Peringatan Putri

1222 Kata
Fara berpamitan pada Sagara setelah semua selesai dia kerjakan. Wajah Sagara masih sepucat salju, bahkan selesai membonceng Fara dengan vespa antiknya. Bukan karena takut vespa itu lecet sebenarnya, tapi karena gaya bar-bar Fara dalam mengendarai kendaraan roda dua. “Naik apa kamu pulangnya?” tanya Sagara. “Taksi,” sahut Fara. Sagara menghela napas lega mendengar itu. Setidaknya dia tidak harus mengkhawatirkan Fara di jalan. “Oke, ini ongkos taksimu,” ujar Sagara mengulurkan selembar uang merah. “Saya pake aplikasi—“ “Bawa aja,” desak Sagara, kasihan juga melihat Fara yang sudah susah payah datang ke rumah dan membersihkan segalanya, meski lidahnya tadi pagi sempat terasa tebal karena kadar garam yang ditaburkan pada sup jagung terlalu banyak. “Baik! Makasih, Tuan!” sahut Fara, mengambil selembar uang merah itu. “Ah, lumayan sekali,” gumam Fara, memasukkan lembaran itu ke dalam dompetnya. Sagara menggelengkan kepala melihat tingkah Fara. Dia melihat taksi datang dan melihat Fara melambaikan tangan padanya. “Daaagh Tuan Sagara! Besok kita ketemu lagi,” serunya, lalu menutup pintu mobil. Sagara mendekik mendengar teriakan Fara. Dia menatap lekat ke kaca, di mana Fara duduk. Lalu melihat taksi online itu perlahan meninggalkan depan gerbang rumahnya. *** Fara sangat lega ketika masih mendapati pintu rumahnya terkunci. Itu artinya, Bayu belum sampai di rumah. Fara memang sengaja minta pada Sagara untuk pulang sore agar dia bisa mengurusi rumahnya sendiri. Bentuk baktinya pada sang suami. Fara sempat mampir ke warung makan untuk membeli sayur, lalu dia menatanya di atas meja. Lumayan, uang seratus ribu dari Sagara bisa dia gunakan untuk membeli sayur. Hitung-hitung dia bisa membantu Bayu, karena rumah tangga mereka memang sedang diuji dengan kekurangan. Tidak miskin, tapi kurang dari biasanya. Gaji Bayu nyaris habis untuk digunakan. Seperti cicilan rumah, listrik, air dan sebagainya. Fara sendiri heran, kenapa Bayu memperoleh gaji sedikit, padahal dia bekerja di perusahaan sang ayah. Usai menyiapkan masakan, Fara mendengar suara ketukan di pintu. Sebelumnya memang ada bunyi deru mobil, tapi karena bukan bunyi mobil Bayu, jadi Fara tidak mengira orang itu akan datang ke rumahnya. Wajah Fara tampak terkejut melihat seseorang di depan pintu. Bergaya bak selebrity, memakai sepatu high heels, dengan jaket bulu dan dress merah maroon di atas lutut. Wanita itu juga memakai kacamata hitam. Belum dipersilakan masuk, dia sudah menapakkan high heelsnya ke lantai keramik rumah Fara. “Mbak Putri, kalo mau masuk bisa nggak seenggaknya permisi dulu sama yang punya rumah?” sindir Fara, memperingatkan akan ketidak sopanan wanita itu meski dia adalah kakak iparnya sendiri. “Oh, permisi,” sahut Putri, tetap duduk di ruang tamu dengan mimik mengejek Fara. Fara mendengkus kesal. Sejak hari itu, dia bagai disidang di rumah Dela, semua orang yang berada di sana terasa begitu menjengkelkan. Sekarang, salah satu kakak iparnya sudah duduk dengan tidak sopannya. “Ada apa, Mbak Putri ke sini?” tanya Fara tanpa berniat membuatkan minum. “Memang ya, kamu nggak sopan.” Fara melotot mendengar ucapan Putri. “Mbak, memangnya, Mbak sendiri tau sopan? Masuk aja tanpa permisi, sekarang bilang orang lain nggak sopan,” gerutu Fara, tidak ada takutnya dengan wanita itu. “Nggak usah menggurui, aku ini kakak iparmu yang seharusnya kamu hormati, bukan sebaliknya!” balas Putri, menunjuk dirinya sendiri. “Mbak ini ke sini mau ngajak gelut aku? Atau mau apa sih sebenarnya? Ini rumahku, Mbak, jadi hakku kalo mau nyambut, mau nolak tamu dan sebagainya.” Putri tertawa mengejek. Lalu dia melepaskan kacamatanya dan menatap Fara dengan lekat. “Fara, aku ke sini Cuma mau memperingatkan. Kalo Bayu itu, kerja di perusahaan ayah kami. Perusahaan itu, adalah hak kami bertiga. Bukan Cuma Bayu. Jadi, hasil dari kerja Bayu di sana, bukan Cuma untuk kamu, ya? Separuhnya untuk kami. Masih baik kami menerima separuh. Kalo kamu nggak terima, mendingan Bayu suruh kerja di tempat lain, bukan di hotel ayah kami,” tegas Putri yang memang sudah gatal ingin memperingatkan Bayu dan Fara jika mereka ingin melampaui batas untuk menguasai seluruh hotel. “Maksud Mbak Putri apa? Jelasin dengan sejelasnya, Mbak!” ujar Fara tidak mengerti sepenuhnya. “Memang ya, kalo ngomong sama kamu harus sejelasnya. SDM kamu memang serendah itu,” gerutu Putri kesal. “Kalo yang aku tangkap, Mbak ini mau nuduh Mas Bayu dan aku mau menguasai perusahaan hotel Pak Eka Handoyo? Begitu? Bukan SDM rendah, tapi aku nggak nyangka Mbak Putri bakal nuduh gitu. Aku Cuma mau memperjelas dugaanku, Mbak!” omel Fara, darahnya nyaris sampai ke ubun-ubun menghadapi wanita di depannya. “Ternyata, kamu pandai juga,” ucap Putri mengangguk-angguk, merasa Fara dengan cepat menangkap maksud kedatangannya. “Iya benar seperti itu karena hotel-hotel itu nantinya harus dibagi tiga,” ujar Putri. Fara memutar kedua bola matanya. “Mbak, Mas Bayu kerja di sana hanya karena usia dan bagian pekerjaan belum ada di lowongan perusahaan lain, jadi dia terpaksa bekerja ikut papa mertua karena harus menafkahiku,” ujar Fara. “Iya, tapi ingat saja peringatanku tadi. Juga, kamu nggak usah macem-macem menghabiskan gaji Bayu. Nggak usah ngelunjak,” ancam Putri menunjuk ke wajah Fara yang tampak sangat geram. “Uang gaji Mas Bayu itu habis buat keperluan kami, Mbak. Itu juga separuhnya untuk kalian, kan? Uang tujuh juta itu harus aku cukup-cukupkan buat bayar cicilan rumah, cicilan mobil, listrik, air, makan, belum cicilan kartu kredit yang dipakai Mas Bayu sebelum menikahiku. Itupun habis dalam waktu sebulan!” Putri menatap sinis pada Fara yang dia anggap tidak becus mengurus keuangan. Padahal, Fara sudah berupaya mengatur keuangan sebulan itu di rumah yang dia tempati. Bayu sendiri tidak mau tinggal di daerah pinggiran karena orang tuanya akan merasa malu, katanya. “Kamu hanya ongkang-ongkang gitu,” tukas Putri, membuat hati Fara makin dongkol. “Mbak! Aku nggak Cuma ongkang-ongkang. Aku bakal kerja! Lihat aja nanti,” gerutu Fara, masih menyembunyikan pekerjaannya. “Kerja apa ijasah SMA? Palingan penjaga toko,” hina Putri. Fara hanya terdiam, mengingat pekerjaannya mungkin terasa lebih rendah dari yang disebutkan oleh Putri barusan. “Kenapa kalo penjaga toko? Haram?” tanya Fara, melipat kedua tangan di depan d**a. “Bukan sih, malu-maluin aja. Masa istri anak pengusaha jadi penjaga toko?” sahut Putri sinis, memalingkan wajah dengan merendahkan profesi yang dia sebutkan tadi. “Kalo aku sih, Mbak, asal pekerjaan itu halal, nggak akan malu-maluin. Justru orang-orang yang merasa sok kaya dan merendahkan semua orang yang berada di bawahnya, itulah yang rendah sebenarnya,” desis Fara. “Nggak usah ceramah, Fara. Cuma kamu yang berpikiran seperti itu karena kamu adalah bagian dari mereka. Orang dengan ekonomi rendah,” sinis Putri. Fara tidak habis pikir dengan wanita di depannya. Kenapa bisa ada orang dengan mulut yang begitu pedas dan sombongnya minta ampun. Padahal kekayaannya juga belum seberapa. Putri mendesah, bangkit dari duduk dan berdiri di depan Fara dengan arogan. “Kurasa aku hanya mau memperingatkan kalian. Soal kerjaan kamu, kalo dibahas hanya akan membuatmu malu dan mempersulit dirimu. Hahaha,” gelaknya sambil berlalu dari hadapan Fara. Fara hanya diam, menahan emosi diri. Dia hanya ingin mengendalikan diri sendiri meski beberapa orang menghinanya. Fara belajar untuk tidak mengandalkan emosi hingga harus menunjukkan siapa dirinya sekarang. “Bulat tekadku untuk menyimpan dulu siapa diriku di hadapan mereka. Aku akan membuat mereka menyesal nantinya dengan kesombongan yang tidak berguna itu,” gumam Fara, menyipitkan kedua mata menatap kepergian Putri dengan mobil yang bermerk sama dengan mobil yang diberikan ayahnya untuk tukang kebun setianya di rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN