Manager Cantik

1185 Kata
“Wanita sombong itu tidak akan mendapat panggung lagi kalo aku udah nunjukkin siapa diriku sebenarnya,” gumam Fara. Jika saja dia tidak bisa menahan emosi, maka hari itu juga mungkin Putri akan menertawakan dirinya. Padahal, Fara sudah mulai merasa malu pada sang ayah karena tidak bisa membuktikan bahwa cinta pilihannya adalah yang terbaik. Kepala Fara serasa ingin pecah saja ketika teringat sikap Bayu terhadapnya. Seorang istri harusnya diratukan. Kalimat itu tidak ada dalam kamus Bayu. Bahkan, dia menyuruh Fara untuk merendah serendah-rendahnya di hadapan keluarganya. Itu hanya membuat Fara makin dihina oleh keluarga Bayu. Fara merasa apa yang dilakukan Bayu hanya untuk menyelamatkan diri Bayu sendiri. Dia tidak mampu membela harga diri Fara, jadi dia ingin ‘aman’nya saja. “Sial,” sungut Fara, menghempaskan bobotnya di atas sofa yang masih dalam cicilan itu. Kedua mata Fara menyapu seluruh ruangan. Dia tertawa kering karena nyaris seluruh isi rumah itu belum lunas cicilan. “Payah banget sih aku. Temenku banyak, tapi kenapa hatiku malah tertambat sama Mas Bayu? Apa karena pas dia datang, aku dalam pengaruh emosi waktu itu karena aku mau dijodohin? Sial, sial!” keluh Fara yang menyadari kebodohannya karena tidak berpikir dua kali dalam bertindak. Waktu itu, waktu bertemu dengan Bayu, dia langsung melihat wajah lumayan dan sikap bertanggung jawab dari pria yang tiba-tiba datang untuk melamarnya. Seolah hal itu merupakan oase di padang gurun kering, Fara otomatis menerima lamarannya di saat hatinya galau karena tidak mau terpaksa menikahi orang yang belum pernah dia temui. Pertemuan yang hanya bisa dihitung dengan jari bersama Bayu tidak menjadi masalah waktu itu dan apa yang dipikirkan oleh Fara hanyalah kebebasan. Ya, menikah dengan Bayu dia pikir bisa terbebas dari perjodohan, tapi nyatanya hari ini dia malah makin merasa malu pada kedua orang tuanya karena dia tidak sebahagia yang dia sangka. Suara deru mobil membuat pikiran Fara buyar. Dia melangkah dengan malas, tidak sesemangat pertama kali menikah dengan Bayu. Fara tidak berjalan ke pintu utama, tapi langsung berjalan ke dapur untuk menyiapkan secangkir kopi seperti biasanya. Meski bagaimana pun, dia merasa harus melakukan kewajiban sebagai seorang istri. Secangkir kopi kental telah tersedia di tangannya, siap untuk dihidangkan pada sang suami petang itu. Fara melirik jam di dinding. Dia baru sadar kalau jam pulang Bayu agak molor. “Lembur, Mas?” sambut Fara, meletakkan cangkir berisi kopi panas itu di meja, lalu menerima tas Bayu seperti biasanya. “Iya, ada proyek baru yang mesti aku tangani dan itu sangat menyita waktuku. Capek, tapi nggak apa-apalah demi karier,” oceh Bayu, mendudukkan diri di atas sofa dan menunggu istrinya mengambilkan kopi. “Wow, kemajuan, Mas.” Bayu hanya tersenyum tipis mendengar komentar Fara. Memang benar ada sedikit kemajuan yang diberikan ayahnya. Dia tidak menyangkal itu setelah beberapa bulan bekerja di hotel pusat. Bayu menyesap kopinya dan mendadak tersedak ketika ingat syarat ayahnya yang masih penuh tanda tanya. “Mas, pelan-pelan!” Fara bergegas menarik selembar tissue dari kotak, lalu menyerahkannya pada Bayu. Pria itu meringis, mengambil tissue dan mengelap kemejanya yang terkena cipratan kopi dari mulut. “Kamu udah pulang kerja?” tanya Bayu menatap pada Fara. Tangannya masih mencoba mengeringkan kemeja. “Udah,” sahut Fara singkat. Ingatannya kembali pagi tadi, masih ada hal yang membuatnya kesal tentang semalam. “Kerja apa kamu, Fara?” tanya Bayu yang masih bertanya-tanya. “Pokoknya halal, Mas. Mas nggak usah pusingin pekerjaanku. Yang penting aku bisa bantu Mas walau aku tidak memiliki ijasah seperti yang dituduhkan semua orang,” sahut Fara sembari mendesah. “Iya, tau halal, tapi apa?” Bayu yang capek mulai tersulut lagi emosinya dengan Fara yang berbelit-belit. Tinggal bilang saja, apa sulitnya? Namun, bagi Fara tidak semudah itu. Dia bisa kehilangan pekerjaan jika suaminya tau, dan dia akan terkurung di dalam rumah karena kesulitan mendapatkan kerja dengan beberapa syarat umum yang selalu diminta oleh perusahaan. “Yang penting pekerjaanku nggak membuat satu keluarga saling iri dan berebut harta,” sahut Fara, tiba-tiba terbersit kedatangan Putri tadi. Bayu memutar duduknya, menatap Fara dengan pandangan kesal karena apa yang mereka bicarakan agak keluar jalur. “Apa maksudmu?” tanya Bayu. “Tadi Mbak Putri ke sini, intinya dia bilang kamu kerja di perusahaan orang tua kalian itu, harus membayar ganti. Separuh gaji kamu masuk ke keluarga mereka. Benar itu?” Bayu gelagapan mendengar pertanyaan Fara. Dia tidak habis pikir bagaimana Putri bisa membuka rahasianya pada Fara. Sesuai dengan janji, dia memang harus membagi dua gajinya dengan sang istri. Namun, mau bagaimana lagi, untuk bekerja di luar memang sangat sulit sekarang. Selain umur dan pengalaman kerja, koneksinya tidak banyak, jadi Bayu kesulitan dan waktu itu memutuskan untuk meminta pekerjaan pada sang ayah. “Aku terpaksa, Fara. Kamu nggak ngerti juga.” Fara membelalakkan kedua mata. “Udah kubilang, kita bisa berusaha berdua, Mas. Tapi kamu nggak pernah mau,” sahutnya. Sempat terpikir waktu di-PHK, Fara ingin membuka usaha, entah apa, tapi Bayu menolak. “Kamu tau, merintis dari nol itu sulit.” “Kalo gaya hidup kita nggak seperti ini, kita nggak bakalan kesulitan, Mas.” “Kamu nggak ngerti keluargaku, Fara. Kamu lihat rumah kakak-kakakku, kan? Besar, mewah? Nah, rumah kita ini masih sangat jauh, itupun mereka hina, apalagi katamu beli rumah sederhana di pinggiran kota. Apa mereka nggak akan tambah menghina kita?” ujar Bayu, meraup wajahnya. Fara hanya menghela napas. Kalo sudah menyangkut gengsi, manusia nggak akan pernah merasa bersyukur dengan apa yang mereka miliki. “Ya udah, Mas. Kalo itu mau kamu. Silakan aja nurutin keluargamu. Aku juga akan berusaha mencari uang sendiri. Karena, skincare nggak bisa dibeli pake jaminan kesehatan,” gerutu Fara beranjak dari duduknya dan masuk ke kamar karena terlampau lelah dengan tenaga dan pikirannya. Bayu menyandarkan punggung ke sandaran sofa, menerawang dan merasa Fara adalah wanita egois yang hanya mementingkan diri sendiri. “Dia pikir hidup sederhana nggak jadi masalah?” Bayu menyugar rambutnya, memilih memikirkan proyek yang diberikan ayahnya, ketimbang memikirkan Fara. *** Beberapa hari, Bayu melihat roti dan selai untuk sarapannya. Dia pun tidak pernah menyentuh sarapan itu. Fara sendiri telah pergi pagi-pagi dengan baju seperti orang kantoran. Hari ini dia harus menemui manager perusahaan yang mengajak kerjasama. Mereka berkutat pada bidang pariwisata dan jika Bayu berhasil mengatur kerja sama, maka dia bisa mendapat tempat untuk mendirikan hotel di kota yang sedang dibangun sebuah tempat wisata terbesar keenam se-Asia tenggara itu. Bersama dengan Roni, dia duduk di lobby perusahaan yang akan diajak bekerja sama. “Ron, kira-kira nanti apa yang dibicarakan?” tanya Bayu. “Nanti kita lihat saja, Tuan. Santai saja, managernya perempuan kok,” sahut Roni mengerlingkan matanya. Bayu menggelengkan kepala, tersenyum, tapi menganggap Roni hanya candaan, tapi ternyata telinganya memang mendengar bunyi high heels beradu dengan lantai dari arah luar dan mendekat ke lobby. Bayu terpana melihat seorang gadis yang memang tampak elegan dengan bajunya, dan kelihatan sekali gadis itu cukup pandai. Dia mengulurkan tangannya pada Bayu sambil tersenyum dengan manis. Roni saja sampai menyenggol lengan Bayu karena Bayu hanya berdiri menatap gadis itu saja. “Oh, maaf.” “Berlian,” ucap gadis itu ketika Bayu menyambut tangannya. “Bayu,” sahut Bayu, mati-matian menyingkirkan rasa gugup yang tercipta ketika melihat kedua mata gadis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN