Tiga hari berlalu.
Dan Brian gagal.
Dia sudah mengerahkan semua yang dia punya menghubungi informan, menyisir rekaman CCTV, bahkan menyelidiki daftar pengacara palsu yang mungkin terlibat dalam pelarian Arma. Tapi hasilnya nol.
Arma Dwijaya menghilang seperti hantu.
Dan hari ini, Brian berdiri lagi di depan ruangan Kapten Arifin, dengan perasaan yang jauh lebih buruk daripada sebelumnya.
Dia mengetuk pintu.
“Masuk.”
Brian melangkah masuk, dan dia langsung tahu kalau berita yang akan dia terima bukan kabar baik. Kapten Arifin tidak menatapnya dengan wajah marah, tapi dengan ekspresi dingin. Seperti seseorang yang sudah mengambil keputusan yang tidak bisa diubah.
“Duduk,” perintah Kapten Arifin.
Brian menurut.
“Lima belas menit yang lalu, gue dapat telepon dari atasan,” kata Kapten Arifin pelan. “Mereka nggak senang, Brian. Mereka nggak peduli seberapa keras lu bekerja, yang mereka lihat cuma satu hal: Arma Dwijaya masih bebas.”
Brian mengepalkan rahangnya.
“Gue udah bilang ke lu tiga hari lalu,” lanjut Kapten Arifin. “Kalau lu gagal, kasus ini akan diambil alih.”
Brian tetap diam.
“Dan sekarang mereka udah punya tim baru buat nangani Arma.” Kapten Arifin meletakkan sebuah map di atas meja. “Sementara lu dipindahkan.”
Brian mengangkat alis. “Dipindahkan ke mana?”
Kapten Arifin menghela napas. “Ada kasus pencucian uang di kementerian perpajakan. Orang-orang di atas mau lu yang menangani itu sekarang.”
Brian merasa dadanya menegang. “Jadi… gua dicabut dari kasus Arma?”
“Mulai hari ini,” jawab Kapten Arifin tegas. “Lu nggak boleh ikut campur lagi. Ini perintah langsung dari atas.”
Brian mengepalkan tangannya. “Kapten, lu tahu gue masih bisa…”
“Bukan masalah lu masih bisa atau nggak, Brian,” potong Kapten Arifin. “Masalahnya adalah mereka udah kehilangan kepercayaan sama lu.”
Brian menggeretakkan giginya.
Dia ingin berdebat, ingin mengatakan bahwa dia masih punya peluang menangkap Arma. Tapi dia tahu, ini sudah diputuskan di level yang lebih tinggi.
“Mulai besok, lu akan dapat briefing soal kasus baru lu,” lanjut Kapten Arifin. “Dan ingat, Brian… jangan coba-coba ikut campur di kasus Arma lagi. Lu nggak mau bikin atasan makin marah.”
Brian berdiri perlahan.
Dia menatap Kapten Arifin, lalu mengambil map yang ada di meja. “Gue ngerti, Kapten.”
Kapten Arifin menatapnya lama sebelum akhirnya mengangguk. “Bagus.”
Brian berbalik dan berjalan keluar ruangan dengan langkah berat.
Saat dia sudah berada di luar, dia membuka map itu.
Kasus baru. Pencucian uang. Angka-angka dan dokumen transaksi yang membosankan.
Tapi otaknya masih terpaku pada satu nama: Arma Dwijaya.
Dan dia bersumpah, walaupun dia dipindahkan ke kasus lain, dia tidak akan berhenti mengejarnya.
Karena ini bukan hanya soal tugas.
Ini pribadi.
…
Brian duduk di meja barunya di divisi ekonomi dan kejahatan finansial. Ini bukan tempat yang dia inginkan. Tidak ada senjata, tidak ada aksi di jalanan, hanya setumpuk dokumen transaksi bank yang membosankan.
Tapi dia di sini sekarang. Dan kalau dia ingin kembali ke lapangan, dia harus membuktikan dirinya lagi.
Dua jam terakhir, dia sudah membaca ringkasan kasus:
• Ada indikasi pencucian uang besar-besaran di Kementerian Perpajakan.
• Beberapa pejabat tinggi diduga menerima aliran dana ilegal melalui perusahaan-perusahaan cangkang.
• Jumlahnya mencapai ratusan miliar rupiah.
Brian menghela napas, lalu membuka laptopnya. Dia mulai menelusuri laporan keuangan yang sudah dikumpulkan tim sebelumnya.
Di antara angka-angka itu, ada satu nama yang menarik perhatiannya.
PT Global Prima Nusantara.
Perusahaan ini menerima transfer dalam jumlah besar dari luar negeri, lalu mengalirkannya ke beberapa rekening pribadi. Itu sendiri sudah mencurigakan. Tapi yang lebih menarik bagi Brian adalah sesuatu yang lain:
Nama pemilik perusahaan ini tidak diketahui.
Brian mengernyit. Dia mencoba mencari lebih jauh.
Tapi sebelum dia bisa menggali lebih dalam, seorang pria berjas masuk ke ruangannya.
“Brian, ada rapat di ruang briefing sekarang. Lo dipanggil.”
Brian mengangguk, lalu menutup laptopnya.
…
Di ruang briefing, ada sekitar sepuluh orang. Beberapa di antaranya adalah penyelidik dari unit anti-korupsi dan kejahatan finansial.
Seorang pria paruh baya dengan wajah serius berdiri di depan, memperkenalkan diri sebagai Faisal, kepala penyelidikan untuk kasus ini.
“Oke, semuanya. Kita punya kasus pencucian uang terbesar dalam lima tahun terakhir,” kata Faisal sambil menampilkan sebuah diagram di layar. “Kita tahu ada uang gelap yang masuk ke rekening pejabat, tapi yang jadi masalah adalah kita nggak tahu siapa dalangnya.”
Brian menyilangkan tangan di dadanya, mendengarkan.
“Perusahaan-perusahaan ini,” lanjut Faisal sambil menunjuk nama-nama di layar, “semuanya digunakan untuk mencuci uang. Tapi pemilik sebenarnya masih tersembunyi di balik dokumen-dokumen palsu.”
Brian melihat nama PT Global Prima Nusantara ada di sana.
Matanya menyipit.
“Ada pertanyaan?” tanya Faisal.
Brian mengangkat tangan. “Saya mau tahu, apakah ada keterkaitan antara perusahaan-perusahaan ini dengan organisasi kriminal lain?”
Faisal menatapnya sebentar sebelum menjawab. “Sejauh ini, belum ada bukti langsung. Tapi ada indikasi bahwa sebagian dana ini berasal dari perdagangan n*****a dan senjata ilegal.”
Brian merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
Perdagangan n*****a. Senjata ilegal.
Ini terdengar terlalu familiar.
Dia langsung teringat sesuatu: jaringan bisnis Mr. X.
Dan kalau benar ada keterkaitan antara kasus ini dengan dunia kriminal yang lebih luas… maka kemungkinan besar, Arma Dwijaya juga terlibat di dalamnya.
Brian menggenggam pena di tangannya.
Mungkin dia sudah dipindahkan dari kasus Arma. Tapi kalau dia bisa membuktikan bahwa ada hubungan antara kasus ini dengan dunia Arma, maka dia punya alasan untuk mengejarnya lagi.
…
Brian menatap layar laptopnya. Matanya terpaku pada nama yang baru saja dia temukan dalam dokumen kepemilikan perusahaan:
Drs. Mahendra Wijaya, M.M.
Nama yang sangat dia kenal.
Mahendra Wijaya bukan hanya seorang pejabat biasa. Dia adalah Wali Kota Jakarta Selatan.
Dan lebih dari itu… dia adalah ayah Gesi.
Brian mengusap wajahnya. Otaknya langsung bekerja, mencoba mencari kemungkinan lain. Tapi data yang dia lihat terlalu jelas untuk disangkal.
PT Global Prima Nusantara perusahaan yang digunakan untuk mencuci ratusan miliar rupiah uang haram, secara tidak langsung terhubung ke Mahendra Wijaya.
Tapi ini belum selesai.
Brian menelusuri dokumen transaksi lain, mencari tahu siapa saja yang menerima aliran uang dari perusahaan ini.
Dan di antara nama-nama itu, ada satu yang membuatnya tertegun.
Ardy Suryacipta, S.E.
Brian merasakan dadanya sesak seketika.
Ardy. Suami Gesi.
Pria yang dulu mengalahkannya dalam perebutan hati Gesi. Pria yang sekarang ternyata bekerja sebagai pejabat eselon 3 di Direktorat Jenderal Pajak.
Pria yang, berdasarkan dokumen ini, terlibat dalam pencucian uang.
Brian mencengkeram meja.
Terlalu banyak kebetulan. Atau mungkin ini bukan kebetulan sama sekali?
Apa Gesi tahu soal ini? Apa dia sadar bahwa suami dan ayahnya terlibat dalam skandal korupsi terbesar di negara ini?
Atau… dia juga ikut terlibat?
Brian menggelengkan kepala. Tidak. Dia mengenal Gesi. Dia tidak mungkin ikut bermain di lumpur ini.
Tapi itu tidak mengubah fakta bahwa keluarganya terlibat.
Dan sekarang, Brian dihadapkan pada pilihan yang mustahil:
• Terus menyelidiki dan menghancurkan keluarga Gesi.
• Menutup mata dan membiarkan kejahatan ini terus berjalan.
Jawabannya seharusnya jelas. Sebagai polisi, dia tahu apa yang harus dia lakukan.
Tapi sebagai manusia… sebagai pria yang masih belum sepenuhnya melupakan Gesi… dia merasa perutnya mual hanya dengan memikirkannya.
Brian menarik napas dalam-dalam.
Dia tidak boleh emosional. Ini adalah kasus besar. Dan dia harus menanganinya seperti seorang profesional.
Tapi satu hal yang pasti…
Dia harus bertemu dengan Gesi.