Wajah Rainer yang sebelumnya penuh senyum hangat saat berbicara dengan nenek kembali dingin saat dia kekuar kamar. Wajah dingin yang sudah menjadi ciri khasnya selama bertahun-tahun. Namun, begitu matanya menangkap sosok Ella yang berdiri di lorong, ada kilatan lain yang sulit ia sembunyikan. “Kamu ingin bertemu denganku?” tanyanya rendah. Ella menatapnya lurus. Tidak menantang, tidak gentar. Justru terlalu tenang. “Iya,” jawabnya singkat. “Tapi bukan di sini.” Rainer melirik sekilas ke pintu kamar neneknya, lalu kembali ke Ella. “Ikut aku.” Dia belum bisa memprediksi sikap gadis ini, jadi Rainer memilih menjauh, agar nenek tidak ikut mendengar. Mereka berjalan menjauh beberapa langkah, cukup jauh agar suara tidak terdengar ke dalam kamar. Lorong VIP kembali sunyi, hanya suara lan

