KILAS BALIK
Jakarta malam itu seperti biasa: sibuk, bising, dan penuh suara klakson. Tapi di satu sudut acara peresmian taman kota, suasana justru begitu tenang. Brian berdiri di tepi kerumunan, bersandar di tiang lampu taman yang baru saja dicat ulang. Seragam dinasnya rapi, wajahnya tegas seperti biasa tapi mata itu tampak lelah.
Dia tak menyangka perintah dinas hari ini cuma soal pengamanan acara simbolis yang dipenuhi orang-orang berjas dan wartawan.
Dia lebih terbiasa mengejar copet di jalanan atau membubarkan tawuran. Tapi, tugas tetaplah tugas.
“Capek ya berdiri terus?”
Suara itu datang dari samping, pelan tapi cukup jelas di tengah suara bising pengeras suara. Brian menoleh cepat. Seorang perempuan berdiri tak jauh darinya. Rambutnya diikat rendah, wajahnya polos tanpa riasan berlebih, tapi ada aura tenang yang membuat Brian langsung memperhatikan.
“Ya, lumayan,” jawab Brian pendek, masih waspada. “Kamu pengunjung?”
“Enggak. Aku perwakilan keluarga yang punya acara ini.” Perempuan itu tersenyum kecil, menatapnya lurus. “Aku Gesi.”
Brian terdiam sebentar. Nama itu terdengar familiar. Baru dia ingat Gesi adalah anak Walikota Jakarta Selatan, Mahendra Wijaya. Orang nomor satu di kota yang sekarang berdiri lima meter dari mereka, sibuk diwawancarai media.
“Brian,” ucapnya akhirnya. “Polisi biasa yang lagi kerja.”
Gesi tersenyum, kali ini lebih lebar. “Polisi biasa yang nggak ikut sibuk ngatur-ngatur jalan, tapi malah nyari tempat teduh.”
Brian mengangkat bahu, tidak membantah. “Ya, sambil ngawasin dari kejauhan.”
Mereka diam beberapa detik. Tapi bukan diam yang canggung, lebih seperti dua orang asing yang tahu bahwa dunia sedang sibuk, dan mereka baru saja menemukan ruang kecil untuk bernapas.
“Kamu sering ikut acara begini?” tanya Brian.
Gesi menggeleng. “Biasanya males. Tapi kali ini dipaksa ikut. Katanya biar belajar jadi publik figur.” Dia mendesah. “Padahal aku cuma pengin jadi orang biasa.”
Brian menatapnya lebih lama. Gesi tidak seperti yang dia bayangkan. Bukan tipikal anak pejabat yang arogan atau penuh citra. Dia justru terlihat… manusiawi.
“Orang biasa ya?” gumam Brian. “Kita berdua punya keinginan yang sama, ternyata.”
Mata Gesi menyipit penasaran. “Emangnya kamu pengin jadi apa?”
Brian tertawa kecil. “Orang biasa juga. Tapi hidup malah narik gue ke tempat lain.”
Malam itu berakhir dengan saling tukar nomor telepon. Gesi melangkah kembali ke tengah keramaian, dan Brian kembali berjaga di tempat semula. Tapi dunia sudah sedikit berubah.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Brian merasa… ada yang hangat di dalam dadanya.
…
Notifikasi ponsel Brian berbunyi saat dia baru saja duduk di warung nasi goreng langganan. Tangannya masih belepotan sambal waktu dia menyentuh layar, melihat nama yang muncul.
Nomor Tak Dikenal:
“Kamu masih inget aku, Pak Polisi yang berdiri di bawah lampu taman?”
Brian mengangkat alis. Dia tahu betul siapa pengirim pesan itu. Senyum kecil muncul di wajahnya, tanpa bisa dia tahan.
Brian:
“Inget. Susah lupa sama orang yang bikin tugas malam jadi nggak terlalu ngebosenin.”
Beberapa detik tak ada balasan. Lalu…
Gesi:
“Wow. Kamu ternyata bisa gombal juga.”
Brian:
“Enggak gombal. Aku jujur.”
Brian meletakkan ponsel di meja, tapi pikirannya tetap tertinggal di layar. Rasanya asing bagi dia, memikirkan seseorang lebih dari satu jam setelah bertemu. Apalagi seseorang seperti Gesi.
Gesi membalas lagi, lebih panjang.
Gesi:
“Tadi kamu keliatan beda. Di tengah semua orang yang pura-pura sibuk dan senyum plastik, kamu malah santai, tapi tetap waspada. Itu keren.”
Brian terdiam membaca pesan itu. Lalu mengetik:
Brian:
“Aku nggak jago basa-basi. Mungkin itu sebabnya aku cocok kerja di lapangan, bukan di meja.”
Gesi:
“Kamu tipe yang lebih suka realita ya?”
Brian:
“Realita itu kadang nyakitin, tapi lebih jujur daripada citra.”
Di balik layar ponsel, Gesi terdiam. Dia membaca ulang kalimat itu berkali-kali. Di rumah, ayahnya sedang berbicara panjang lebar di depan layar televisi, membicarakan proyek-proyek pembangunan. Tapi perhatian Gesi tidak ada di situ. Malam ini, pikirannya hanya tertuju pada satu hal: pria berseragam yang tak sok kenal, tak sok hebat, tapi bisa membuatnya merasa dilihat sebagai manusia, bukan sebagai “anak siapa”.
Gesi:
“Kalau kita ketemu lagi, kamu bakal inget aku sebagai siapa?”
Brian:
“Sebagai kamu. Bukan sebagai anak Walikota.”
…
Beberapa Hari Kemudian
Brian berdinas pagi, patroli di kawasan Blok M. Pagi itu panas, lalu mendung sebentar, lalu panas lagi. Jakarta memang moody. Saat sedang istirahat di pos polisi kecil pinggir jalan, notifikasi muncul lagi.
Gesi:
“Hari ini aku ada acara di Perpustakaan Nasional. Males banget.”
Brian:
“Kabur aja. Kita minum kopi.”
Gesi:
“Beneran?”
Brian:
“Serius. Gue juga lagi libur siang.”
Tak sampai sejam kemudian, mereka duduk di kafe kecil dekat taman Menteng. Gesi memakai hoodie dan masker, Brian pakai kaus hitam dan topi. Mereka terlihat seperti dua mahasiswa yang sedang bolos kelas.
“Kamu beneran mau minum kopi sama orang yang baru kamu kenal seminggu?” tanya Brian sambil menyeruput kopinya.
Gesi menatapnya. “Iya. Soalnya kamu bikin aku ngerasa kayak manusia. Bukan sekadar nama belakang.”
…
Hujan turun sejak sore, membuat jalanan Jakarta basah dan macet. Brian menepi di dekat halte bus, helm masih terpasang di kepala, jaketnya lembap. Dia baru saja selesai mengantar Gesi pulang setelah mereka makan bakso di warung kaki lima langganan Brian yang sekarang juga jadi favorit Gesi.
Bukan momen romantis di restoran mahal. Bukan tempat dengan musik jazz dan lilin-lilin kecil. Tapi entah kenapa, justru tawa Gesi saat minta tambah kerupuk, atau ekspresi kagetnya waktu sambal baksonya kepedesan, semuanya melekat di kepala Brian seperti film yang diputar ulang diam-diam.
Dia baru sadar, sejak kapan perasaan itu tumbuh?
Bukan saat pertama kali bertemu. Bukan juga waktu pertama kali saling kirim pesan.
Tapi tadi, saat Gesi dengan polosnya bilang, “Makasih ya, udah bikin aku lupa jadi anak pejabat.”
Itu pertama kalinya seseorang bilang begitu padanya dengan mata yang nggak pura-pura, dengan nada yang nggak dibuat-buat.
Brian turun dari motornya, duduk di pinggiran trotoar yang basah. Helm dia lepas, ditaruh di samping.
Jakarta tetap bising, tetap ramai, tapi Brian merasa kosong dalam cara yang aneh. Karena biasanya setelah antar orang pulang, dia bisa langsung pulang. Tapi sekarang?
Dia pengin balik lagi. Bukan karena lupa sesuatu. Tapi karena ada yang tertinggal: senyuman Gesi.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk.
Gesi:
“Udah nyampe rumah?”
Brian:
“Belum. Masih di jalan. Hujan.”
Gesi:
“Hati-hati. Jangan ngebut.”
Brian menatap pesan itu beberapa detik. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Lalu dia membalas:
Brian:
“Kalau besok hujan lagi, kamu mau tetap pergi?”
Gesi:
“Tergantung, pergi sama siapa.”
Brian:
“Kalau sama aku?”
Butuh waktu beberapa menit sebelum balasan itu muncul.
Gesi:
“Kalau sama kamu, hujan juga nggak masalah.”
Dan di situ, Brian benar-benar jatuh cinta.
Tanpa suara, tanpa ledakan, tanpa deklarasi.
Cuma lewat satu pesan.