Pembalasan Awal

1083 Kata
Mas, keran di toilet kamar Nyonya Cindy rusak. Nyonya Cindy menyuruhmu membetulkannya setelah selesai nyuci mobil-mobil ini!" Aku terlihat tenang saat menyampaikan pesan Nyonya Cindy padahal dalam hatiku ingin meronta. Ingin memaki dua orang jahat ini. Sanggup mereka ingin bermesraan di atap yang sama denganku. Sebegitu bodohkah aku di mata mereka sampai mereka sama sekali tak takut aku akan mengetahui perselingkuhan mereka? "Benarkah? Ok, bentar lagi aku selesai. Aku langsung pergi ke kamar Nyonya buat benerin," Wajah suamiku terlihat berseri-seri. Dia bisa sebahagia itu karena sebentar lagi akan dikenyangkan oleh majikan wanitanya. Dia tak tahu kalau wanita yang ada di depannya benar-benar tengah menahan sakit hati yang luar biasa. Luka ini takan bisa disembuhkan sekalipun kelak suamiku berlutut dan mengemis maaf padaku. "Nur, kamu sudah makan siang?" tanya Pak Joko ketika aku baru sampai di dapur. "Belum, Pak. Saya belum lapar!" jawabku lesu. "Kamu kelihatan pucet banget, Nur. Makanlah. Ini sudah jam satu siang, loh. Kasian bayi dalam perutmu jika kamu selalu telat makan begini!" "Baiklah, Pak." Segan dengan Pak Joko akupun menuruti perintahnya meski aku sedang kehilangan nafsu makanku. Seperti biasa kami duduk di lantai dapur saat makan. Tak berapa lama kemudian suamiku datang untuk mencuci tangannya di wastafle dapur. Kamu udah selesai benerin kerannya, Mas. Cepet banget?" tanyaku pada suamiku sambil mengunyah makanan. "Belum, ini baru mau ke atas." balas suamiku. Wajahnya terlihat begitu ceria tanpa beban atau perasaan bersalah sedikitpun padaku. "Mau benerin keran saja kok kamu pakaiannya rapih banget kaya mau kencan. Wangi lagi." sindirku sembari menghirup aroma parfum murahan yang begitu terasa menyengat di hidungku. Pak Joko hanya diam, tak ikut menimbrung obrolan kami. "Tadi baju yang kukenakan basah jadi aku mandi dan mengganti bajuku. Kamu kenapa, urusan sepele begini dipermasalahkan!" Orang jika memang salah jadi gampang emosi. Ya, seperti suamiku ini. Disindir sedikit langsung ngamuk. Dia pikir dengan menunjukan emosinya bisa menutupi niat busuknya. Bodoh sekali cara pemikirannya. "Kenapa sekarang jadi sensitif banget sih, Mas. Aku cuma bilang kamu rapih dan wangi. Responmu kok semarah ini?" Aku suka sekali memainkan emosi suamiku. Semakin membuatnya kesal semakin aku merasa puas. Pasti mood bercintanya yang awalnya bagus berubah jadi buruk setelah aku berhasil memancing amarahnya. "Aku atau kamu yang jadi sensitif? Jelas-jelas kamu yang dari semalem suka membesar-besarkan masalah. Kesabaran ada batasnya, Nur. Aku juga bisa marah jika dicurigai kamu terus-terusan seperti ini!" Nada suara suamiku mulai meninggi. Aku tersenyum melihat wajahnya penuh amarah saat menatapku. "Kalimatku mana yang membuatmu tersinggung dan merasa aku mencurigaimu, Mas? Aku cuma bilang kamu rapih dan wangi. Kenapa hanya karena kalimat singkat itu kamu jadi menuduhku membesar-besarkan masalah?" Suamiku terdiam tak bisa menjawab pertanyaanku. Dari sorot matanya terlihat jelas kalau dia benar-benar kesal terhadapku. Detik kemudian, lelaki itu pergi tanpa sepatah katapun dari hadapanku. "Suamimu ngeri juga kalau marah ya, Nur. Kamu enggak takut dia pukul kamu kalau lagi berantem kaya tadi?" tanya Pak Joko setelah kepergian suamiku. "Sejahat-jahatnya dia, tak pernah pukul saya, Pak. Bapak jangan risau!" jawabku tenang. Sebelum perselingkuhan ini terungkap, menurutku suamiku merupakan sosok yang begitu baik. Dia selalu menjadi satu-satunya penolongku saat keluarganya menindasku. Aku sempat merasa beruntung karena memilikinya. Namun siapa sangka dia begitu cepat berubah setelah bertemu dengan Nyonya Cindy. Godaan Nyonya Cindy membuatnya menjadi lelaki yang sangat kejam. "Pak Joko tolong saya, Pak. Tolong!" Teriakan suamiku tiba-tiba membuat kaget. Aku dan Pak Joko gegas ke ruang depan. "Pak, Nyonya Cindy sakit perut di atas. Tolong bantu saya angkat beliau ke mobil. Saya mau bawa dia ke rumah sakit!" Aku tertawa dalam hati. Aku berhasil membuat rusak hari indah suamiku dan Nyonya kesayangannya. Ya, aku diam-diam memasukan obat cuci perut dengan dosis lumayan tinggi di kuah empek-empek yang aku berikan pada Nyonya Cindy. Pembalasan kecil ini menjadi pencapaianku yang luar biasa karena setidaknya aku sudah berhasil melawan rasa takutku dengan memberi pelajaran majikan penggoda suami orang itu. Sungguh puas sekali melihat wajah panik suamiku yang tak tega melihat selingkuhnnya kesakitan. "Nyonya Cindy tadi terlihat baik-baik saja. Kenapa tiba-tiba beliau sakit perut, ya?" tanya Pak Joko setelah mobil yang membawa Nyonya Cindy pergi. Aku hanya merespon pertanyaanya dengan menggendikan kedua bahuku. Setelah kepergian Nyonya Cindy akhirnya aku bisa beristirahat dengan tenang. Sakit hatiku pada wanita jahat itu sedikit demi sedikit akan terbalaskan. [Nur, tolong antar beberapa bajuku dan Nyonya Cindy. Dia harus rawat inap karena keadaannya masih sangat lemah!] Tiba-tiba pesan dari suamiku masuk, aku tak jadi tidur. Gegas aku balas pesan darinya. [Kenapa bukan Pak Joko aja yang anterin, Mas. Aku mau istirahat, cape banget hari ini soalnya!] Bukan aku tak mau mengantarkan baju dua orang jahat itu. Aku tak mau makin sakit hati melihat kebersamaan keduanya. Biar bagaimanapun juga aku masih istri sahnya. Rasa marah dan cemburu pasti masih ada ketika melihat mereka sedang bersama. [Nyonya Cindy ingin bertanya sesuatu sama kamu jadi harus kamu yang antarkan baju-baju kami.] Sepertinya Nyonya Cindy sudah mulai mencurigaiku jadi dia menyuruhku datang. Aku harus tetap terlihat tenang. Toh, tidak ada saksi yang melihatku memasukan obat pencuci perut ke dalam kuah empek-empek yang dimakan Nyonya Cindy jadi tak ada yang perlu aku takutkan. Akupun kemudian bangkit dari ranjang dan segera menyiapkan beberapa helai baju suamiku dan Nyonya Cindy. [Nur, bawakan juga charger milik Nyonya Cindy. Beliau simpan di laci meja.] Pesan suamiku kembali masuk. Kebetulan aku masih berada di kamar milik Nyonya Cindy. Aku membuka laci mejanya dan menemukan sebuah obat inheler disana. Milik siapa ini? Apakah ini milik Nyonya Cindy? Apakah Nyonya Cindy punya penyakit asma? Setelah mengambil charger dan beberapa baju milik Nyonya Cindy, aku segera mengganti daster burukku dengan baju yang lebih layak. Lalu gegas aku menuju rumah sakit. Aku naik ke lantai dua, mencari ruangan dimana Nyonya Cindy dirawat. Setelah ditemukan, aku puas sekali melihat Nyonya Cindy tengah terbaring lemah dengan jarum infus tertempel di punggung tangannya. "Lambat sekali kamu, Nur. Nyonya Cindy sudah nungguin kamu dari tadi!" Suamiku mulai cari muka, dia pikir dengan memakiku di depan selingkuhannya akan membuat selingkuhannya makin mencintainya. Aku tak boleh terpancing emosi, aku harus tetap menunjukan sikap lemahku saat ditindasnya. Dengan begitu mereka tak akan mewaspadaiku. "Maaf, Nyonya Cindy. Tadi saya susah dapat taksi jadi telat sampainya!" Aku meletakan barang-barang bawaanku ke atas meja lalu mendekat ke arah Nyonya Cindy. "Gimana keadaan Nyonya? Waktu saya ke kamar Nyonya, kelihatannya Nyonya baik-baik saja. Kenapa Nyonya tiba-tiba sakit perut?" tanyaku kemudian. "Jangan pura-pura deh, Nur. Kamu letakan sesuatu di kuah empek-empek yang kamu kasihkan ke Nyonya Cindy, kan?" Mampus! Suamiku tanpa bertele-tele langsung melayangkan tuduhan terhadapku. Bagaimana ini? Tanganku tiba-tiba gemetar. Kemana perginya keberanian yang aku miliki beberapa saat lalu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN