Diusir

1206 Kata
"Gimana keadaan Nyonya? Waktu saya ke kamar Nyonya, kelihatannya Nyonya baik-baik saja. Kenapa Nyonya tiba-tiba sakit perut?" Aku pura-pura tak tahu apa-apa. "Jangan pura-pura deh, Nur. Kamu letakan sesuatu di kuah empek-empek yang kamu kasihkan ke Nyonya Cindy, kan?" Mampus! Suamiku tanpa bertele-tele langsung melayangkan tuduhan terhadapku. Bagaimana ini? Tanganku tiba-tiba gemetar. Kemana perginya keberanian yang aku miliki beberapa saat lalu? "Meletakan obat di kuah empek-empek, Nyonya? Maksudmu gimana ya, Mas?" Aku pura-pura bingung sembari menatap ke arah suamiku dan Nyonya Cindy bergantian. Kali ini Nyonya Cindy mulai ikut bicara. "Aku sakit perut setelah memakan empek-empek yang kamu berikan. Jujur sama aku kamu, Nur. Kamu letak racun dalam kuah itu, kan? Kamu dendam karena aku menghukummu tadi, kan?" tanya Nyonya Cindy berapi-api. Aku berusaha menyangkal tuduhannya. Dia tak punya bukti apapun, aku masih punya kesempatan membela diri. "Maaf, Nyonya. Saya sama sekali tidak meletakan apapun di kuah empek-empek yang saya berikan pada Nyonya." "Jangan bohong! Kalau kamu tak masukan racun di kuah itu, saya tidak mungkin sakit perut sampai seperti ini!" Keadaan Nyonya Cindy terlihat sangat lemah, tapi saat memakiku dia terlihat bersemangat sekali. Sebenci itukah dia terhadapku? "Mas, tolong aku Mas. Aku lagi difitnah. Aku sama sekali tak melakukan apa yang Nyonya Cindy tuduhkan!" Aku memegang lengan suamiku untuk meminta perlindungannya. "Lepasin!" Mungkin karena takut selingkuhannya murka, suamiku menghempaskan pegangan tanganku. Di hadapan Nyonyanya, dia ingin membuktikan seberapa tidak berharganya aku untuknya. "Jangan harap aku membelamu, Nur. Aku enggak akan memihak orang yang salah." "Mas, aku istrimu. Kenapa tega kamu ikut nuduh aku yang bukan-bukan!" Aku pura-pura menangis, sayangnya suamiku sama sekali tak terlihat kasihan padaku. Sikap semena-menanya padaku semakin menjadi. "Enggak ada gunanya kamu nangis, Nur. Kamu pikir tangisanmu akan membuat kami kasihan dan melupakan kejadian ini. Kamu yang memasak empek-empek itu dan memberikannya pada Nyonya Cindy. Kalau bukan kamu yang meracuni Nyonya Cindy siapa lagi?" Aku hentikan tangisku kemudian merespon ucapan suamiku. Dari tadi aku memang menunggu dia melontarkan kalimat ini. Kebohongannya akan kujadikan senjata untuk melimpahkan kesalahanku padanya. "Aku yang memasak? Kamu lupa kalau kamu melarangku masak. Bahkan kamu yang membantuku membelikan empek-empek itu karena kamu bilang kamu enggak tega lihat aku cape!" Suamiku terlihat gelagapan, Nyonya Cindy menatapnya dengan tatapan sangat tajam. Aku sangat yakin wanita itu tengah menahan rasa cemburunya. "Jangan bicara omong kosong, Nur. Jelas-jelas kamu yang memasaknya! Kamu mau melimpahkan kesalahanmu padaku?" Semakin suamiku berusaha membela diri dengan kebohongannya semakin mudah aku menjebaknya. "Bicara omong kosong? Panggil Pak Joko sekarang. Dia bisa bersaksi kalau aku tak memasak empek-empek itu." suamiku terlihat pucat. Selingkuhannya pasti akan mengamuk nanti setelah tahu Mas Anwar sudah membohonginya. "Benar begitukah Anwar?" tanya Nyonya Cindy. Suamiku tak berani menjawab. Wajahnya pucat sekali. "Mas, jawab yang jujur. Aku tahu kamu berbohong karena takut disalahkan Nyonya, tapi tolong jangan karena keegoisanmu kamu melimpahkan kesalahanmu padaku!" "Cukup, Nur. Jangan lanjutkan!" marah suamiku. Tapi aku tak mendengarkan perintahnya. Aku ingin terus memanas-manasi Nyonya Cindy agar makin marah padanya. Aku bahkan mulai mengarang cerita agar Nyonya Cindy semakin murka padanya. "Nyonya, saya sudah bilang pada suami saya, masak makanan sendiri lebih sehat. Tapi suami saya tetap bersikeras membeli di luar karena dia takut saya kecapean. Setelah tahu keadaannya jadi kacau, dia malah menyalahkan saya!" Aku terus meracuni otak Nyonya Cindy. "Anwar, kamu hutang penjelasan padaku!" ucap Nyonya Cindy penuh amarah. Suamiku terlihat semakin pucat. Sayang sekali aku tak bisa menonton pertunjukan selanjutnya karena tiba-tiba Nyonya Cindy mengusirku pulang. "Pulanglah, Nur. Suamimu harus mempertanggungjawabkan semua kebohongannya padaku!" **** "Nur, kamu kok cepet banget pulangnya. Nyonya Cindy enggak nyuruh kamu nemenin dia dulu di rumah sakit?" tanya Pak Joko saat aku baru saja sampai. "Mana Nyonya butuh saya, Pak. Kan udah ada suami saya di sampingnya!" Aku mengambil segelas air putih di kulkas kemudian meneguknya tanpa sisa. Cuaca di luar panas sekali, hampir saja aku pingsan karena kepanasan. "Mereka cerita enggak kenapa bisa tiba-tiba Nyonya Cindy sakit perut?" tanya Pak Joko kemudian. Aku duduk di kursi yang ada di samping kulkas kemudian menceritakan apa yang baru saja terjadi padaku saat menemui Nyonya Cindy di rumah sakit. "Mereka bilang Nyonya sakit perut setelah memakan empek-empek yang saya berikan, Pak. Lucunya mereka menuduh saya yang meletakan racun di kuah empek-empek itu." "Terus gimana. Kamu enggak sampai dipecat hanya karena kesalahpahaman ini, kan?" Raut wajah Pak Joko terlihat khawatir saat bertanya. Aku sampai tertawa melihat reaksinya yang setegang ini. "Enggaklah, Pak. Bapak enggak usah khawatir!" Akupun kemudian pamit masuk ke kamar. Masalah hari ini begitu membuat tubuhku kelelahan. Siapa tahu dengan tidur sejenak, semua penat dan rasa sakit hatiku akan berkurang. "Nur, bangun!" Belum lama tidur aku dikejutkan dengan sentuhan kasar suamiku. Dia menguncang tubuhku cukup keras hingga membuatku begitu terkejut dan cepat-cepat bangun. "Apaan sih, Mas. Bisa enggak banguninnya pelan-pelan saja!" ucapku geram. "Apa maksudmu mengadukan aku yang beli empek-empek itu sama Nyonya Cindy. Kamu sengaja membuat aku dihukum sama beliau, kan?" tanya suamiku. "Lah, memang itu kenyataannya, Mas. Terus kamu maunya aku nutupin hal itu lalu ngorbanin diri dengan diam saja saat kamu fitnah. Kamu kenapa sih, Mas. Akhir-akhir ini suka banget cari muka sama Nyonya Cindy sampai tega numbalin istri sendiri." "Tutup mulutmu ya, Nur. Kamu makin lama makin kurang*jar." Suara suamiku makin meninggi. Tak dipedulikannya sama sekali kata-kata kasarnya akan didengar oleh orang lain. Aku sebagai istrinya sangat malu. "Sebenernya kamu masih cinta atau enggak sama aku, Mas. Aku bener-bener seperti sudah kehilangan sosok suami baik dan perhatian. Kamu beda banget sama dulu. Dulu kamu rela bertengkar dengan ibumu demi membelaku. Tapi sekarang, kamu bahkan rela memfitnahku demi cari muka pada Nyonya Cindy," Plak! Perih, tamparan yang suamiku berikan cukup keras. Aku tak menyangka dia sampai tega melakukan ini. Demi membela selingkuhannya dia rela menyakiti istrinya sendiri "Kamu menamparku, Mas?" Airmataku jatuh saat mengucapkannya. Sekuat apapun aku berusaha tegar aku tetap tak bisa. "Ini pelajaran untuk istri tak tahu diri sepertimu. Jangan menangis, kamu pikir aku akan kasihan padamu?" Tak ada penyesalan sama sekali terlihat di wajahnya setelah menamparku. Lelaki yang belum genap setahun kunikahi ini benar-benar sudah berubah. "Aku sudah bilang berhenti menangis! Aku bantu kamu berkemas. Kamu pulanglah ke rumah orangtuaku. Tiap bulan aku akan mentransfer uang untukmu!" Aku menghentikan tangisku, kutatap penuh kebencian lelaki jahat di depanku. "Kamu ingin menyingkirkanku dari sini?" tanyaku dengan suara bergetar. Tak habis pikir kalau dia akan melakukan hal sekejam ini. "Ya, kamu sudah membuat aku sangat marah. Anggap ini hukuman untuk seorang istri lancang sepertimu!" jawab suamiku tanpa perasaan. "Kalau aku tidak mau gimana? Aku yang mencarikanmu pekerjaan ini, harusnya bukan aku yang keluar dari sini, Mas. Tapi kamu!" Aku sama sekali tak takut melawan kedzaliman suamiku. Yang aku katakan benar, aku yang memohon pada Tuan Gibran untuk menjadikannya sopir di rumah ini. Dan sekarang setelah diterima, seenak jidatnya dia ingin menyingkirkanku dari rumah ini. "Kalau kamu tak mau keluar baik-baik dari rumah ini, Nyonya Cindy yang akan menyeretmu keluar dari sini!" Aku tersenyum perih, ternyata dia menggunakan selingkuhannya untuk menyingkirkanku. Usahaku membuat mereka bertengkar siang tadi sepertinya sia-sia. Pada akhirnya aku tetap ditendang dari rumah ini. "Nyonya Cindy tak berhak mengusirku tanpa alasan karena orang yang menggajiku itu Tuan Gibran. Aku akan hubungi Tuan Gibran sekarang untuk meminta keadilan darinya. Kamu yang membuat Nyonya Cindy sakit perut tapi aku yang dipecat!" Wajah suamiku berubah panik. Takut juga dia dengan ancamanku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN