? Umurku jika dibanding istrimu beda sepuluh tahun, loh."
Ya, Nyonya Cindy memang sangat cantik. Meski umurnya sepuluh tahun lebih tua dariku tapi dia jauh terlihat lebih cantik. Dia menghabiskan banyak uang untuk merawat wajah dan tubuhnya. Bagaimana mungkin seorang pembantu dengan gaji pas-pasan sepertiku bisa menandingi kecantikannya.
"Meski umur Nyonya jauh lebih tua dari istri saya tapi wajah Nyonya terlihat jauh lebih muda darinya. Istri saya masih 22 tahun, tapi karena tak perawatan dia terlihat seperti nenek tua. Saya bahkan mulai malas menyentuhnya karena selain tergila-gila dengan kecantikan Nyonya, saya juga ketagihan dengan setiap permainan ranjang panas Nyonya."
Dasar lelaki biad*b, jadi ini bukan pertama kalinya kalian melakukannya. Bodoh sekali aku yang selama ini tak tahu apa-apa. Tol*l sekali aku yang selalu percaya begitu saja alasanmu tak pulang ke rumah karena mengantarkan Nyonyamu ke luar kota. Tak kusangka kalian berdua setega ini mempermainkan perasaanku.
"Memangnya seburuk apa istrimu saat di atas ranjang sampai buat kamu malas menyentuhnya?" tanya Nyonya Cindy. Meski menyakitkan bodohnya aku rela berdiri menahan sakit demi mendengar jawaban yang keluar dari mulut suamiku.
"Dia seperti patung yang hanya diam dan pasrah menunggu sentuhan lawannya."
Nyonya Cindy tertawa keras sekali. Mungkin dia merasa senang dan puas dengan jawaban suamiku yang terang-terangan menghinaku.