Brian menghabiskan dua malam tanpa tidur.
Laptopnya penuh dengan dokumen transaksi yang dia telusuri satu per satu. Dia memeriksa laporan keuangan, pola transfer, hingga nama-nama penerima dana yang tersebar di berbagai rekening perusahaan cangkang.
Dan akhirnya, dia melihat pola yang jelas.
1. PT Global Prima Nusantara menerima aliran dana dari beberapa perusahaan luar negeri yang berafiliasi dengan jaringan kriminal Asia Tenggara.
2. Perusahaan ini kemudian mencuci uang melalui berbagai proyek fiktif, sebagian besar terkait dengan pembangunan infrastruktur di Jakarta Selatan.
3. Sebagian besar uang yang dicuci berakhir di rekening pejabat kementerian perpajakan, termasuk Ardy Suryacipta.
Brian menyandarkan kepalanya ke kursi.
Ini bukti awal yang kuat. Tapi belum cukup untuk menyeret mereka ke pengadilan.
Dia butuh sesuatu yang lebih konkret.
Sebuah saksi.
Atau lebih baik lagi… seseorang di dalam kementerian perpajakan yang bisa membocorkan informasi langsung.
…
Siang itu, Brian duduk di dalam mobilnya, mengamati salah satu gedung kementerian perpajakan dari kejauhan.
Dia sudah menelusuri daftar pegawai yang memiliki akses ke dokumen-dokumen sensitif.
Dan salah satu nama yang menarik perhatiannya adalah Bayu Rinaldi.
Seorang auditor internal di kementerian.
Yang lebih menarik? Dia pernah mengajukan laporan tentang transaksi mencurigakan di kementerian tiga bulan lalu. Tapi laporan itu tidak pernah ditindaklanjuti.
Brian yakin Bayu tahu sesuatu.
Tapi masalahnya, Bayu juga bisa jadi target. Jika benar dia pernah mencoba membocorkan informasi, ada kemungkinan dia sedang diawasi oleh orang-orang yang ingin menutupi skandal ini.
Brian mengecek jam tangannya. 17.45.
Menurut data yang dia dapat, Bayu biasanya pulang sekitar pukul 18.00.
Dan benar saja, lima belas menit kemudian, seorang pria berkemeja biru keluar dari gedung. Bayu Rinaldi.
Brian langsung menyalakan mesin mobilnya dan mengikuti dari kejauhan.
Bayu naik motor, melaju melewati beberapa persimpangan sebelum akhirnya berhenti di sebuah warung kopi kecil di pinggir jalan.
Brian turun dan masuk ke dalam warung, pura-pura menjadi pelanggan biasa.
Dia memesan kopi, lalu duduk di meja dekat Bayu.
Setelah beberapa saat, dia akhirnya membuka suara.
“Pak Bayu?”
Bayu mengangkat wajahnya, jelas terkejut. “Iya, saya.”
Brian mencondongkan tubuhnya ke depan. “Saya dari kepolisian. Bisa kita bicara sebentar?”
Bayu menatapnya curiga. “Tentang apa?”
Brian menatapnya tajam. “Tentang laporan yang pernah Bapak ajukan tiga bulan lalu. Dan tentang kenapa laporan itu tidak pernah sampai ke tangan yang seharusnya.”
Bayu langsung terlihat panik. Dia menelan ludah, lalu cepat-cepat melihat ke sekeliling, seakan memastikan tidak ada yang mengawasi.
“Saya… saya nggak tahu apa yang Anda bicarakan.”
“Jangan bohong, Pak Bayu,” kata Brian pelan, tapi tegas. “Saya tahu Bapak menemukan sesuatu yang besar. Dan saya tahu ada orang yang ingin Bapak diam.”
Bayu semakin gelisah.
“Tolong, Pak,” lanjut Brian. “Saya cuma mau kebenaran. Dan kalau Bapak mau selamat, Bapak harus bicara sekarang.”
Bayu menatap Brian selama beberapa detik.
Lalu, dengan suara pelan, dia berkata:
“Kalau saya bicara… saya bisa mati.”
…
Bayu menatap Brian dengan mata penuh kecemasan. Tangannya gemetar saat ia menggenggam gelas kopinya.
“Kalau saya bicara, saya bisa mati,” ulangnya dengan suara lebih pelan, hampir berbisik.
Brian tetap tenang, meskipun di dalam kepalanya, ia sudah memikirkan banyak skenario.
“Saya bisa melindungi Bapak,” kata Brian mantap.
Bayu tertawa kecil, getir. “Anda pikir polisi bisa melindungi saya? Laporan saya saja dihilangkan sebelum sampai ke atasan. Ini bukan kasus kecil, Pak. Ini lebih besar dari yang Anda kira.”
Brian menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Coba ceritakan dari awal.”
Bayu menghela napas panjang, melihat ke sekeliling sekali lagi sebelum akhirnya bersuara.
“Tiga bulan lalu, saya mulai mencurigai transaksi dalam sistem pajak yang tidak wajar. Ada perusahaan-perusahaan yang mendapatkan restitusi pajak dalam jumlah besar, padahal secara teori, mereka tidak seharusnya mendapatkannya. Saya telusuri lebih jauh, dan ternyata perusahaan-perusahaan ini hanya perusahaan cangkang, tidak ada operasionalnya, tidak ada pegawai, bahkan beberapa hanya menggunakan alamat palsu.”
Brian mengangguk, tetap fokus.
“Salah satu perusahaan yang paling mencurigakan adalah PT Global Prima Nusantara. Saya cari tahu siapa pemiliknya, tapi dokumen yang saya temukan penuh dengan identitas palsu. Saya pikir itu hanya modus pencucian uang biasa, sampai saya menemukan sesuatu yang lebih dalam…”
Bayu berhenti sejenak, seakan ragu untuk melanjutkan.
Brian mencondongkan tubuhnya ke depan. “Apa yang Bapak temukan?”
Bayu menatap Brian dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Perusahaan ini terhubung dengan seseorang di Kementerian Perpajakan.”
Brian merasa jantungnya berdetak lebih cepat. “Siapa?”
Bayu menarik napas dalam-dalam.
“Ardy Suryacipta.”
Brian sudah menduga ini. Tapi mendengarnya langsung dari seseorang yang pernah menyelidiki kasus ini membuatnya terasa lebih nyata.
“Ardy Suryacipta memfasilitasi pencucian uang ini. Dia yang menyetujui restitusi pajak fiktif ke perusahaan-perusahaan yang sebenarnya tidak berhak mendapatkannya. Dari sana, uang dicuci dan dikembalikan ke orang-orang yang mengendalikan jaringan ini.”
Brian menyatukan potongan-potongan informasi dalam kepalanya.
“Jadi, PT Global Prima Nusantara mengajukan klaim restitusi pajak yang seharusnya tidak sah, tapi Ardy menyetujuinya?”
Bayu mengangguk. “Tepat. Dan ada lebih dari lima belas perusahaan lain yang melakukan hal serupa. Tapi Global Prima adalah yang terbesar. Mereka mengalirkan uang ke beberapa rekening di luar negeri sebelum akhirnya kembali ke Indonesia dalam bentuk investasi fiktif.”
“Siapa yang berada di balik semua ini?” tanya Brian serius.
Bayu menelan ludah.
“Seorang pejabat tinggi. Saya tidak punya bukti langsung, tapi dari pola aliran uangnya, semuanya mengarah ke satu nama…”
Brian menahan napas.
“Mahendra Wijaya.”
Brian mengatupkan rahangnya rapat. Ayah Gesi.
Dugaan itu semakin kuat.
Tapi sebelum Brian sempat berkata apa-apa, Bayu tiba-tiba terlihat panik.
“Maaf, saya harus pergi,” katanya buru-buru. “Kalau saya terlalu lama di sini, saya bisa dicurigai.”
Brian mencoba menahannya. “Bapak harus masuk ke dalam perlindungan saksi. Ini sudah terlalu besar untuk ditutup-tutupi!”
Bayu menggeleng cepat. “Anda tidak mengerti, Pak. Mereka sudah tahu saya menyelidiki ini. Saya sudah pernah diancam.”
“Siapa yang mengancam?”
Bayu menggigit bibirnya, seakan tidak ingin menjawab.
Tapi kemudian, dia berbisik pelan.
“Orang dari kepolisian sendiri.”
Brian terkejut. “Apa maksud Bapak?”
Bayu berdiri, memasukkan tangannya ke dalam saku dan meletakkan sesuatu di atas meja.
Sebuah flash drive.
“Saya sudah menyimpan beberapa dokumen di sini. Gunakan dengan hati-hati,” katanya. “Dan kalau saya mati… tolong selesaikan ini.”
Tanpa menunggu jawaban, Bayu berjalan cepat keluar dari warung kopi dan meninggalkan Brian yang masih tercengang.
Brian menatap flash drive di tangannya.
Ia belum tahu apa isinya.
Tapi satu hal yang pasti…
Kasus ini lebih kotor dari yang ia bayangkan.
Dan sekarang, ia tahu bahwa bahkan di dalam kepolisian pun ada yang bermain di balik layar.
…
Brian menatap flash drive di tangannya.
Ia tahu, begitu ia membuka file di dalamnya, tidak akan ada jalan kembali.
Ia menarik napas panjang, lalu menyalakan laptopnya di kamar apartemen. Dengan tangan mantap, ia memasukkan flash drive itu ke port USB.
Satu folder muncul.
DOKUMEN_TERLARANG
Jantung Brian berdegup lebih kencang.
Ia membuka folder itu. Ada puluhan file di dalamnya dokumen transaksi, laporan pajak, rekaman suara, dan bahkan video.
Brian membuka salah satu file transaksi.
Tanggal: 12 Januari 2025
Pengirim: PT Global Prima Nusantara
Penerima: Rekening atas nama “Mahendra Wijaya” (Bank Offshore, Cayman Islands)
Jumlah: USD 5,000,000
Keterangan: “Fee proyek infrastruktur Jakarta Selatan”
…
Brian mengepalkan tangannya. Ini dia.
Bukti langsung bahwa ayah Gesi menerima uang hasil pencucian dari perusahaan fiktif.
Ia membuka lebih banyak file. Ada daftar pejabat kementerian perpajakan yang menerima aliran dana dari berbagai perusahaan cangkang. Dan salah satu nama yang muncul berkali-kali?
Ardy Suryacipta.
Semuanya semakin jelas.
Ardy bukan sekadar pejabat biasa. Ia adalah dalang yang mengatur skema pencucian uang ini.
Dan Mahendra Wijaya?
Ia adalah otak di balik semua ini.
Brian menutup laptopnya, mengusap wajahnya dengan kasar.
Kasus ini lebih dalam dari yang ia kira.
…
02.15 WIB
Brian terbangun karena suara aneh di luar apartemennya.
Ia langsung meraih pistolnya yang ia letakkan di laci samping tempat tidur.
BRUK.
Ada seseorang di lorong depan apartemen.
Brian bergerak cepat, meredupkan lampu kamar dan berdiri di balik pintu. Dengan perlahan, ia meraih lubang intip di pintu.
Seorang pria berbadan tegap berdiri di luar.
Memegang pisau.
Brian langsung mundur. Ini bukan perampok biasa.
Orang ini datang untuknya.
Brian mengepalkan pistolnya, menarik napas dalam. Ia harus keluar dari sini sebelum pria itu menyerangnya lebih dulu.
…
02.15 WIB
Sebuah suara halus membangunkan Brian.
Bukan suara keras seperti pintu diketuk atau kaca pecah. Tapi suara yang lebih berbahaya.
Suara langkah kaki pelan.
Brian tidak menyalakan lampu. Ia tetap diam di tempat tidur, hanya meraih pistolnya dari laci. Matanya mengarah ke celah pintu kamar, mengamati pantulan cahaya dari luar apartemen.
Bayangan seseorang bergerak di lorong.
Seseorang sudah masuk.
Sial!
Brian bangkit secepat kilat dan bergerak ke samping lemari. Ia menahan napas, bersiap menunggu.
Cklek.
Pintu kamarnya terbuka perlahan.
Seorang pria berbadan tegap melangkah masuk, bergerak hampir tanpa suara.
Brian hanya punya detik-detik untuk menyerang lebih dulu.
Begitu pria itu melewati batas pintu, Brian melesat keluar dari kegelapan.
DHAK!
Sikutnya menghantam rahang pria itu. Tapi pria itu tidak tumbang.
Sebaliknya, ia berbalik dengan kecepatan luar biasa, mengayunkan pisau belati ke arah perut Brian.
Brian mundur setengah detik lebih lambat, ujung pisau menggores kaosnya, nyaris menembus kulitnya.
Pria itu langsung menyerang lagi.
Brian mengangkat lengannya, menangkis serangan pisau itu, tapi pria itu lebih kuat.
BRUK!
Sebuah tendangan menghantam perut Brian, membuatnya terdorong ke belakang.
Tapi sebelum pria itu bisa melanjutkan, Brian meraih gelas kaca dari meja samping dan melemparkannya keras-keras ke wajah pria itu.
PRANGG!
Pria itu terhuyung, refleks menutupi wajahnya yang terkena pecahan kaca.
Brian tidak membuang waktu.
Dengan satu gerakan cepat, ia menyapu kaki pria itu.
BRUK!
Pria itu jatuh keras ke lantai. Pisau terlempar dari tangannya.
Brian langsung menindihnya, satu tangan mencengkeram kerah bajunya, sementara ujung pistolnya menempel di pelipis pria itu.
“SIAPA LU?!” bentak Brian, napasnya berat.
Pria itu menyeringai, darah mengalir dari dahinya. Tapi yang membuat Brian merinding adalah tatapan matanya.
Tatapan seorang pembunuh.
“Lambat sekali, Detektif.”
Brian mencengkeram lebih erat. “SIAPA YANG NGIRIM LU?!”
Pria itu tertawa kecil, lalu menggerakkan lidahnya ke dalam mulut.
SIAL!
Brian langsung sadar apa yang akan terjadi.
CYT!
Pria itu menggigit sesuatu di dalam mulutnya, lalu tiba-tiba tubuhnya menegang.
Mulutnya berbusa. Matanya membelalak.
Brian mundur cepat.
Dalam hitungan detik, pria itu mati dengan racun sianida di mulutnya.
Brian menatap tubuh yang tak lagi bernyawa itu, otaknya bekerja cepat.
Seseorang mengirim pembunuh bayaran untuknya.
Dan hanya ada satu orang yang cukup berkuasa untuk melakukan itu.
…
Brian berdiri di depan tubuh pria yang terbujur kaku di lantai, matanya menatap pisau yang tergeletak di dekatnya. Sianida. Itu yang pertama kali terlintas di benaknya. Racun mematikan ini bekerja sangat cepat, hampir tanpa jejak.
Suasana ruangan itu terasa semakin menekan. Tidak ada suara selain deru napas Brian yang berat. Matanya masih terfokus pada pria itu, tetapi pikirannya mulai bergerak cepat, berusaha mencari petunjuk dari apa yang baru saja terjadi.
“Ini nggak bisa dibiarkan begitu saja,” gumam Brian pelan. Ia segera meraih ponselnya dan menekan nomor darurat.
“Tim forensik, segera kirimkan unit ke lokasi saya,” katanya dengan suara tegas. “Ada tubuh yang perlu diamankan.”
Suara di ujung telepon mengonfirmasi dengan cepat. “Dimengerti, tim akan segera meluncur.”
Brian menutup telepon dan menatap sekeliling. Ruangan ini tampak seperti kantor pribadi yang sederhana, tetapi banyak barang yang menunjukkan akses ke informasi penting dokumen-dokumen yang berserakan, komputer yang masih menyala dengan layar penuh data yang mencurigakan.
Dia berjalan menuju meja, memeriksa layar komputer yang terbuka. Di sana terlihat daftar transaksi mencurigakan yang mengarah pada nama-nama besar. Salah satu yang paling mencolok adalah Mahendra Wijaya, yang terhubung dengan banyak perusahaan fiktif dan akun-akun offshore. Nama itu langsung menarik perhatian Brian, karena dia tahu betul siapa Mahendra—Ayah Gesi.
Brian mengusap wajahnya. Semua ini semakin rumit.
Dia kembali melangkah ke mayat pria itu, memastikan tidak ada bukti yang terlewat. Pisau itu, mungkin bukan hanya alat pembunuh, tapi juga petunjuk.
Brian berdiri, mencerna semua informasi yang baru saja ditemukan. Nama-nama yang muncul di layar komputer, transaksi mencurigakan, dan hubungan-hubungan yang semakin mengarah pada jaringan yang lebih besar dari yang dia bayangkan.
Ia merasa semakin terjepit. Ini lebih besar dari sekadar kasus biasa.
Brian menarik napas dalam-dalam. Dia harus menggali lebih dalam.
…
Brian duduk di tepi tempat tidurnya, tubuhnya terasa lelah dan otaknya penuh dengan kekacauan. Semua yang baru saja dia temui tubuh pria yang terbujur kaku, transaksi-transaksi mencurigakan yang melibatkan nama Mahendra Wijaya, seorang Walikota Jakarta Selatan semuanya semakin membingungkan.
Dia mengusap wajahnya, mencoba menenangkan pikiran yang seolah tidak bisa berhenti berputar. Suasana ruangan yang sunyi terasa semakin mencekam. Dalam sekejap, dia terbaring di kasur, menutup mata, mencoba mencari ketenangan dalam kegelapan.
Namun, seiring napasnya yang mulai teratur, bayangan wajah Gesi muncul di balik kelopak matanya.
…
Brian membuka matanya perlahan. Suara detak jantungnya berdegup pelan, tetapi pikirannya kembali terbangun dengan cepat. Gesi. Nama itu kini mengisi benaknya, seiring dengan kenyataan bahwa ayah Gesi, Mahendra Wijaya, Walikota Jakarta Selatan, terlibat dalam transaksi yang mengarah pada jaringan yang lebih besar.
Apakah Gesi tahu tentang semua ini?
Brian merasa pusing, matanya tertutup kembali, dan tubuhnya merebah ke kasur, mencoba mencari kedamaian di tengah kebingungannya.
Namun, semakin dia mencoba untuk mengabaikan, semakin jelas bahwa ini bukan hanya soal pekerjaan. Ini tentang Gesi. Tentang siapa dia sebenarnya.