Arma menatap Adrian dengan pandangan penuh arti. “Jadi, lu udah siapin jalan keluar?”
Adrian bersandar ke kursinya, matanya tetap awas ke kaca satu arah yang ada di ruangan interogasi. Dia tahu Brian pasti ada di luar, mengawasi setiap gerak-geriknya.
“Rencana awalnya, ya,” gumam Adrian pelan. “Tapi sekarang kita punya masalah. Brian lebih curiga daripada yang gue kira.”
Arma terkekeh pelan. “Dia memang selalu begitu. Makanya, gue nikmatin tiap detik buat ngerusak fokusnya.”
Adrian menekan rahangnya. “Kali ini nggak bisa main-main, Arma. Lu nggak cuma ditangkap karena satu kasus, lu buronan kelas berat.”
“Makanya, kita harus jalan sekarang,” bisik Arma, tatapannya lebih serius. “Gue nggak bisa berlama-lama di sini.”
Adrian melirik jam tangannya. “Dengar, gue udah siapkan mobil di parkiran belakang. Gue bakal minta mereka pindahin lu ke ruang tunggu sebelum dibawa ke sel utama. Di situ, gue bakal bikin kekacauan kecil, cukup buat ngasih kita celah buat keluar.”
Arma mengangguk pelan. “Gue suka kekacauan.”
Adrian menatapnya tajam. “Pastikan lu nggak macam-macam. Gue di sini bukan buat nyelamatin lu doang, tapi buat sesuatu yang lebih besar dari ini.”
Arma tersenyum miring. “Gue tahu. Makanya, gue percaya sama lu.”
Adrian berdiri, mengenakan kacamatanya lagi. Dia mengetuk meja sekali, kode kecil yang hanya dimengerti oleh mereka berdua lalu berjalan keluar dengan ekspresi tenang.
…
Brian berdiri di luar ruangan dengan tangan terlipat di d**a. Begitu Adrian keluar, dia langsung menghentikan langkahnya.
“Udah selesai?” tanya Brian dingin.
Adrian hanya tersenyum sopan. “Klien saya memutuskan untuk menggunakan haknya buat tetap diam. Kayaknya dia nggak bakal ngomong apa-apa tanpa perintah saya.”
Brian menatapnya tajam, mencari kebohongan di balik wajah tenang itu.
“Lu beneran pengacara?” tanyanya tiba-tiba.
Adrian mengangkat bahu. “Apa gue keliatan kayak bukan?”
Brian nggak menjawab. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang salah. Tapi sebelum dia bisa menggali lebih dalam, salah satu petugas lain datang menghampirinya.
“Brian, ada masalah di ruang bukti,” kata petugas itu. “Beberapa barang sitaan hilang.”
Brian mengumpat pelan. Dia menoleh ke arah Adrian, yang masih berdiri di tempatnya.
“Sebaiknya lu jangan ke mana-mana,” kata Brian sebelum berjalan cepat ke arah ruang bukti.
Adrian menunggu sampai Brian menghilang di lorong, lalu dengan gerakan cepat, dia berbalik dan berjalan menuju ruang administrasi. Dia harus memastikan rencananya berjalan mulus.
Di ruang interogasi, Arma menunggu dengan sabar. Dia tahu, dalam hitungan menit, dia akan bebas.
…
Ruang interogasi terasa semakin sunyi. Arma mengetukkan jarinya ke meja besi, menghitung detik demi detik dalam kepalanya.
Lima… Empat… Tiga…
BOOM!
Sebuah ledakan kecil terdengar dari arah lorong belakang kantor polisi. Alarm kebakaran langsung meraung, lampu darurat berkedip-kedip, dan suara langkah kaki para petugas memenuhi udara.
Tepat seperti yang direncanakan.
Arma menyeringai.
Pintu ruang interogasi terbuka, dan Adrian muncul dengan ekspresi tergesa.
“Kita harus pergi sekarang,” bisik Adrian sambil menyerahkan sebuah kunci borgol yang dia selundupkan di balik jasnya.
Arma langsung membuka borgolnya dan berdiri. “Gue udah kangen udara luar.”
Mereka keluar dari ruangan dengan tenang, menyusuri koridor yang penuh dengan petugas yang panik. Asap tipis menyelimuti udara, membuat semuanya semakin kacau.
Di sudut lain kantor polisi, Brian baru saja kembali dari ruang bukti saat melihat para petugas berlarian.
“Apa yang terjadi?” bentaknya.
“Ledakan di ruang server, kemungkinan korsleting listrik!” jawab salah satu petugas.
Mata Brian menyipit. Dia tahu ini bukan kebetulan.
Dan saat itu juga, instingnya mengatakan sesuatu: Arma Dwijaya akan kabur.
Tanpa pikir panjang, Brian langsung berlari menuju ruang interogasi. Tapi begitu dia sampai di sana, ruangan itu kosong.
“b******k!” Brian mengumpat, langsung merogoh radio komunikasinya. “Semua unit, periksa pintu keluar! Tersangka Arma Dwijaya berusaha melarikan diri!”
Sementara itu, Arma dan Adrian sudah hampir sampai di parkiran belakang.
Sebuah mobil sedan hitam sudah menunggu dengan mesin menyala. Adrian membuka pintu belakang, memberi isyarat pada Arma untuk masuk.
“Masuk cepat!” desak Adrian.
Arma melompat masuk, sementara Adrian mengambil tempat di kursi depan.
Saat mereka baru saja menutup pintu...
DOR!
Peluru menghantam kaca belakang mobil, nyaris mengenai kepala Arma.
Dari kejauhan, Brian berdiri dengan pistol terangkat. Matanya penuh amarah.
“Jalan sekarang!” teriak Adrian ke pengemudi.
Ban mobil berdecit saat mereka melesat keluar dari parkiran, meninggalkan Brian yang masih menembakkan satu peluru lagi. Kali ini, tembakannya meleset.
Brian mengepalkan tangan, rahangnya mengeras.
Dia bersumpah dalam hati.
Ini belum selesai.
…
Brian berdiri diam di depan ruangan Kapten Arifin. Rahangnya mengeras, napasnya masih sedikit memburu setelah kegagalan barusan.
Dia tahu ini akan terjadi.
Dia mengetuk pintu dua kali sebelum suara berat dari dalam ruangan mempersilakannya masuk.
Begitu dia membuka pintu, Kapten Arifin sudah duduk di belakang meja dengan ekspresi yang sulit dibaca. Matanya tajam menelusuri laporan di tangannya, laporan yang jelas-jelas tentang pelarian Arma Dwijaya.
Brian menutup pintu, lalu berdiri tegap di hadapan atasannya.
“Brian,” suara Kapten Arifin terdengar berat. “Gue udah kerja di kepolisian selama dua puluh lima tahun. Dan selama itu, gue belum pernah melihat sesuatu sekacau ini.”
Brian mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Dia menunggu kalimat selanjutnya.
“Lu tahu siapa yang lu hadapi?” lanjut Kapten Arifin, melempar berkas ke meja. “Arma Dwijaya bukan penjahat kelas teri. Dia buronan yang udah jadi target kita selama berbulan-bulan. Dan dia berhasil lolos. Di kantor kita sendiri.”
Brian menarik napas panjang. “Saya yang akan menangkapnya lagi.”
Kapten Arifin menyipitkan mata. “Lu bahkan nggak sadar kalau dia punya orang dalam yang menyamar sebagai pengacara. Mau tahu apa yang lebih parah dari itu?”
Brian tetap diam.
“Media mulai mencium baunya,” lanjut Kapten Arifin. “Besok pagi, semua berita bakal ngomongin satu hal: Polisi gagal menangkap Arma Dwijaya.”
Brian menggeretakkan giginya.
Kapten Arifin bersandar di kursinya. “Atasan gue udah nelepon gue. Mereka minta kepala seseorang buat bertanggung jawab. Dan tebak siapa yang paling masuk akal?”
Brian menegakkan tubuh. “Saya nggak akan mundur, Kapten.”
“Hmm.” Kapten Arifin menatapnya lama. “Gue bisa aja cabut lu dari kasus ini, tahu?”
Brian langsung menatap atasannya dengan tajam. “Jangan.”
Kapten Arifin mendengus. “Gue tahu lu keras kepala. Makanya gue kasih satu kesempatan lagi. Tapi kalau lu gagal lagi…”
Dia membiarkan kalimatnya menggantung di udara. Tapi Brian mengerti maksudnya.
“Lu punya waktu tiga hari buat nemuin Arma Dwijaya,” kata Kapten Arifin akhirnya. “Kalau nggak, kasus ini diambil alih, dan lu dibuang dari unit ini.”
Brian mengepalkan tangannya. Tiga hari. Itu nggak banyak waktu. Tapi dia nggak akan membiarkan Arma menang begitu saja.
“Saya ngerti, Kapten,” jawabnya mantap.
Kapten Arifin mengangguk. “Mulai dari sekarang, kerja sendiri. Jangan percaya siapa pun. Bahkan orang dalam kita bisa aja udah kecolongan.”
Brian mengangguk, lalu berbalik dan keluar dari ruangan.
Di lorong yang sepi, dia menghela napas panjang. Otaknya bekerja cepat, memikirkan langkah selanjutnya.
Lalu, dia mengeluarkan ponselnya dan mengetik satu pesan:
“Gue butuh info tentang Arma. Segera.”
Dia mengirim pesan itu ke satu kontak rahasia. Seseorang yang bisa membantunya mencari jejak Arma di dunia yang lebih gelap.
Karena kali ini, dia nggak akan main aman lagi.