Kabinet kerja Mahendra Wijaya mulai memanas. Bukti-bukti di media yang mendadak muncul dengan detail yang tidak seharusnya diketahui publik membuatnya gelisah. Ini bukan lagi soal Brian atau Gesi. Ini tentang pengkhianatan dari dalam.
Mahendra menyempitkan mata di ruang kerjanya. Di layar, berita terbaru memuat transkrip rahasia pertemuan antara Ardy Suryacipta dengan perwakilan dari sebuah perusahaan fiktif yang digunakan sebagai jalur pencucian uang. Data itu hanya bisa diakses oleh orang-orang terdekat.
“Ardy,” gumam Mahendra. “Kau pikir aku bodoh?”
Ia memanggil ajudannya. “Pantau semua komunikasi Ardy. Telepon, email, bahkan sinyal bluetooth-nya. Aku mau tahu siapa yang dia temui, siapa yang dia sembunyikan.”
Sementara itu, Ardy sendiri sedang duduk gelisah di ruangannya. Bukan karena Mahendra. Tapi karena orang lain yang lebih berbahaya.
Bayu Rinaldi.
Orang itu muncul kembali dari masa lalu. Lewat email terenkripsi, Bayu mengirimkan satu rekaman video. Di layar:
• Mahendra berbicara dengan seorang bos kartel lama yang kini menghilang.
• Ardy terlihat duduk di meja yang sama, menyetujui pengiriman dana untuk ‘proyek siluman’.
• Bahkan ada cuplikan singkat Brian dan Gesi, saat mereka pertama kali dipertemukan di acara amal yang ternyata hanyalah kedok.
“Kalau kau tidak mau video ini bocor ke KPK dan media luar negeri,” tulis Bayu, “serahkan apa yang kuminta.”
Bayu tidak main-main. Dia bukan sekadar oportunis. Dia dalang yang membiarkan bom waktu berdetik… menunggu siapa yang pertama kehilangan kendali.
…
Di tempat lain, Brian baru saja menerima kiriman anonim: sepotong rekaman yang sama, bagian yang hanya menampilkan Mahendra. Tanpa suara, hanya visual. Tapi cukup untuk memicu intuisi penyidiknya.
Brian memutar video itu berulang-ulang. Kenapa sekarang? Kenapa dia dikirimi ini?
Gesi? Tidak mungkin. Bayu?
Dia mulai menyatukan potongan-potongan ini. Tiba-tiba, ini bukan cuma soal membongkar kasus korupsi. Ini perang informasi.
…
Mahendra sekarang tidak hanya dikelilingi musuh dari luar. Dia mulai melihat bayangan musuh di balik cermin. Bahkan dirinya sendiri.
Ardy mencoba mencari Bayu diam-diam, berharap bisa membeli kembali rekaman itu. Tapi Bayu tidak ingin uang. Ia ingin sesuatu yang lebih: posisi. Kekuasaan. Dan pengakuan.
Sementara di luar istana kekuasaan itu, Brian menunggu di gelap. Mengumpulkan kepingan demi kepingan.
Kebenaran bukan hanya soal siapa yang bersalah.
Tapi siapa yang siap menanggung konsekuensinya.
…
Bayu Rinaldi tak sempat kabur. Anak buah Mahendra meringkusnya di sebuah hotel kecil di Bogor. Tapi pria itu tersenyum saat borgol menjerat pergelangan tangannya.
“Terlambat,” ucap Bayu pelan. “Kalian baru menyentuh ujungnya. Sisanya sudah berjalan.”
Mahendra tidak tahu, semua rekaman video pemerasan, bukti transfer, bahkan potongan percakapan Ardy dengan pihak asing telah tersebar dalam sistem otomatis. Satu kata sandi, satu sinyal mati dari Bayu, dan semuanya bakal meledak ke luar.
Dan sinyal itu baru saja dikirim.
Di waktu yang hampir bersamaan, sebuah video anonim muncul di situs whistleblower internasional. Judulnya: “Korupsi Terstruktur dan Sistematis di Pemerintahan Jakarta Selatan.”
Video itu menampilkan:
• Mahendra bertemu dengan penyandang dana ilegal.
• Ardy menyetujui gratifikasi.
• Percakapan kompromi proyek siluman.
• Dan cuplikan kecil: Ardy memfitnah Siska dalam rapat internal.
Boom.
Media nasional dan internasional kalang kabut. Nama Mahendra dan Ardy langsung trending di semua platform. Netizen memadati kolom komentar dengan tagar #MafiaKekuasaan dan #SaveJaksel.
…
Mahendra panik. Tapi alih-alih menyusun strategi, dia malah terjebak dalam paranoia.
Dalam waktu 24 jam, dua orang dekatnya ditemukan bunuh diri atau setidaknya begitu laporan polisi menyebutnya. Yang satu adalah kepala bagian TI. Yang satunya adalah ajudan yang biasa menangani dokumen pribadinya.
Tapi bisik-bisik internal mengatakan mereka dihilangkan. Mereka tahu terlalu banyak.
…
Siska, yang sebelumnya tenggelam dalam stigma dan framing, muncul kembali. Dia berdiri di depan kamera, tenang, anggun, dan berani.
“Saya bukan korban. Saya saksi. Dan saya siap bicara. Keadilan bukan milik para elit. Keadilan milik rakyat.”
Dukungan publik membludak. Aktivis mulai bergerak. LSM hukum menghubungi Siska untuk bergabung sebagai pelapor utama ke KPK. Wartawan investigasi internasional sudah bersiap wawancara.
Mahendra terkepung dari dua sisi:
• Siska di luar, menyulut gelombang massa dan hukum.
• Bayu di dalam, dengan bom waktu digital yang sudah menyebar.
Dan saat Mahendra menatap layar komputernya, satu pesan muncul dari akun anonim:
“Langkah selanjutnya bukan di tanganmu lagi.”
…
Langit Jakarta malam itu merah, bukan karena senja, tapi karena ribuan notifikasi yang menyala di seluruh ponsel para pejabat tinggi negeri ini. File-file rahasia bocor, data-data keuangan yang dulu terkubur kini berserakan di dunia maya, dan di antara semua itu nama Mahendra Wijaya dan Ardy Suryacipta muncul paling jelas, paling mencolok, paling menjijikkan.
…
Di Balai Kota, Mahendra mengamuk. Ruangannya berantakan. Ponsel dilempar, meja dibalik, berkas disobek.
“Apa maksudnya ini semua?!” bentaknya kepada tim hukumnya yang hanya bisa diam.
Tak ada yang bisa menjawab. Semua terlalu sibuk menghapus jejak sendiri. Karena kini bukan hanya Mahendra yang terancam, semua yang pernah bersentuhan dengannya ikut terbakar.
Dan di tengah kekacauan itu, Mahendra menerima sebuah surat misterius di meja kerjanya. Tanpa pengantar, tanpa pengirim. Hanya satu kalimat:
“Yang kau kubur hidup-hidup, kini datang menggali kuburmu.”
Tangannya gemetar.
…
Di sebuah apartemen tersembunyi, Siska sedang melakukan siaran langsung. Dia tak lagi takut. Di belakangnya berdiri puluhan pengacara, aktivis, dan mantan staf yang siap membuka mulut.
“Bapak Mahendra dan Ardy telah mencemari institusi, memeras warga, dan membungkam siapa pun yang mencoba melawan. Saya adalah satu dari sekian banyak korban. Tapi ini belum berakhir. Ini baru awal.”
Siaran itu ditonton jutaan orang. KPK dan Interpol kini tak bisa lagi tinggal diam.
…
Sementara itu di kediaman Ardy…
Ardy sedang dikelilingi oleh timnya. CCTV rumahnya mati. Sistem pengaman dibobol. Alarm tidak berbunyi.
Lalu terdengar bunyi langkah. Perlahan. Terukur.
Seseorang masuk dengan wajah tertutup masker. Di tangan kirinya, sebuah kotak kecil berisi vial cairan bening.
“Sudah waktunya kamu bayar,” ucap pria itu pelan.
Ardy tak bisa bergerak. Tak bisa bicara. Dunia di sekelilingnya mulai gelap.
…
Di sudut lain kota, Brian duduk dalam diam. Matanya menatap layar laptop yang memperlihatkan penyebaran dokumen Bayu yang telah dikunci otomatis. Dia tak perlu melakukan apapun lagi. Semua sudah berjalan seperti yang seharusnya.
Tapi satu pertanyaan menggantung:
Apa Gesi tahu semua ini? Apa dia masih percaya pada suaminya? Atau… apakah dia ikut menjadi bidak dalam permainan kotor ini?
Brian berdiri. Menyambar pistol dan jaket kulitnya. Dia belum selesai. Ini bukan tentang balas dendam. Ini tentang akhir dari segalanya.
Dan untuk pertama kalinya dia siap menyalakan api terakhir.
…
Semua pihak mulai bertabrakan:
• Bayu masih hidup, mungkin sudah kabur keluar negeri.
• Siska akan bersaksi di sidang terbuka.
• Ardy bisa saja mati, atau berubah jadi monster yang lebih berbahaya.
• Mahendra… mulai gila.
Dan Brian?
Dia satu-satunya yang masih berdiri di antara kehancuran dan keadilan.