Bab 18. Api Dari Dua Arah

1160 Kata
Gesi – Masa Lalu Ayahnya Gesi berdiri di depan rumah tua di daerah Rawamangun. Rumah ini milik tantenya dari pihak ibu yang selama ini menjauh dari keluarga Mahendra. Gesi datang sendirian, menyamar. Ia sudah tak percaya siapa pun, termasuk Ardy. Pintu dibuka oleh seorang perempuan paruh baya. “Gesi?” Gesi mengangguk. “Aku butuh jawaban.” Mereka duduk. Tante itu menatap mata Gesi lekat-lekat. “Kamu harus tahu, Mahendra gak selalu jadi orang baik.” Gesi memutar rekaman lama dari flashdisk yang ia dapat dari laci rahasia ibunya yang telah meninggal: “Kita tutup kasus ini. Kalau enggak, karier kita tamat.” “Kita? Atau kamu yang takut, Mahendra?” “Terserah. Tapi satu kata dari gue, rumah sakit lu bakal disegel.” Gesi gemetar. Itu suara ayahnya. Tantenya menghela napas. “Waktu itu, ibumu pernah ingin cerai. Tapi Mahendra terlalu kuat. Semua dokumen, bukti korupsi, lenyap. Termasuk yang nyangkut soal… proyek vaksin gagal tahun 2020.” Gesi syok. Proyek vaksin itu menyebabkan kematian puluhan anak di Jakarta. “Ayahmu salah satu yang lindungi produsen vaksin itu.” Air mata Gesi jatuh. “Apa kamu siap untuk melawan ayahmu sendiri?” tanya sang tante. Gesi menatap lurus. “Aku udah mulai. Dan aku akan selesaikan.” … Brian – Diburu Tanpa Ampun 00:47 WIB. Brian berlari menembus gang sempit. Sepatu kulitnya berlumpur. Di belakang, suara mesin motor dan kaki yang berlari mengejarnya. Tiga pria bertopeng. Brandon muncul dari balik warung, menarik Brian ke dalam. “Lu gila dateng ke apartemen sendiri! Mereka udah pasang orang di mana-mana!” “Mayat itu sengaja ditaruh. Buat menjebak gue.” Brandon menyerahkan selembar foto Gesi dan Mahendra bersama pejabat tinggi BUMN dan Bayu Rinaldi. “Gue nemu ini di laptop mayat itu sebelum diambil tim forensik. Mereka semua terhubung. Bayu yang ngatur aliran uang. Mahendra yang jadi pelindung. Ardy jadi kaki tangan.” Brian menatapnya. “Berarti mereka bukan cuma korupsi. Mereka jaringan.” Brandon mengangguk. “Dan sekarang, mereka nyari kamu karena kamu satu-satunya yang bisa buka semua ini.” Tiba-tiba suara peluru memecah kaca jendela warung. Mereka diserang. Brian menarik Brandon keluar lewat pintu belakang. Mereka melompat pagar, masuk ke sebuah mobil. “Ke tempat Siska. Sekarang.” … Di layar laptop Gesi, muncul folder baru dari flashdisk: “Project KODE: Laporan Rahasia — Mahendra Wijaya dan Bayu Rinaldi.” Di tempat lain, Brian membuka file yang sama, dikirim oleh seseorang misterius lewat email anonim. Subjeknya: “JIKA KAU INGIN KEBENARAN, LIHAT APA YANG DISEMBUNYIKAN DI BALIK NAMA DIRJEN.” Mereka berdua di tempat berbeda melihat file yang sama, dan menyadari satu hal: Ayah Gesi adalah dalang utama. … Gesi – Menyusup ke Lingkaran Ayahnya Kantor Walikota Jakarta Selatan. Gesi mengenakan blazer putih gading, tampak tenang di balik kaca lift yang naik menuju lantai 12 ruang kerja Mahendra Wijaya. Tapi di balik tatapannya, ia menyimpan bara. Ia bukan lagi anak yang tunduk. Kini ia membawa senjata: bukti keterlibatan sang ayah dalam proyek vaksin dan pencucian uang. Mahendra menyambutnya dengan pelukan, seperti biasa. Tapi hari itu ada satu tamu lain di ruangan: Bayu Rinaldi. Pria itu mengenakan setelan abu-abu muda, aromanya wangi dan senyumnya dingin. “Kami sedang diskusi kerja sama CSR,” ucap Mahendra ringan. “Proyek fiktif lagi?” tanya Gesi tajam. Bayu menoleh, matanya menyipit. “Kamu berubah, Gesi.” “Kita semua harus berubah saat kebenaran datang,” jawabnya, tak goyah. Mahendra tersenyum, tapi tangan kirinya sudah mengaktifkan tombol rekam di bawah meja. Dia mulai curiga. Tapi Gesi juga merekam. Semua. Dan tanpa Mahendra sadari, Gesi menaruh flashdisk palsu di salah satu laci kerjanya. … Brian – Di Tengah Bahaya Propaganda dan Jejak Gratifikasi Sementara itu, Brian dan Brandon berada di basement parkiran gedung milik salah satu mitra proyek fiktif milik Ardy. Mereka menyamar sebagai tukang teknisi. Lewat laptop, mereka membuka hasil penyadapan terhadap komunikasi Ardy dengan Bayu Rinaldi. “Gue udah atur wartawan dari dua media. Kita framing Siska sebagai dalang bocornya dokumen negara. Netralisir!” “Terus Brian?” “Kasih info palsu. Biar dia ngejar umpan. Sambil kita siapin ‘kecelakaan’ di lapangan.” Brian mengepalkan tangan. “Mereka mau singkirin gue tanpa jejak.” Brandon menekan tombol. Di layar, mereka melacak transaksi terbaru Ardy gratifikasi dalam bentuk transfer lewat perusahaan properti milik Bayu. “Ini bukti keras.” Tiba-tiba suara tembakan dari atas. Mereka lari ke lorong sempit, menghindari penjaga bersenjata. Brandon terkena serpihan peluru. Tapi mereka berhasil keluar dan masuk ke mobil hitam di ujung jalan. “Kita ke Siska. Saatnya bawa ini ke KPK.” … Gesi sudah mulai menyusup dan mendapatkan peta pengamanan ruang rahasia ayahnya di lantai bawah tanah gedung Pemkot. Brian dan Siska menyusun konferensi pers besar-besaran, lengkap dengan dokumen asli yang akan memicu kehebohan nasional. Gesi mengirim pesan ke nomor lama Brian. “Kita harus bicara. Aku punya kuncinya.” Brian membaca pesan itu, menatap Brandon. “Waktunya ledakkan semuanya.” … Brian – Jejak Uang dan Kematian Langit Jakarta malam itu kelabu. Brian berdiri di rooftop sebuah hotel tua, memandang ke arah gedung Kementerian Keuangan. Brandon baru saja memberikan data final: • Proyek fiktif senilai 280 miliar. • Nama Ardy Suryacipta terhubung langsung ke rekening perusahaan cangkang di Singapura. • Ada bukti Ardy menerima jam tangan mewah dari kontraktor proyek vaksin, gratifikasi. “Besok pagi, kita kirim semuanya ke KPK dan buka ke media,” ujar Brandon. Tapi Brian belum sepenuhnya tenang. Di dalam dirinya, ada dua medan perang: 1. Perang profesional: membongkar kejahatan Ardy dan jaringan kotor ayah Gesi. 2. Perang batin: mengabaikan hatinya yang masih luka karena Gesi yang kini sudah jadi istri Ardy. Tiba-tiba teleponnya berdering. Nomor tidak dikenal. Suara Gesi. Pelan. Tegas. “Besok jam tujuh malam. Gedung arsip lama Pemkot. Aku tahu di mana ayahku sembunyikan dokumen asli.” Brian terdiam. “Gesi… lo yakin?” “Gue udah terlalu lama jadi boneka. Sekarang gue main.” … Gesi – Sekat Terakhir Di kamar apartemennya, Gesi menatap layar laptop. Ia menyunting cuplikan video Mahendra berbicara dengan Bayu Rinaldi. “Kalau Siska masih bicara ke media, kita harus siapkan opsi keras. Orang-orang Bayu sudah tahu cara main bersih dan kotor.” Gesi mengunggah video itu ke server terenkripsi. Lalu ia menyusun jadwal pertemuan rahasia dengan Brian di tempat yang paling tak terduga: arsip bawah tanah yang hanya bisa dibuka dengan kartu akses milik Mahendra. Tapi Gesi sadar… semakin dekat ia ke kebenaran, semakin berbahaya langkahnya. Ia sudah melihat wajah asli Ardy saat marah. Ia tahu Bayu punya orang di mana-mana. Dan ia tahu… jika gagal besok malam, dia takkan pernah bisa keluar hidup-hidup. … Brian bersiap ke KPK dengan bukti besok pagi. Gesi bersiap mencuri kartu akses Mahendra dan masuk ke ruang arsip rahasia malam harinya. Ardy dan Mahendra mulai curiga ada kebocoran internal. Mereka mengaktifkan “rencana darurat”: menyiapkan kecelakaan bagi siapa pun yang berani membocorkan lebih jauh. … Kamera keamanan di apartemen Gesi menangkap siluet seseorang menyusup. Laptop Gesi masih menyala. Tapi ia sudah tidak ada di kamar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN