Hera mengulum senyum. Ekspresi Olivia yang seperti anak kecil membujuk ibunya agar dapat menghindari tugas rumahnya itu sungguh sangat menggelikan. Baru saja dirinya bersungut ria mengutuk cowok yang dia taksir sejak dirinya masih berseragam putih abu-abu itu, sekarang Olivia merengek karena kelemahan hatinya. Labil sekali. "Belakangan dianya manis banget sama gue, Her, Fan." Olivia mengeluh. Telapak tangan kanannya mendarat ke d**a kiri. "Ini nggak kuaaattt!" "Ya wajar aja sih. Lu kan udah naksir dia sejak lama, seyeng," kata Fanny. "Emang itu cowok ngapain lagi sih?" Olivia menarik napas panjang, lalu menopang dagu dan menjawab, "Banyak. Kalo dia selesai nugas, terus ada waktu luang, pasti dia kirim chat. Nanya lagi di mana atau ngapain sama lagi pengen apa. Terus sehabis ngampus d

