Vespa Antik

1108 Kata
“Bayu, besok ada proyek baru. Kamu bisa menemui klien kita untuk membahas soal kerja sama. Nanti ada Roni, sekertaris papa yang akan menemani kamu.” Bayu sedikit berpikir mendengarnya. Kenapa sang ayah memberikannya peluang untuk ikut masuk mengatur proyek baru perusahaan mereka. “Proyek ini lumayan bagus, Yu. Kita bisa mempromosikan produk ke luar kota jika bekerja sama dengan perusahaan mereka,” imbuh Eka Handoyo mantap memberikan proyek itu pada anaknya. “Oke, Pa.” “Besok kamu harus siap-siap ketemu sama orangnya, ya?” pesan Handoyo lagi. “Iya, Pa.” “Nantinya, semua proyek sebagian besar akan aku serahkan sama kamu, tapi ada syaratnya.” Bayu menatap ayahnya dengan ekspresi tidak mengerti. Syarat? “Apa, Pa?” tanya Bayu, penasaran. “Nanti, belum waktunya kamu tau.” Eka Handoyo meninggalkan Bayu yang masih bertanda tanya dalam benaknya. Dia hanya tersenyum, lalu menutup ruang kerja Bayu. “Kira-kira, apa ya syaratnya? Kenapa menyerahkan kerjaan aja pake syarat? Aneh nih, papa,” gumam Bayu, menggelengkan kepalanya. *** Fara duduk di lantai usai menyedot debu rumah dan mengepel seluruh ruangan. Rumah itu tidak sebesar rumah papi dan maminya. Namun, rasa-rasanya untuk membersihkan seluruh sudut ruangan nyaris membuat tulangnya terasa patah. “Bersihin rumah sebesar ini aja aku kecapekan, apalagi rumah papi sama mami. Kasihan Mbok Narti dan Yuni harus membersihkan setiap hari. Ah, aku jadi kangen sama mereka. Mereka udah capek bersihin rumah, tapi masih saja aku suruh-suruh,” sesal Fara, teringat dengan rumahnya karena rumah Sagara nyaris mirip dengan sudut-sudut rumah kedua orang tuanya. Entah kenapa modelnya bisa mirip seperti itu. Fara sendiri tidak habis pikir. Fara merasakan angin sepoi-sepoi dari pintu yang menghubungkan dengan taman berhembus menerpa lembut kulitnya yang terasa pengap karena keringat. Dia merasakan nyaman duduk di lantai terkena hembusan angin lembut itu. “Enak banget sih duduk di sini,” gumamnya, tak bisa lagi menahan mata yang mulai merem karena kantuk menyerang secara perlahan. Dia masih berkedip pelan melihat depannya. Ruang tengah dengan sofa yang sudah dia bersihkan. Akhirnya, kedua mata Fara sudah tidak dapat dia tahan lagi. Dia memejamkan matanya dan larut dalam tidur nyenyak sambil duduk di atas lantai karena kelelahan. Selang beberapa waktu, Fara mulai membuka mata dan mengerjap. Tadi dalam pandangannya, ada ruang tengah dengan sofa yang bersih, tapi sekarang ditambah .... “Ah! Tuan Sagara!” jerit Fara, bergegas merapikan diri dan meluruskan punggung dengan terburu melihat sosok lelaki yang sedang jongkok memperhatikan dirinya yang tertidur pulas. Entah berapa lama lelaki itu menatapnya seperti itu. Fara sangat malu sekali. Pasti wajahnya jelek saat tertidur. “M-Maaf!” ujar Fara berdiri dan membungkuk. “Kamu capek ya? Kasihan, Pasti rumah ini melelahkan untuk dibersihkan,” ucap Sagara menunjukkan simpati pada Fara. Fara benar-benar merasa diperhatikan. Dia tersipu, menunduk malu karena memang melakukan segenap jiwa untuk membersihkan seluruh ruangan agar pekerjaannya maksimal. “Tapi, masih ada debu di garasi. Mungkin, gaji kamu bisa dipotong.” Fara terhenyak mendengar itu, masih sambil menunduk, tapi senyumnya menghilang sudah. Antara baik dan kejam memang beda tipis, setipis tissue. Fara melirik, kedua bola mata mengekori pria yang berjalan melewatinya itu ke ruang kerja. Fara menggeram kesal. Baru saja pria itu memuji, tapi beberapa detik kemudian seperti mengangkat ke udara lalu menghempaskannya ke lantai. “Pinter sekali bikin orang kesel,” gumam Fara, menghentakkan kakinya, menarik vacuum cleaner ke ruangan yang disebutkan oleh Sagara tadi dengan mengomel dalam hati. Seorang pria berdiri di depan pintu, membuat kaget Fara yang masih merengut kesal. Fara otomatis menyunggingkan senyum padanya. Namun, pria itu tidak juga tersenyum. Fara makin keki dibuatnya. Dia membiarkan pria itu dan mulai membersihkan garasi. “Kenapa orang-orang di sini aneh-aneh begini, sih? Andai saja aku nggak bersumpah menerima pekerjaan pertama yang kudengar semalam. Astaga, ini mempertemukan aku dengan orang-orang aneh,” gerutunya sambil membersihkan garasi. Dari garasi, dia mendengar percakapan dua lelaki itu di dalam. Dari situ, dia tahu bahwa lelaki tadi adalah sekertaris Sagara. “Sama-sama aneh,” gerutu Fara, melihat sang sekertaris keluar dari dalam lalu masuk ke dalam mobil, menyisakan deru yang membuat debu-debu berterbangan. “Ihh!” sungut Fara, kesal sekali. Dia pun bergegas membersihkan semua sudut garasi karena mobil Sagara sudah dibawa oleh pria tadi. “Apa Lee udah pergi?” tanya Sagara, melongok di pintu sebelah garasi. “Lee ....” “Oh, iya, sudah, Tuan.” Fara baru paham orang kaku seperti kanebo kering tadi bernama Lee. Apakah nama panjangnya Lee Min Ho? Ah, Fara memastikan bukan itu. Jauh berbeda wajahnya. “Ck, dia meninggalkan map penting,” gumaman yang terdengar jelas seperti gerutuan di telinga Fara. Pria itu tampak sibuk menghubungi Lee, tapi dia berdecak lagi karena sepertinya Lee sedang tidak mengangkat teleponnya. “Mau saya antar, Tuan?” tawar Fara nekat, padahal dia sendiri masih merasa lelah. Inikah yang namanya cari muka? Sebenarnya tidak masalah berapa gaji yang dipotong, tapi entah kenapa Fara tidak mau melakukan kesalahan lagi dengan menawarkan kebaikannya pada sosok Sagara yang random. Kadang baik, kadang kejamnya seperti ibu tiri. “Antar pake apa?” Sagara celingukan ke kiri dan kanan. Tidak ada alat transportasi selain motor vespa antik yang dia letakkan di dalam. “Jangan bilang kamu mau naik ves—“ “Ayo, Tuan! Bonceng—“ “Fara, itu vespa antik tahun—“ “Tuan, mau diantar atau nggak? Dokumen itu penting, kan? Masih lebih penting mana dari vespa ini?” tanya Fara. Tidak terpikirkan apakah Sagara akan menghukumnya selain memotong gaji, yang penting bagi Fara sekarang adalah dokumen itu bisa sampai ke tangan pria bernama Lee yang tadi disebut-sebut oleh Sagara. “I-iya.” Meski tampak ragu, tapi Sagara mau juga menerima helm dan membonceng Fara. “Pegangan,” pinta Fara. Sagara kebingungan, harus memegang bagian mana. Akhirnya, dia memegang sisi baju Fara sebelum perempuan itu mengebut menggunakan vespanya. “Fara! Jangan ngebut-ngebut! Ini vespa antik, bahkan aku mikir dua kali buat ngendarainnya. Kamu nggak boleh terlalu kenceng! Awas ya, kalo sampe lecet sedikitpun—“ “Gaji saya dipotong?” tukas Fara. Fara menyunggingkan senyum melihat dari kaca spion motor, pria di belakang sebenarnya juga takut dengan kecepatannya mengendarai vespa yang sepertinya memang mendapat perawatan yang khusus itu. “Terserah deh!” sahut Sagara menggigit bibir. Geli sekali melihat wajah panik Sagara, Fara hanya mengulum senyumnya. “Belok!” seru Sagara membuat Fara mendadak harus memutar stang motor ke kanan. Sagara yang kaget, memeluk tubuh Fara, tapi kemudian dia lepaskan dengan berkali-kali istighfar dari mulutnya. “Makanya, Tuan Sagara kalo komando jalan jangan dadakan gitu.” “Iya.” Bangga sekali Fara bisa membuat Sagara kaku ketakutan, apalagi bisa memerintah majikannya itu sampai tidak menolak sedikitpun. Dia enjoy saja menggunakan vespa seharga ratusan juta rupiah itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN