Bab 14. Rencana Fase Dua

1227 Kata
Brian dan Brandon langsung bereaksi. “Ini jebakan,” bisik Brandon, menarik pistolnya. Brian cepat-cepat menutup pintu apartemen dan memeriksa sekitar. Tidak ada tanda-tanda orang lain, tapi mereka tahu musuh bisa saja masih mengawasi. Mereka bergegas ke arah Rendi yang masih terikat di lantai. Matanya penuh ketakutan, tubuhnya gemetar. Brian berjongkok, membuka sumpalan kain di mulutnya. “Siapa yang melakukan ini?” Rendi batuk, suaranya serak. “Mereka… mereka datang tadi pagi. Mereka mencari sesuatu.” Brandon mulai memotong ikatan di tangan dan kakinya. “Siapa ‘mereka’?” “Orang-orang Ardy Suryacipta.” Brian dan Brandon saling berpandangan. Ini semakin buruk. Begitu Rendi bisa berdiri, dia langsung meraih laci meja dan mengeluarkan flash drive. “Ini yang mereka cari.” Brian mengambilnya. “Apa isinya?” Rendi menelan ludah. “Bukti pencucian uang Ardy dan kroni-kroninya. Semua transaksi ilegal yang melibatkan perusahaan-perusahaan fiktif, aliran dana ke luar negeri, gratifikasi. Semua ada di sini.” Brandon melirik ke jendela. “Kalau gitu, kita harus pergi sekarang. Mereka pasti bakal balik.” Rendi mengangguk, wajahnya masih tegang. “Aku tahu tempat aman. Tapi kita harus keluar dari gedung ini tanpa ketahuan.” Mereka tidak bisa keluar lewat pintu depan. Terlalu berisiko. Brandon berjalan ke balkon, melihat ke bawah. Lantai delapan. Terlalu tinggi untuk lompat, tapi… Dia melihat tangga darurat di sisi gedung. “Kita lewat sana.” Namun, begitu mereka membuka pintu balkon, suara langkah kaki terdengar dari lorong apartemen. Seseorang datang. “Cepat!” bisik Brian, mendorong Rendi keluar lebih dulu. Mereka mulai turun lewat tangga darurat. Saat mereka sampai di lantai lima, suara pintu apartemen Rendi didobrak dari atas. Suara teriakan terdengar. “Mereka kabur! Tangga darurat!” “Lari!” perintah Brian. Mereka melompat ke balkon lantai empat, lalu masuk ke salah satu apartemen kosong. Tanpa pikir panjang, mereka keluar ke koridor dan berbaur dengan orang-orang di lorong. Dari ujung lorong, seorang pria berbadan besar melihat mereka. Dia mengangkat walkie-talkie. “Mereka di sini!” Brandon menarik pistolnya dan menembak ke atas sebagai peringatan. Orang-orang di lorong berteriak panik dan berlarian, menciptakan kekacauan. Manfaatkan momen itu, mereka berlari ke tangga darurat lainnya dan keluar ke gang belakang. Begitu tiba di gang belakang, sebuah mobil hitam melaju kencang ke arah mereka. Brian menarik Rendi ke samping, sementara Brandon mengeluarkan pistolnya. Dia menembak ke arah ban mobil, membuatnya oleng dan menabrak tembok. Dua pria bersenjata keluar dari dalam mobil. “Sial.” Brian menarik Rendi dan berlari ke arah jalan utama. Sebuah ojek online melintas. Tanpa pikir panjang, Brian menarik pengemudinya. “Maaf, Bang. Darurat!” Dia mendorong Rendi naik ke motor, lalu ikut naik di belakang. Brandon melompat ke motor lain yang dikendarai seorang ibu-ibu. “Mbak, numpang! Saya bayar double!” Mereka melaju dengan kecepatan tinggi, meninggalkan musuh yang kebingungan. Setelah beberapa kilometer, mereka tiba di sebuah rumah tua di daerah Tebet. Rendi turun dari motor dengan napas tersengal. “Kita aman untuk sekarang.” Brian dan Brandon masuk ke dalam rumah. Rendi menyalakan laptopnya, menyambungkan flash drive. “Aku akan tunjukkan sesuatu yang bisa menjatuhkan Ardy Suryacipta.” Brian menatap layar dengan serius. Mereka akhirnya punya bukti yang mereka butuhkan. Namun, sebelum file terbuka, tiba-tiba listrik di rumah itu padam. Gelap. … Lampu padam mendadak. Semua dalam rumah langsung siaga. “Jangan nyalakan senter,” bisik Brandon. “Kalau ini jebakan, kita jadi sasaran empuk.” Brian bergerak perlahan ke arah jendela, mencoba melihat keluar. Suasana di luar pun sama gelap. Tapi terlalu sunyi untuk disebut kebetulan. “Rendi, kamu yakin tempat ini aman?” tanya Brian pelan. Rendi tidak menjawab. “Rendi?” ulang Brandon, kali ini dengan nada tegas. Tiba-tiba terdengar bunyi gesekan seperti seseorang menarik sesuatu dari bawah meja. Brian reflek menoleh. Sebuah cahaya kecil menyala dari senter yang menyorot ke wajah Rendi. Di tangannya, ada pistol. “Turunkan senjatamu, Brian.” Brandon langsung membidik, tapi Brian mengangkat tangan. “Jangan.” “Jadi ini permainanmu?” desis Brian. “Bukan permainan,” jawab Rendi tenang. “Ini pilihan. Kalian pikir kalian bisa hancurkan sistem yang sudah dibangun bertahun-tahun? Ardy itu bukan siapa-siapa. Tapi di belakangnya… ada orang-orang yang jauh lebih kuat. Kalian terlalu kecil untuk melawan.” “Lalu kenapa kau bantu kami dari awal?” tanya Brandon tajam. “Karena aku ingin tahu seberapa jauh kalian bisa melangkah. Sekarang, cukup. Flash drive itu aku ambil.” Brian perlahan menurunkan tangan, tapi matanya tetap menatap lurus ke arah Rendi. “Kau pikir kami datang tanpa rencana cadangan?” tanya Brian tenang. Rendi menyipitkan mata. “Apa maksudmu?” Klik. Sebuah suara rekaman terdengar dari jam tangan pintar di lengan Brian. “Semua transaksi ilegal yang melibatkan perusahaan-perusahaan fiktif, aliran dana ke luar negeri, gratifikasi. Semua ada di sini.” Rendi melangkah mundur, panik. “Kau merekamku?” “Dari awal.” Brandon mengambil langkah cepat dan menyikut tangan Rendi, membuat pistolnya jatuh. Dalam sekejap, mereka berdua menindihnya dan memborgol tangannya. “Permainan sudah selesai, Rendi.” Di luar rumah, suara sirene mulai terdengar mendekat. Brian mengaktifkan pelacak dari jam tangannya sebelum listrik mati. Brandon menatap Brian sambil tersenyum. “Ternyata kamu tetap paranoid. Syukurlah.” Brian menarik napas dalam. “Bukan paranoid, tapi aku tahu… setiap misi punya pengkhianat.” Saat tim dari kepolisian dan KPK masuk ke dalam rumah, Brian hanya menyerahkan flash drive asli. “Ini yang kalian cari.” Dan di saat yang sama, Rendi menunduk diam, tahu hidupnya sudah selesai. Namun di antara kerumunan itu, seorang pria berkacamata hitam mengamati dari jauh. Tangan kirinya memegang ponsel, dan di layar tertulis: “Rendi gagal. Aktifkan fase dua.” … Jakarta kembali mendung sore itu, seolah ikut menyimpan rahasia dalam tiap awannya. Di sebuah gedung tinggi di kawasan Sudirman, pria berkacamata hitam itu berdiri menatap jendela. Ponselnya berdering. “Fase satu gagal. Rendi ditangkap,” ujar suara di seberang. Pria itu tak bereaksi. Ia menyelipkan ponsel ke saku jasnya dan menatap layar monitor besar yang menampilkan berita penangkapan Rendi, disertai cuplikan singkat Brian menyerahkan bukti ke KPK. “Bagus,” gumamnya. “Mereka pikir sudah menang. Padahal mereka baru menyentuh permukaan.” Seorang wanita masuk ke dalam ruangan, mengenakan setelan hitam rapi. “Bayu Rinaldi sudah kembali ke Jakarta. Tapi dia enggan bicara.” “Biarkan,” jawab si pria datar. “Kita punya orang yang lebih mudah dikendalikan.” Wanita itu mengangguk. “Lalu tentang Ardy Suryacipta?” “Biarkan dia merasa aman. Dia akan dijadikan kambing hitam ketika waktunya tepat.” Sang wanita sedikit tersenyum. “Dan Brian?” Pria itu membalikkan badan, menatap foto-foto Brian dan Gesi yang terpajang di dinding, sebuah papan besar penuh koneksi, nama, dan panah merah yang menghubungkan mereka semua. “Brian terlalu keras kepala untuk dihancurkan langsung. Kita patahkan dari dalam.” “Maksud Anda… Gesi?” Pria itu berjalan ke jendela lagi. Jakarta tampak kecil dari tempatnya berdiri. “Gesi adalah celahnya. Dan saat celah itu terbuka, kita hancurkan dia sepenuhnya.” Sementara itu, Brian duduk di ruang kerjanya, mengamati berkas-berkas baru yang dikirim dari tim KPK. Banyak nama baru yang bermunculan. Banyak juga jejak uang yang mengalir ke luar negeri, ke perusahaan-perusahaan cangkang di negara-negara bebas pajak. Tapi yang membuat Brian paling terdiam adalah satu nama: MAHENDRA WIJAYA Wali Kota Jakarta Selatan. Ayah dari wanita yang pernah ia cintai. Ayah dari Gesi. Brian menggenggam berkas itu erat. “Kalau aku teruskan ini… Gesi bakal jadi korban lagi.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN