Bab 6. Jaga Jarak

1408 Kata
Malam itu, mereka duduk di atas motor Brian yang diparkir di tepi danau kecil di daerah Depok. Gesi bersandar di punggung Brian, kakinya mengayun pelan. Udara dingin, tapi tidak ada yang benar-benar peduli. “Gue nggak ngerti, Brian.” Gesi berbicara pelan, nyaris seperti gumaman. “Gue punya semuanya. Keluarga kaya, pendidikan bagus, fasilitas lengkap. Tapi kenapa rasanya kosong?” Brian diam. Dia membiarkan Gesi berbicara, karena kadang orang hanya butuh didengar. “Ayah gue sibuk pencitraan. Ibu gue sibuk acara sosial. Mereka berdua lebih peduli sama nama baik keluarga daripada anak sendiri.” Gesi tertawa kecil, tapi tidak terdengar bahagia. “Gue kadang mikir, kalau bukan karena mereka yang melahirkan gue, mungkin gue cuma dianggap sebagai aset.” Brian merasakan punggungnya menjadi lebih berat, seolah beban di hati Gesi mengalir lewat sandaran itu. Dia menoleh sedikit, menatap wajah Gesi yang menunduk. “Aset?” Brian akhirnya membuka suara. Gesi mengangguk. “Ayah gue selalu bilang, anak pejabat harus sempurna. Nggak boleh bikin skandal, nggak boleh pacaran sama orang biasa, nggak boleh ini, nggak boleh itu. Kayak boneka yang harus sesuai rancangan.” Brian menghela napas panjang. Dia mengerti. Tapi dia juga tahu, nggak ada yang benar-benar bisa memahami perasaan seseorang sampai mereka merasakannya sendiri. “Kamu tahu apa yang gue pikirin pertama kali waktu ketemu kamu?” Brian akhirnya bertanya. Gesi menggeleng pelan. “Apa?” “Gue pikir, anak walikota pasti sombong.” Gesi tertawa pendek. “Ternyata?” “Ternyata gue salah,” kata Brian jujur. “Lu lebih nyata dari yang gue kira.” Gesi menatapnya, dan untuk pertama kalinya malam itu, matanya berbinar sedikit lebih terang. “Kamu juga lebih nyata dari yang gue kira,” bisiknya. Mereka diam cukup lama. Hanya suara jangkrik dan riak air danau yang terdengar. Lalu Gesi bertanya pelan, “Kalau gue bukan anak siapa-siapa, kamu bakal tetap suka sama gue?” Brian menatapnya lama. “Kamu bukan anak siapa-siapa di mata gue,” katanya akhirnya. “Kamu cuma Gesi.” Dan Gesi tersenyum. Kali ini, bukan senyum terpaksa yang biasa dia tunjukkan di depan kamera. Senyum itu benar-benar untuk Brian. … Hari itu, Jakarta dipenuhi matahari yang terlalu terik. Brian duduk di dalam mobil patrolinya yang diparkir di pinggir jalan, memandangi layar ponsel. Sudah dua puluh menit sejak Gesi terakhir kali membalas pesannya. Gesi: “Aku ketahuan.” Cuma dua kata, tapi efeknya seperti gemuruh di kepala Brian. Gesi ketahuan. Ketahuan diam-diam pergi dengannya. Ketahuan jatuh cinta pada orang yang menurut keluarganya “tidak selevel”. Brian tahu ini akan terjadi cepat atau lambat, tapi dia tidak menyangka secepat ini. Ponselnya bergetar lagi. Gesi: “Papa marah besar. Aku harus jaga jarak dulu.” Brian meremas setir mobil. Bukan karena marah pada Gesi. Bukan juga karena marah pada ayahnya. Tapi karena marah pada dunia yang selalu membatasi perasaan dengan status. Malam itu, Brian tidak bisa tidur. Dia memandangi ponselnya, membaca ulang semua pesan yang pernah dikirim Gesi. Lalu, ponselnya bergetar. Gesi menelepon. “Gesi?” Brian langsung menjawab. Di seberang sana, Gesi terisak pelan. “Aku nggak tahu harus ngomong sama siapa lagi.” Brian menelan ludah. “Papa kamu?” “Habisin aku habis-habisan. Katanya aku bikin malu keluarga. Katanya aku nggak sadar diri.” Gesi menghela napas berat. “Brian, kenapa sih orang tua selalu ngerasa punya hak buat nentuin hidup anaknya?” Brian tidak langsung menjawab. Dia tahu rasa frustrasi itu. Dia bisa mendengarnya dalam setiap helaan napas Gesi. “Aku nggak bisa jawab itu, Ges,” kata Brian akhirnya. “Tapi aku tahu satu hal.” “Apa?” Brian menarik napas. “Aku tetap di sini.” Hening. Lalu, suara Gesi terdengar lagi. Pelan, tapi penuh arti. “Kamu janji?” Brian menutup matanya. Dia tahu janji ini tidak mudah. Dia tahu dunia tidak akan memberi mereka jalan yang mulus. Tapi dia juga tahu, kalau ada satu hal yang benar-benar dia inginkan dalam hidupnya… Itu adalah Gesi. “Aku janji,” bisiknya. … Gesi duduk di kamarnya, menatap jendela yang tertutup rapat. Ponselnya telah disita sejak semalam, membuatnya benar-benar terisolasi. Setelah kejadian kemarin ayahnya, Mahendra Wijaya, Walikota Jakarta Selatan mengunci semua aksesnya ke dunia luar. Tidak ada ponsel. Tidak ada kebebasan. Dan tentu saja… tidak ada Brian. Tapi Gesi tahu, kalau ada satu orang yang tidak akan menyerah, itu adalah Brian. … Di tempat lain, Brian berdiri di depan rumah besar dengan pagar tinggi. Dua satpam berjaga di gerbang, menatapnya penuh kewaspadaan. “Gesi ada?” tanya Brian, berusaha tetap tenang. Salah satu satpam, pria bertubuh tegap dengan wajah dingin, menggeleng. “Non Gesi nggak bisa diganggu. Pulang saja, Pak.” Brian mengepalkan tangan. “Saya cuma mau bicara.” “Kami sudah dapat perintah,” satpam itu menegaskan. “Anda tidak boleh bertemu dengan Non Gesi lagi.” Brian tahu perintah itu datang dari satu orang: Mahendra Wijaya. Dan dia juga tahu, ini peringatan pertama. Jika dia tetap mencoba mendekati Gesi, peringatan selanjutnya tidak akan sesederhana ini. Brian menghela napas, melangkah mundur. Tapi saat dia berbalik menuju motornya, suara seorang pria terdengar dari belakang. “Bukan levelmu, Nak,” suara itu berat dan berwibawa. Brian menoleh. Di sana, berdiri Mahendra Wijaya berjas rapi, dengan ekspresi yang tenang tapi menusuk. “Kamu polisi. Anak orang biasa,” lanjut Mahendra. “Masa depanmu masih panjang. Jangan buang waktumu untuk sesuatu yang tidak mungkin.” Brian menatap pria itu tajam. “Saya tidak percaya sesuatu yang mustahil, Pak.” Mahendra tertawa kecil. “Kamu idealis. Bagus. Tapi dunia ini tidak bekerja dengan idealisme.” Brian mengepalkan tangan. “Kalau Anda benar-benar peduli sama kebahagiaan Gesi, Anda harusnya tahu dia bukan aset. Dia manusia.” Mahendra mendekat, menepuk bahu Brian seolah bersikap ramah tapi Brian tahu, itu hanya cara halus untuk menunjukkan kekuasaan. “Kamu bukan orang pertama yang mencoba,” kata Mahendra. “Dan seperti mereka semua… kamu juga akan menyerah.” … Malam itu, Brian duduk di balkon apartemennya, memandangi langit. Kata-kata Mahendra terngiang di kepalanya. Kamu juga akan menyerah. Brian menatap ponselnya, nomor Gesi masih tidak bisa dihubungi. Tapi dia tahu satu hal. Dia tidak akan menyerah. Tidak malam ini. Tidak selamanya. … Sudah tiga hari sejak terakhir kali Brian melihat Gesi. Tiga hari sejak kata-kata Mahendra Wijaya masih terngiang di kepalanya. Kamu juga akan menyerah. Tapi Brian tidak akan menyerah. Dia duduk di mobilnya, memandangi rumah besar di depannya rumah keluarga Wijaya. Pagar tinggi masih berdiri kokoh, dengan dua satpam berjaga seperti sebelumnya. Dia tahu jalur depan sudah tertutup. Maka, dia harus mencari cara lain. … Malam itu, Brian berhenti di kafe kecil yang biasanya menjadi tempat favorit Gesi. Di sana, dia bertemu seseorang yang tidak pernah ia duga. Dita, sahabat dekat Gesi. “Dita?” Brian mendekat, melihat perempuan itu duduk sendirian di sudut kafe. Dita mendongak, terkejut. “Brian?” Tanpa membuang waktu, Brian duduk di hadapannya. “Lo tahu sesuatu tentang Gesi?” Dita terdiam. Sejenak dia terlihat ragu. “Lo masih belum nyerah, ya?” Brian menatapnya tajam. “Gue nggak akan nyerah.” Dita menarik napas dalam. “Gesi nggak bisa keluar dari rumah. Tapi…” Dia melirik sekeliling, memastikan tak ada yang mendengar. “Besok malam, dia bakal dibawa ke acara keluarga di hotel Arya Grand.” Brian langsung menangkap maksudnya. Ini satu-satunya kesempatan untuk bisa bertemu Gesi lagi. “Tolong bantu gue, Dit,” pinta Brian. “Gue harus ketemu dia.” Dita menatapnya lama, lalu akhirnya mengangguk. “Gue bakal cari cara.” … Keesokan malamnya, Brian sudah berdiri di luar hotel Arya Grand, mengenakan setelan jas sederhana agar tidak terlalu mencolok. Di dalam, acara keluarga Wijaya sedang berlangsung. Dia menunggu pesan dari Dita. Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar. Dita: “Kamar 210. Cepat sebelum dia balik ke ruangan utama.” Tanpa pikir panjang, Brian masuk ke hotel dan langsung menuju lift. Jantungnya berdebar cepat. Dia tidak peduli kalau ini berisiko. Dia hanya ingin melihat Gesi lagi. … Saat pintu kamar 210 terbuka, Gesi berdiri di sana, terkejut melihat siapa yang datang. “Brian?” Tanpa banyak bicara, Brian menariknya ke dalam dan menutup pintu. “Gue harus lihat lo,” katanya pelan. “Gue nggak bisa diam aja.” Gesi masih kaget, tapi tatapan matanya berubah lembut. “Lo gila,” bisiknya. Brian tersenyum kecil. “Mungkin. Tapi gue nggak akan ninggalin lo.” Hening sesaat. Lalu, Gesi melangkah maju dan memeluknya erat. Brian membalas pelukan itu, merasa bahwa untuk pertama kalinya dalam tiga hari terakhir, dunia kembali terasa benar. …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN