Bab 17. Framing Berdarah

1249 Kata
Langit Jakarta tampak mendung sore itu, tapi badai yang sesungguhnya baru dimulai di layar-layar media. Di sebuah kafe elit di Senopati, Ardy Suryacipta duduk santai. Jas mahal, senyum licin, dan di hadapannya duduk Kirana Arliani, jurnalis infotainment politik paling kontroversial se-Indonesia. Tulisannya tajam, framing-nya mematikan. “Saya dengar Siska Pramudita sedang terlibat hubungan gelap dengan polisi yang sedang diselidiki,” ucap Ardy tenang sambil menyeruput kopi. Kirana menaikkan alis. “Dan itu bisa saya tulis kalau ada data.” Ardy membuka tabletnya. Diperlihatkannya foto-foto Siska dan Brian masuk ke rumah tua di selatan Jakarta. Diambil dari drone. Ada pula video singkat saat Brian menggenggam tangan Siska. “Hubungan pribadi ini bisa berbahaya bagi independensi jurnalistik, bukan?” Kirana menyeringai. “Skandal cinta wartawan dan polisi korup. Klikbait-nya dapet. Backlink-nya jalan. Aku suka.” “Dan yang paling penting,” Ardy menatap lurus, “itu menjatuhkan kredibilitas mereka berdua. Sebelum mereka sempat bicara ke publik.” … Dua jam kemudian, Twitter pecah. #SkandalSiska “Jurnalis abal-abal. Sudah nginep bareng polisi yang korup, bawa-bawa idealisme segala.” “Brian itu bukan pahlawan, dia cuma cowok yang lagi jatuh cinta dan gak bisa move on.” “Siska Pramudita = agen pengalihan. Hati-hati, masyarakat.” … Di tempat persembunyian, Siska melihat notifikasi berderet. “Oh Tuhan…” desisnya. Tangannya gemetar. Brian mendekat. “Apa yang terjadi?” Dia menunjukkan layar ponselnya. Foto-foto mereka. Tangkapan layar percakapan yang sudah diedit. Bahkan ada artikel yang menyebutnya “alat propaganda kelompok oposisi.” Brian mengumpat. “Ardy mulai main kotor.” “Ini bukan soal aku lagi,” suara Siska pecah. “Mereka bisa menghapus semua yang udah kita kumpulkan. Reputasi jurnalis itu fondasi. Kalau rusak… semua orang bakal mikir aku bohong.” Brian menatapnya dalam-dalam. “Kalau mereka main perang opini, kita lawan dengan bukti.” “Tapi kalau gak ada yang percaya bukti itu, apa artinya?” Sunyi. Lalu Brian berkata pelan, tegas: “Artinya kita harus bikin mereka gak bisa menolak kenyataan, bahkan ketika mereka membencinya.” … Sementara itu, di ruang redaksi sebuah stasiun televisi swasta… Kirana menerima transfer. Jumlahnya besar. Terlalu besar untuk ditolak. Tapi juga terlalu berbahaya untuk disimpan lama. “Tayangkan besok pagi. Lengkap. Dengan narasumber ahli yang bisa kita bayar buat menguatkan narasi.” … Dan di tempat lain, di dalam kantor Mahendra… Ardy berdiri dengan santai di depan layar besar yang memutar berita soal Siska. Mahendra hanya tersenyum dingin. “Kalau ini gagal,” katanya, “lu ikut terkubur sama dia.” Ardy mengangguk. “Gak akan gagal. Satu-satunya yang bisa menghentikan badai ini… adalah badai yang lebih besar.” … Dan malam itu, Brian memutuskan sesuatu. “Kita serang balik. Bukan lewat media. Tapi lewat sesuatu yang mereka gak bisa kendalikan.” “Apa itu?” tanya Siska. “Kebenaran mentah. Tanpa filter. Tanpa sensor. Kita live.” … Malam itu, Jakarta seperti menahan napas. Di sebuah apartemen tersembunyi di kawasan Kuningan, Brian duduk di depan kamera laptop yang terhubung dengan jaringan VPN milik Brandon temannya dari unit cyber. Siska di sebelahnya, matanya sembab, tapi tatapannya membara. “Kalau kita siaran sekarang, kita gak bisa tarik balik.” “Justru itu tujuannya.” … 20:59 WIB. Satu menit sebelum siaran dimulai. Brandon memantau firewall dari jarak jauh. “Sinyal bersih. Tapi gue kasih waktu kalian cuma 10 menit sebelum sistem mulai dilacak.” Brian menoleh ke Siska. “Siap?” “Lahir dan besar untuk ini.” … 21:00 WIB. Tampilan YouTube dengan judul: “PENCUCIAN UANG & GRATIFIKASI ESELON 3 - BUKTI LANGSUNG” Video dimulai. Brian muncul di layar. Tegas. Jelas. Suaranya tidak bergetar sedikit pun. “Saya Brigadir Brian Hermawan.” Dia mulai memaparkan dokumen: • Laporan transaksi dari rekening milik Ardy Suryacipta, mengalir ke perusahaan-perusahaan fiktif. • Foto proyek fiktif atas nama PT.Nusantara Sukses, yang ternyata milik Hendra Surya, bawahan Ardy. • Rekaman pembicaraan yang disadap secara legal sebelum Brian di-nonaktifkan dari kasus. Siska membacakan kutipan email antara Mahendra Wijaya, wali kota Jaksel ayah Gesi dengan seorang pengusaha, menawarkan “jalan belakang” dalam proyek drainase senilai Rp120 miliar. “Kami tahu ini akan mengorbankan banyak hal. Tapi kalian berhak tahu.” … Di tempat lain… Gedung Balaikota Jakarta Selatan. Mahendra membanting ponselnya. “Matikan mereka! HACK akun itu sekarang juga!” Staf IT-nya panik. “Pak, itu live dari server luar negeri, gak bisa dihentikan secara konvensional!” … Di TV nasional, layar tiba-tiba berubah. Jurnalis-jurnalis independen ikut membantu menyebarkan. Video itu ditayangkan serentak di akun-akun Twitter, Telegram, bahkan f*******:. Rakyat melihat dengan mata kepala sendiri: wajah Ardy Suryacipta sedang menghitung uang, sambil tertawa. … 23:00 WIB. Siaran sudah dipotong paksa. Tapi itu sudah cukup. Internet sudah mendidih. Hashtag trending: #TangkapArdy #MahendraMundur #KebenaranLangsung … Di sebuah kamar gelap… Ardy menghancurkan botol wine ke dinding. “Kita tembak Brian. Sekarang juga.” Tapi tiba-tiba… pintu kamarnya digedor keras. DOR! DOR! DOR! “Ini KPK. Saudara Ardy Suryacipta, Anda ditetapkan sebagai tersangka gratifikasi dan pencucian uang.” … 00:03 WIB. Di sebuah rumah mewah di bilangan Kemang, Gesi duduk terpaku di depan televisi. Siaran ulang live streaming Brian masih terpampang di layar. Suaminya, Ardy Suryacipta, duduk di seberang. Wajahnya dingin. Mulutnya kaku. Tapi tangannya gemetar. “Apa ini bener?” suara Gesi nyaris berbisik. Ardy tidak menjawab. Gesi berdiri perlahan, matanya berkaca-kaca. “Ardy… jawab aku. Itu semua tuduhan atau kenyataan?” Ardy akhirnya membuka suara. “Mereka gak tahu apa-apa. Itu manipulasi. Semua jebakan. Kamu percaya suami kamu kan?” “Aku percaya kebenaran.” Gesi menatapnya lurus. Suasana tegang. Udara terasa berat. Lalu ponsel Ardy bergetar lagi dan lagi. Puluhan notifikasi. Media mulai menggali rekam jejaknya. Wartawan mengepung rumah. Polisi belum datang, tapi waktunya tinggal menghitung jam. … Sementara itu, di sebuah safehouse milik Brandon. Brian dan Siska menatap layar laptop. “Kita udah buka Pandora’s Box,” kata Siska sambil menyandarkan diri ke kursi. “Dan mereka gak akan bisa tutup lagi,” balas Brian. Namun, belum sempat mereka tenang, Brandon masuk tergesa. “Kita punya masalah.” Di layar, muncul berita baru: “Sumber Bocoran Terancam Hilang. Keluarga Brian Hermawan Diintimidasi.” Brian membeku. “Mereka bawa keluargaku?” Brandon mengangguk. “Mahendra main kasar sekarang. Dia ingin kamu berhenti.” Siska mengepalkan tangan. “Kita harus balas. Kita naikkan satu bom lagi.” … Di balik layar, Mahendra bereaksi. “Bocorannya dari mana?! Siapa dalangnya?! Aku mau nama!” teriaknya di ruang rapat darurat Balaikota Jaksel. Asistennya gemetar. “Kami kira bocorannya dari dalam. Ada yang ngasih file audit internal ke media. Tapi belum jelas siapa.” Mahendra diam. Wajahnya memucat. Ia menatap foto keluarga di mejanya, potret Gesi sedang tersenyum. “Kalau anakku ikut main api… dia juga harus siap terbakar.” … Kembali ke Gesi. Gesi mengambil kunci mobil. “Aku mau keluar.” Ardy berdiri, menghalangi pintu. “Gesi, jangan. Kamu diincar media, dan kita belum tahu siapa yang bisa dipercaya.” “Kalau kamu gak mau jawab, aku cari jawabannya sendiri.” Ardy menatapnya penuh amarah. “Aku udah korbankan segalanya buat kamu! Jabatan, nama baik, uang!” “Dan kamu juga udah jual jiwamu buat itu semua,” jawab Gesi dingin. “Brian mungkin bukan suami yang sempurna. Tapi dia gak pernah bohong kayak kamu.” BRUAK! Ardy memukul dinding. Tapi Gesi sudah keluar dan membawa serta tekad untuk membuka segalanya. … Di sebuah ruang gelap, Mahendra menerima telepon dari seseorang bersuara berat. “Pak Wali, kami bisa bantu. Tapi bayarannya lebih mahal.” “Singkirkan Brian. Kali ini buat selamanya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN