Gesi berdiri di balkon rumah mewah milik Ardy, menatap langit Jakarta yang kelabu. Angin sore berembus pelan, tapi hatinya terasa sesak. Sudah tiga bulan sejak pernikahannya dengan Ardy, sebuah ikatan yang lebih mirip perjanjian politik daripada cinta.
Di belakangnya, Ardy sedang berbicara di telepon. Suaranya rendah, tapi cukup keras untuk Gesi dengar.
“Tenang saja. Gesi di tanganku. Kalau Brian bergerak terlalu jauh, kita tarik dia mundur lewat jalur emosional. Aku tahu titik lemahnya.”
Gesi menutup matanya.
Dia masih terus dijadikan alat.
Ia tahu Ardy bukan pria biasa. Sejak awal, pernikahan mereka bukan tentang cinta, tapi tentang kontrol. Ia dipaksa memilih antara menyelamatkan ayahnya dari kasus korupsi… atau kehilangan segalanya.
Dan sekarang, Gesi menjadi pion utama di papan permainan yang ia sendiri benci.
…
Di tempat lain, pria berkacamata hitam yang selama ini mengarahkan permainan dari balik layar duduk di ruang gelap, menatap layar yang menampilkan rekaman CCTV rumah Ardy.
“Gesi… kamu akan memaksa Brian untuk berhenti. Atau kita buat dia kehilangan segalanya.”
Di layar lain, Brian terlihat sedang menelusuri data rekening perusahaan fiktif. Tangannya berhenti di satu nama: Gesi R. Wijaya.
Sebuah transfer misterius atas nama Gesi ke rekening milik perusahaan milik Ardy tertanggal dua minggu setelah mereka menikah.
“Kenapa nama lo ada di sini, Ges?” gumam Brian.
Matanya menyipit. Ia tahu, ini bukan kebetulan.
Tapi yang belum ia tahu, Gesi sendiri juga sedang berada di ujung tanduk. Dia tidak lagi bebas memilih.
…
Di ruang makan malam itu, Ardy menatap Gesi sambil mengusap ponselnya.
“Besok kamu ikut aku ke acara kementerian. Duduk di samping Mahendra. Aku mau semua orang tahu kamu bagian dari keluarga yang berpengaruh.”
Gesi hanya diam.
“Dan jangan tunjukkan wajah sedih itu,” lanjut Ardy. “Orang-orang berpikir kita pasangan bahagia.”
Gesi menunduk. Tapi di balik sorot matanya, ada api yang mulai menyala kembali.
…
Ruang kerja Mahendra Wijaya di Balai Kota Jakarta Selatan tak pernah benar-benar sepi. Tapi malam itu, hanya satu suara yang terdengar: suara Gesi, memecah diam dengan amarah yang selama ini ia pendam.
“Aku bukan boneka, Ayah.”
Mahendra menatap putrinya dari balik meja kerjanya. Tangan kirinya menggenggam pena, tapi tak menulis apa pun.
“Kamu pikir semua ini mudah?” balas Mahendra tenang. “Kamu pikir aku ingin menikahkanmu dengan Ardy? Aku sedang menyelamatkan keluarga ini.”
“Dengan menjual anakmu sendiri?” Gesi menatapnya tajam. “Ardy itu koruptor. Aku tahu siapa dia sebenarnya.”
“Tapi dia kuat, Ges. Dia dilindungi. Kalau kamu menolak, kita semua bisa jatuh. Ayah bisa dipenjara. Nama kita habis.”
Gesi menggeleng, dadanya sesak.
“Lalu ayah berharap aku bahagia di sisi pria yang ayah tahu menyalahgunakan kekuasaan, hanya supaya reputasi keluarga tetap utuh?”
Mahendra berdiri perlahan. Wajahnya mendadak keras. “Kamu terlalu naif. Politik bukan tentang benar atau salah. Ini soal bertahan atau tersingkir. Dan keluarga kita harus bertahan.”
Gesi mundur selangkah. Suara hatinya ingin berteriak, tapi ia tahu percuma.
“Kalau begitu, jangan pernah minta aku tersenyum di depan kamera. Karena itu bukan wajah bahagia… itu wajah tawanan.”
Ia berbalik, meninggalkan ruangan dengan langkah cepat.
Mahendra tetap diam. Matanya menatap potret keluarga mereka yang tergantung di dinding.
Dulu, semuanya sederhana. Tapi kini, anak perempuannya berubah menjadi ancaman bagi rencananya sendiri.
“Maafkan Ayah, Gesi… Tapi kamu juga bagian dari permainan ini.”
…
Sementara itu, di luar gedung pemerintahan, seorang jurnalis sedang menunggu di dalam mobil, memegang foto Gesi dan Ardy dari
pernikahan mereka… dan laporan keuangan yang belum pernah dipublikasikan.
“Kalau info ini benar… bisa jadi ledakan besar.”
…
Namanya Siska Pramudita, jurnalis investigasi dari sebuah media independen yang dikenal suka membongkar skandal kelas atas.
Sudah seminggu dia mengikuti jejak dana mencurigakan dari perusahaan fiktif milik seorang ASN Dirjen Pajak Ardy Suryacipta.
Tapi malam ini, Siska duduk di mobilnya, menatap selembar dokumen yang bisa mengubah segalanya. Bukti transfer dari rekening Gesi R. Wijaya ke salah satu perusahaan Ardy. Bukan sekadar nominal… tapi waktu dan tujuannya yang mengaitkan banyak nama besar termasuk sang Wali Kota, Mahendra Wijaya.
“Kalau ini benar, berarti Wali Kota dan menantunya terlibat dalam korupsi berjamaah.”
Di sebelahnya, asistennya, Dito, memutar rekaman percakapan telepon yang berhasil mereka sadap beberapa hari lalu.
“…jangan sampai wartawan tahu soal aliran dana dari kementerian. Apalagi soal Gesi. Dia simbol keluarga kita.”
Siska menatap Dito. “Kita harus hati-hati. Ini bukan cuma soal pencucian uang, ini bisa jadi soal kekuasaan dan nama besar.”
Dito mengangguk. “Kamu yakin mau terusin ini, Sis?”
Siska menarik napas dalam-dalam. “Aku yakin. Tapi kita butuh seseorang dari dalam. Seseorang yang bisa kasih kita akses. Kita nggak bisa cuma mengandalkan dokumen bocoran ini.”
Dia membuka berkas lain. Di bagian paling atas: Nama: Brian Hermawan.
“Polisi yang sedang ditugaskan menyelidiki pencucian uang, tapi sempat dikaitkan dengan Gesi.”
Siska menyeringai kecil. “Mungkin dia bisa jadi pintu masuk.”
…
Di tempat lain, Brian duduk di ruang kerjanya. Ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal.
“Pak Brian, saya Siska Pramudita, jurnalis. Saya pikir kita sedang memburu monster yang sama. Mau bicara?”
Brian sempat ragu, tapi dia menjawab, “Besok. Di tempat netral.”
Siska menutup telepon sambil menatap jendela.
…
Kafe di daerah Cipete itu kecil, hampir tak terlihat dari jalan. Tempat yang cukup tenang untuk pembicaraan sensitif. Brian datang lebih dulu, duduk di pojok ruangan, punggung menghadap dinding, pandangan leluasa ke arah pintu.
Beberapa menit kemudian, seorang wanita berambut sebahu dengan tas laptop menyilang di tubuhnya masuk. Langkahnya cepat, tapi matanya awas. Dia tahu dia sedang bermain di wilayah berbahaya.
“Brian Hermawan?”
Brian hanya mengangguk. Dia menunjuk kursi di depannya. Siska duduk, membuka laptopnya, tapi tidak langsung bicara.
“Saya nggak punya banyak waktu,” kata Brian dingin.
Siska menatapnya lurus. “Saya juga. Jadi saya akan langsung ke intinya.” Ia mengambil satu lembar print out dari tasnya, salinan transaksi mencurigakan dari rekening milik Gesi R. Wijaya.
Brian langsung tegang. Tangannya mengepal pelan di atas meja.
“Dari mana kamu dapet ini?”
“Dari orang dalam, dan saya tahu ini bukan hanya soal Ardy Suryacipta. Nama Mahendra Wijaya juga muncul.”
Brian menyandarkan punggung. Matanya mengerut, penuh pikiran. Ini lebih besar dari yang ia bayangkan.
“Apa tujuan kamu datang ke saya?”
“Karena kamu orang satu-satunya yang masih punya integritas di tengah permainan busuk ini. Dan saya yakin, kamu juga tahu, Gesi nggak bersih sepenuhnya.”
Brian diam. Nama itu kembali mengusik pikirannya, Gesi. Luka lama yang belum sembuh.
“Saya cuma mau satu hal, Pak,” lanjut Siska. “Kebenaran. Tapi saya butuh perlindungan juga. Orang-orang di lingkaran ini bukan tipe yang ragu untuk membungkam.”
Brian menatapnya lama. Akhirnya ia bicara pelan, nyaris seperti bisikan.
“Saya nggak janji bisa lindungi kamu, tapi saya juga nggak bisa lagi tutup mata.”
Siska menyodorkan flashdisk kecil.
“Semua bukti ada di sini. Tapi saya yakin ini baru permukaan. Kita harus masuk lebih dalam.”
Brian mengambil flashdisk itu dan menyimpannya dalam saku jas.
“Mulai sekarang, kita bekerja sama. Tapi ingat… ini bukan permainan.”
Siska mengangguk. “Saya udah lama berhenti main-main, Pak.”
Mereka pun keluar dari kafe di waktu yang berbeda. Tak ingin menarik perhatian. Tapi malam itu, dua jalan yang berbeda akhirnya bertemu untuk mengungkap satu kebenaran besar yang siap mengguncang kursi kekuasaan.