"Sayang, kamu sudah tidur?"
Sayang? Masih bisa lelaki jahat itu menyebutku dengan panggilan 'sayang' tanpa rasa bersalah sedikitpun. Tidakkah dia ingat tangan yang tengah menyentuhku saat ini baru saja dia gunakan untuk menyentuh tubuh wanita lain. Kalau bukan karena ingin menyembunyikan wajah sembabku, aku sudah membuka mata dan mendorong tubuhnya agar menjauh dari tubuhku. Semua sentuhannya sekarang terasa begitu menjijikan.
"Tidur yang nyenyak ya, sayang. I Love you...!"
Tak mendapatkan respon sama sekali dariku, suamiku pikir aku benar-benar sedang tidur pulas. Dia kemudian mematikan lampu dan berbaring tepat di sampingku. Semoga aku bisa bersabar dan menahan emosiku hingga rencanaku menghancurkan hidup suamiku dan selingkuhannya berhasil. Mereka harus membayar setiap tetes airmata yang ku keluarkan karena pengkhianatan mereka.
****
"Nur, hari ini tolong buatin aku empek-empek, ya. Aku lagi pengin banget makan soalnya!" ucap Nyonya Cindy saat aku tengah sibuk menjemur baju.
"Baik, Nyonya." Aku menjawab tanpa menatap w*************a suami orang itu. Wajahnya sangat cantik, tapi sayang mur*han sekali. Sopirnya yang sudah beristripun dia sikat asal hasr*tnya bisa terpenuhi. Uangnya harusnya lebih dari cukup untuk menyewa lelaki tampan di luaran sana. Tapi wanita gila itu bisa-bisanya lebih memilih menggoda lelaki yang istrinya tengah mengandung seorang bayi. Dimana perasaannya? Apa dia tak pikirkan nasib anak tak berdosa yang sedang kukandung ini jika kehilangan sosok Ayahnya?
"Sayang, kamu udah selesai nyuci. Padahal niatnya aku mau bantuin kamu tadi!"
Setelah kepergian Nyonya Cindy kini suamiku yang datang. Aku diam tak merespon sama sekali ucapannya.
"Sayang aku perhatikan sejak bangun tidur tadi kamu banyak diam. Kamu lagi ada masalah apa coba cerita sama aku!"
"Enggak ada masalah apapun, kok." jawabku acuh sembari terus menjemur baju. Suamiku tiba-tiba mendekat dan memelukku dari belakang.
"Apa kamu masih kesal karena masalah iphone kemaren sampai kamu diamkan aku seperti ini?" tanya suamiku.
"Lepasin, aku jadi susah bergerak. Kerjaanku masih banyak!" ucapku dengan nada amat kesal. Aku terus berusaha melepaskan pelukan suamiku tapi gagal.
"Enggak usah bergerak sebentar saja kenapa, sayang. Sudah lama kita jarang punya waktu buat romantisan kaya gini. Mas kangen."
Aku ingin sekali muntah mendengarnya membual seperti itu. Setelah semalam dia kenyang dapat jatah dari selingkuhannya, sekarang dia bilang kangen pada istri yang katanya terlihat seperti patung saat melayaninya. Lucu sekali bukan.
"Lepasin, Mas. Aku sedang buru-buru. Nyonya Cindy minta dibuatin empek-empek. Aku harus ke pasar buat beli bahan-bahannya!"
Suamiku masih keras kepala tak mau melepaskan pelukannya. Entah apa yang ada dalam pikirannya hingga dia melakukan hal yang tak biasa seperti ini. Apakah dia merasa sedikit bersalah setelah menjelek-jelekan dan mengkhianatiku semalam?
"Apa-apaan kalian?"
Suara Nyonya Cindy membuat suamiku buru-buru melepaskan pelukannya. Takut juga dia dimarahi selingkuhannya.
"Anwar, Nur. Kalian aku bayar buat kerja bukan buat mesra-mesraan seperti ini!"
Tunggu, bukankah suamiku hanya boneka mainan Nyonya Cindy yang digunakan jika dibutuhkan saja Tapi kenapa reaksi Nyonya Cindy semarah ini ketika melihat suamiku bermesraan denganku. Mungkinkah wanita itu benar-benar menyukai suamiku?
"Jangan salahin saya, Nyonya. Saya sudah berkali-kali menyuruh suami saya agar tidak mengganggu saya tapi dia malah ngeyel. Katanya hari ini dia kangen banget sama saya."
Berhasil, kalimatku barusan berhasil membuat Nyonya Cindy terbakar api cemburu. Ekspresi wajahnya menunjukan betapa marahnya dia pada suamiku.
"Kamu pergi ke garasi mobil sekarang juga, Anwar! Cuci semua mobil yang ada di sana!" perintah Nyonya Cindy.
"Nyonya, mobil-mobil itu baru tadi saya cuci. Masa sekarang mau di cuci lagi?" balas suamiku.
"Kamu mau bantah perintah saya? Kamu mau saya laporkan ke suami saya biar dipecat?" ancam Nyonya Cindy hingga membuat suamiku ketakutan dan segera patuh pada perintahnya.
"Jangan, Nyonya. Sekarang juga saya akan cuci lagi mobil-mobil itu!"
Aku bersorak dalam hati. Ternyata membuat dua orang yang tengah kasmaran itu bertengkar tak sesulit yang aku bayangkan. Mulai sekarang aku akan membuat dua orang itu saling membenci, setelahnya baru aku bisa dengan mudahnya menghancurkan hubungan mereka.
"Kamu lanjut kerja, Nur. Bukan malah bengong kaya gitu. Aku kasih waktu kamu satu jam buat masak empek-empek kesukaanku!" Kali ini giliran aku yang dimarahi.
"Satu jam? Saya belum membeli bahan-bahan untuk membuat empek-empeknya, Nyonya. Satu jam mana cukup waktunya!"
Nyonya Cindy sepertinya sengaja ingin mengerjaiku hingga dia menyuruhku sesuatu yang mustahil bisa kulakukan. Jarak rumah ini ke pasar lumayan jauh dan dia memberiku waktu hanya sejam untuk menghidangkan empek-empek kesukaannya.
"Owh, kamu mau membantah macam suami kamu? Kamu mau dipecat?" ancam Nyonya Cindy.
"Enggak, Nyonya. Saya enggak mau dipecat. Saya akan usahakan tepat waktu!"
Sial, aku malah ikut kena dampaknya. Hari ini kondisiku agak lemah karena semalaman tadi aku menangis dan kurang tidur.
"Nur, mau kemana?" tanya suamiku saat aku hendak pergi ke pasar.
"Mau pergi ke pasar. Gara-gara kamu aku ikut dihukum. Kalau dalam waktu satu jam aku tak siapkan empek-empek kesukaan Nyonya Cindy, aku bakal dipecat!" bebelku.
"Aku aja yang gantiin kamu ke pasar, Nur. Kalau pakai mobil kan lebih cepet dari pada kelamaan nunggu taksi yang belum tentu ada."
"Kamu enggak takut kena pecat? Kamu juga kan lagi dihukum?" tanyaku pada suamiku.
"Tenang aja, Nyonya Cindy enggak akan berani sampai pecat aku. Mau beli apa saja?"
Jelas Nyonya Cindy takan berani memecatmu, Mas. Jika tak ada kamu, w*************a suami orang itu akan kelabakan karena tak mendapat sentuhan.
"Ini daftar belanjaannya. Cepet, ya. Jangan buat aku kena pecat karena telat!"
"Ok!" suamiku gegas masuk dalam mobil dan melambaikan tangannya padaku.
"Suamimu terlihat perhatian sekali sama kamu, Nur!" tiba-tiba Pak Joko muncul mengagetkanku. Aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya. Dia tak tahu saja cerita sebenarnya tentang perselingkuhan suamiku dan Nyonya'nya.
Tiga puluh menit berlalu, suamiku akhirnya pulang dari pasar.
"Mas, kok kamu malah beli empek-empek yang siap saji. Nanti kalau Nyonya Cindy tau aku bisa kena marah!" bebelku. Nyonya Cindy pernah bilang dia sangat suka empek-empek buatanku jadi aku takut saja dia akan marah karena rasanya tak sesuai yang dia harapkan.
"Kamu tenang aja, dia enggak akan tahu kok. Tadi aku sempet nyicipin rasanya sama seperti yang kamu buat. Cepet hidangin, biar Nyonya enggak marah lagi!"
"Ok, Mas. Aku siapin untuk Nyonya sekarang juga!"
Aku kemudian memindahkan empek-empek itu dalam mangkok lalu mengantar ke kamar Nyonya Cindy.
"Nyonya, empek-empeknya sudah siap!" Aku mengetuk pintu beberapa kali. Tak ada jawaban. Kemana wanita itu?
"Nyonya, empek-empeknya sudah siap!" Sekali lagi aku mengetuk pintu, kali ini dia merespon. Dibukanya pintu kamar.
"Nyonya cantik sekali. Nyonya mau pergi?" tanyaku pada Nyonya Cindy. Dia mengenakan dress sangat ketat. Make-up nya juga lumayan tebal.
"Enggak. Aku enggak kemana-mana."
Tidak pergi kemana-mana tapi pakaiannya seperti itu. Tapi ya sudahlah, urusan dia mau pakai baju seperti apa. Toh, ini rumahnya sendiri.
"Kalau begitu saya permisi ya, Nyonya." ucapku setelah menyerahkan empek-empek pada Nyonya Cindy.
"Tunggu, Nur. Kamu bilang ke suami kamu suruh kesini kalau sudah selesai nyuci mobil. Keran di toiletku rusak. Dia suruh benerin!"
Aku tersenyum kecut. Ternyata dia sengaja berpenampilan seksi seperti ini karena ingin bersenang-senang lagi dengan suamiku. Licik sekali.
"Baik, Nyonya. Saya akan sampaikan pada suami saya!"