Mahendra Wijaya berdiri di depan jendela ruang kerjanya di Balaikota Jakarta Selatan. Tangannya menggenggam sebuah koran pagi yang baru saja dikirim asistennya.
HEADLINE: “DUGAAN PENCUCIAN UANG MENYENTUH LINGKARAN PEJABAT DAERAH”
Isinya belum menyebut nama langsung, tapi narasinya terlalu dekat dengan kenyataan. Terlalu tepat.
Ia melempar koran itu ke meja. “Siapa yang membocorkannya?” tanyanya tajam ke salah satu staf kepercayaannya, Bambang.
“Kami sedang telusuri, Pak. Tapi berita ini… bukan dari sembarang wartawan. Ini Siska Pramudita. Jurnalis investigasi.”
“Saya tahu siapa dia!” potong Mahendra geram. Ia berjalan mondar-mandir, napasnya berat. Pikirannya menelusuri daftar orang-orang yang tahu soal transaksi keuangan Ardy menantunya dan beberapa proyek siluman di bawah kementerian.
“Hubungi Ardy. Suruh dia jaga semua orangnya. Termasuk staf-staf kecil di Dirjen Pajak. Jangan sampai satu pun buka mulut.”
“Baik, Pak.”
Mahendra terdiam sejenak. Lalu matanya menatap tajam ke Bambang.
“Dan satu lagi…”
“Apa, Pak?”
“Saya mau tahu… apakah Gesi masih berhubungan dengan Brian.”
Bambang tampak gugup. “Kami belum bisa pastikan, tapi sepertinya Brian…”
“Cari tahu!” bentaknya. “Kalau Brian balik lagi dan dia kerja sama dengan wartawan itu, kita bisa habis. Semua bisa terbuka.”
Mahendra berjalan ke lemari besi kecil di balik lukisan. Ia membuka kunci kombinasi, mengeluarkan sebuah flashdisk dan dokumen.
“Kalau ini bocor, selesai sudah semua.”
…
Sementara itu, di sisi lain kota, Ardy Suryacipta juga menerima pesan dari Mahendra:
“Tutup semua celah. Termasuk orang dalam yang dulu kamu bayar. Buang kalau perlu.”
Ardy hanya menatap layar ponselnya dingin. “Sudah kuduga permainan ini bakal berdarah.”
…
Langit Jakarta mulai gelap. Siska mempercepat langkahnya menyusuri trotoar di kawasan Blok M, baru saja keluar dari kantor redaksi. Hujan belum turun, tapi udara terasa berat. Seperti ada sesuatu di udara. Sesuatu yang menekan.
Tas selempangnya dijaga erat di bawah lengan, dan matanya terus melihat ke kiri dan kanan. Perasaan itu kembali, perasaan dia sedang diawasi.
Sejak berita tentang dugaan pencucian uang terbit, ponselnya dibanjiri pesan tak dikenal. Ancaman samar, nada sarkasme, hingga foto rumahnya dari kejauhan.
Tiga malam berturut-turut ia merasa dibuntuti. Tapi malam ini lebih jelas. Bayangan pria tinggi berjubah hitam masih terlihat di kaca
etalase toko-toko yang ia lewati.
Siska menyeberang jalan. Bayangan itu juga ikut. Dia berhenti di halte. Pria itu juga berhenti.
“Ini nggak kebetulan…” gumamnya sambil merogoh ponsel.
Dia tak menelepon polisi. Dia tahu terlalu banyak laporan justru bisa membuatnya terlihat panik dan rentan. Tapi dia mengirim pesan ke satu kontak: Brian Hermawan.
“Aku dibuntuti. Blok M, deket halte Pasaraya. Send help.”
Belum sempat balas masuk, pria itu mulai mendekat.
Siska menahan napas. Ia mundur perlahan. Lalu… lari.
Tapi pria itu juga ikut berlari. Menyusul cepat, menyusuri lorong sempit di antara gedung tua. Siska nyaris jatuh saat menyeberang motor, tapi tetap lari. Nafasnya memburu, detak jantung menggedor-gedor telinga.
Sampai akhirnya sebuah tangan menariknya dari arah samping. Siska nyaris menjerit, tapi lalu ia melihat wajah itu.
Brian.
“Masuk ke mobil.”
Tanpa bertanya, ia ikut masuk ke sedan hitam tua yang terparkir sembarangan. Brian langsung menyalakan mesin dan melaju sebelum pria pengejar sempat mendekat.
“Kamu terlambat,” kata Siska dengan suara gemetar.
“Kalau aku telat dua menit lagi, kamu bisa udah dibungkam.”
…
Setelah mereka menjauh, pria bertopi hitam itu mengangkat ponselnya.
“Gagal. Brian sudah ambil dia.”
Dari ujung telepon, suara dalam dan berat menjawab:
“Jangan bunuh dulu. Kita pakai dia. Buat umpan.”
…
Mobil tua Brian meluncur ke arah selatan Jakarta, menuju tempat persembunyian yang bahkan tidak tercatat di sistem kepolisian.
Sebuah rumah lama milik pamannya yang sudah wafat, terkunci dalam catatan aset yang tak pernah diperbarui.
Siska masih gemetar di kursi penumpang.
“Tempat ini aman?” tanyanya.
“Untuk sementara. Kita cuma butuh satu hari buat mutusin langkah selanjutnya.”
Brian tahu waktu mereka tidak banyak. Semenjak namanya muncul dalam investigasi internal kepolisian, beberapa atasannya mulai bersikap aneh. Bahkan, ada satu panggilan tak resmi dari Kapolres, mempertanyakan kedekatannya dengan jurnalis Siska Pramudita.
Dan malam itu juga, pesan dari nomor tak dikenal masuk ke ponselnya:
“Mundur, Brian. Atau lencana lu yang gue ambil duluan.”
…
Di sisi lain kota, Mahendra duduk di ruangannya yang gelap. Hanya cahaya dari layar laptop dan sebatang cerutu yang menyala.
Ia menatap foto Siska dan Brian yang diambil dari drone kecil yang dikirimkan timnya sore tadi.
Di sampingnya berdiri seorang pria berkacamata, berpakaian formal. Namanya Dimas Prayoga, orang dalam di kepolisian, berpangkat Kombes. Loyal pada Mahendra karena utang politik dan uang.
“Saya bisa usahakan pencopotan Brian dari kasus ini. Tapi…”
“Tapi?”
“Kalau dia terus nyelidik tanpa status resmi, dia jadi ancaman tak terkontrol.”
Mahendra mengangguk pelan. “Kalau begitu, beri dia pilihan. Diam… atau hilang.”
…
Sementara itu, Ardy Suryacipta tengah mengadakan pertemuan tertutup dengan pengacaranya. Di atas meja ada satu map tebal berisi dokumen. Laporan gratifikasi yang belum sempat disikat bersih.
“Kalau bocor, ini lebih buruk dari korupsi biasa. Ini bisa nyeret gue dan Pak Wali langsung.”
Pengacaranya, Alfin, hanya mengangguk pelan. “Saya usahakan pengalihan ke kasus fiktif, biar sorotan media pindah.”
“Dan wartawannya?”
“Sudah dicoba. Tapi dia keras kepala.”
Ardy menggeleng, lalu tertawa getir. “Wartawan keras kepala itu bisa dibentuk. Atau dihancurkan.”
…
Keesokan harinya…
Di rumah persembunyian, Brian menerima data dari forensik. Mereka menemukan bukti transfer dana ke perusahaan fiktif atas nama
Bayu Rinaldi, rekan Ardy di Dirjen Pajak. Ini menghubungkan gratifikasi langsung ke proyek-proyek pemerintah.
“Ini dia,” kata Brian ke Siska. “Kalau kita punya cukup bukti dan dorong ini ke KPK, Mahendra dan Ardy bisa tumbang.”
“Dan kita bisa dibunuh sebelum itu terjadi,” jawab Siska, dingin.
…
Tiba-tiba… pintu rumah diketuk tiga kali. Brian berdiri cepat, menarik pistol. Langkah-langkah di luar terdengar. Terlalu banyak.
Terlalu terkoordinasi.
“Kita harus keluar sekarang,” bisiknya.
Dia membuka jendela belakang, tapi di luar sudah ada dua pria bersenjata. Ini bukan polisi. Ini suruhan Mahendra.
Satu peluru menembus kaca.
Siska menjerit, Brian menariknya ke lantai. Mereka tak punya banyak waktu.
“Rencana berubah. Kita kabur sekarang, langsung ke KPK. Nggak ada jalur aman lagi.”