Rainer kembali melangkah masuk ke dalam kamar. Neneknya sedang tersenyum pada perawat yang baru saja memeriksa kondisi kakinya. Begitu melihat cucunya kembali, mata tua itu langsung berbinar penuh harap. “Sudah bicara dengan Ella?” tanyanya tanpa basa-basi. Rainer melangkah mendekat, menarik kursi dan duduk di samping ranjang. Wajahnya tenang, seperti biasa. Tetap terkendali. “Sudah.” “Dan?” Neneknya nyaris seperti anak kecil yang menunggu hadiah ulang tahun. Rainer menatap tangan keriput yang terlipat di atas selimut. Ia lalu berkata tegas, tanpa ragu. “Kami akan menikah. Tiga hari lagi.” Sejenak, hening. Tentu saja nenek terkejut, karena sebelumnya Rainer bilang akan menikah minggu depan. Lalu ia tertawa kecil, matanya berkaca-kaca. “Ya Tuhan… akhirnya.” Ia meraih tangan Rain

