Jantung Tidak Beres

1504 Kata
Fara mengusap dahinya, merasakan kepalanya cenut-cenut mendengar permintaan Sagara pagi itu. Pria tampan itu meminta satu mangkuk bubur ayam. “Oh my God, mana bahannya banyak banget?” gumam Fara melihat layar ponselnya. Untuk membuat bubur, dia harus melakukannya lebih lama dari menanak nasi yang hanya dipencet tombol ‘cook’nya saja. Fara mendapatkan sebuah ide. Dia berjalan ke ruang kerja Sagara dengan bersemangat untuk memberikan idenya. Fara melihat pria itu sedang sibuk di depan layar komputer. Dia mengetuk perlahan pintu yang terbuka lebar. Tangannya baru mau mengetuk, tapi kedua mata Sagara sudah menangkap kedatangannya. “Eits, kamu nggak lupa kan, kalo nggak boleh masuk?” tahan Sagara, menunjuk kaki Fara agar tidak melangkah masuk. “Iya, Tuan. Saya Cuma mau bilang sesuatu.” “Apa itu, bilang aja dari tempat kamu berdiri.” Fara agak ragu, tapi dia harus mengatakan pendapatnya untuk mempermudah pekerjaan. “Tuan Sagara, bisa nggak kalo bikin buburnya di rice cooker?” tanya Fara, mempertemukan telunjuka kiri dan kanannya, berharap Sagara memberikan kemudahan padanya. Namun, apa yang diharapkan oleh Fara berakhir dengan gelengan kepala pria itu. Fara mendesah jadinya. Dia pun berbalik ke dapur dengan tubuh lemas. “Pria ini bahkan lebih sulit dihadapi dari pada Mas Bayu,” gerutunya dalam hati. “Fara, tunggu.” Panggilan itu sedikit membuat harapan untuk Fara. Senyumnya terbit karena berharap bahwa majikannya itu akan berubah pikiran. Dia berbalik dengan senyuman manis. “Iya, Tuan?” balasnya. “Nanti, rendam beras bersihnya dulu beberapa menit, terus kamu tumis pake minyak kasih jahe dan garlic chop. Baru kamu bikin bubur,” jelas Sagara, malah membuat kening Fara berkerut. “Hah?” Tanpa disadari, bibir Fara membentuk huruf ‘O’, melongo dibuatnya. “Hah? Kenapa harus pake ‘hah’, Fara? Kamu nggak kepedesan, kan? Ayo, perutku lapar, aku harus menyelesaikan kerjaanku ini di rumah.” Sagara memutar layar komputernya ke Fara yang cengar-cengir tak habis pikir kenapa tips dari Sagara malah berasa mempersulit dirinya. “Ya, Tuan. Saya coba cepat,” sahutnya, kembali berbalik seperti posisi semula dan berjalan ke dapur. “Mana ada bikin bubur kayak gitu? Aneh,” sungut Fara, tidak terbayang bagaimana cara yang disampaikan oleh Sagara. “Jadi nggak jadi, pokoknya kayak kemarin-kemarin, nggak enak aja dia mau makan, kan?” oceh Fara ketika tiba di dapur, melihat bahan masakan sudah dia siapkan. Teringat akan beberapa hari yang lalu, tangannya memang sepayah itu saat memasak. Namun, memakan sayur yang hambar, Sagara tidak juga protes. Hanya saja, dia menaburkan sedikit garam ke piringnya. “Asal nggak gosong aja,” gumam Fara meringis usai menatap kedua tangan yang sepertinya susah diajak bekerjasama dalam hal perdapuran itu. Fara mulai memejamkan kedua mata, berusaha mengingat instruksi yang dikatakan oleh Sagara tadi. Dia mulai mencuci beras dan merendamnya dengan air bersih di sebuah mangkok stainless, lalu mengupas jahe dan bawang. Sagara keluar sebentar dari ruang kerjanya dengan mengintip dari atas ke ruang dapur. “Salah sendiri, kenapa waktu itu kamu menolak dijodohkan denganku. Wanita seperti kamu, membuat penasaran karena bisa menolak pesona seorang Sagara Kawindra,” gumam Sagara menaikkan sudut bibirnya. *** “Mas Bayu, kita deal ya? Aku mau kok memberikan tempat buat hotel kalian di dalam tempat wisata kami yang lumayan luas itu. Tempat itu akan berpotensi besar mendatangkan wisatawan. Dengan begitu, hotel kalian akan bisa semakin berkembang,” ucap Berlian mengulurkan tangannya usai membicarakan kerjasama mereka. Bayu berbinar mendengar sambutan dari Berlian yang sebenarnya membuat dia gugup selama duduk bersama itu. Semula dia takut sekali jika gagal memberikan kesan baik, tapi ternyata pada akhirnya wanita itu setuju dengan kerjasama mereka. “Baik, Nona Berlian.” “Ish, jangan panggil aku ‘Nona’, udah dibilangin,” celetuk Berlian, merengut. Bibirnya agak manyun, tapi wanita itu sungguh masih cantik ketika bersungut-sungut. “I-Iya, aku Cuma nggak ngerasa sopan aja kalo panggil kamu dengan nama doang,” sahut Bayu menggaruk tengkuknya dengan nervous. “Nggak apa-apa. Aku kan udah kasih ijin sama Mas Bayu,” timpal Berlian. “Baik, Berlian.” “Jadi, minggu depan kita udah merencanakan pembangunan ya?” tutur Berlian. Bayu melebarkan kedua matanya. Begitu gampang membuat kerjasama dengan wanita itu, dan tidak basa-basi lagi, cepat juga proyeknya akan berjalan. “Baik, makasih ya, Berlian.” Keduanya saling berjabat tangan. Bayu merasakan degup kencang ketika tangannya menggenggam tangan halus Berlian untuk yang kedua kalinya hari itu. Senyum Berlian juga membuatnya menahan tatapannya ke wajah ayu wanita di depannya. *** Bau tidak enak terendus di hidung Sagara ketika kembali fokus pada pekerjaannya. Dia yakin sekali bau itu berasal dari dapur. Sagara bergegas meletakkan pekerjaan, lalu beranjak menuju ke ruang di mana Fara sedang berkutat di sana. “Astaga,” gumam Sagara melihat seorang wanita yang terbatuk-batuk dengan kepulan asap dari sebuah panci. Dapur sekarang bagai sebuah medan perang bagi Fara. Dia masih berusaha mengibaskan asap. Sagara cepat-cepat mematikan kompor tanam yang ada di depan mereka. Fara menoleh dengan cepat dan kaget dengan adanya Sagara di sebelahnya. “Aduh, maaf Tuan. Kenapa jadi gosong begini jahe, garlic sama berasnya?” sesal Fara, menyadari kebodohannya. “Ya pantes aja gosong, apinya kebesaran. Harusnya kamu pake api sedang,” protes Sagara, mengambil panci bergagang itu dari atas kompor lalu membuangnya ke tong sampah. Kedua bahu Fara terangkat sesaat ketika kaget dengan sikap Sagara. Pria itu gampang sekali membuang pancinya! “Itu ... panci masih bisa dipake, Tuan—“ “Aku nggak mau waktu kamu habis buat bersihin panci yang udah gosong itu, sementara perutku melilit-lilit kelaparan,” tukas Sagara, mengambil panci baru, lalu menatap Fara dengan tajam. “Ambilkan aku celemek,” pintanya. Fara mengangguk cepat, lalu berjongkok di depan lemari untuk mengambilkan celemek baru. Dia menyodorkan lipatan celemek itu pada Sagara yang sedang mencuci beras. “Pakaikan,” suruh Sagara, merenggangkan kedua tangannya. Fara meringis, tapi tidak ada yang bisa dia tolak. Dia pun, memakaikan celemek itu ke tubuh pria di depannya, bagai memakaikan baju anak kecil. “Kenapa lama sekali? Apa kamu belum punya anak? Sampai nggak bisa cepat memakaikan celemek saja?” sindir Sagara. Padahal, Fara gugup tentu saja karena harus melakukan sesuatu yang bahkan belum pernah dia lakukan pada suaminya sendiri. “Belum,” sahut Fara agak kesal. Sagara memutar kedua bola matanya, lalu menunggu Fara memakaikan benda berwarna biru tua itu ke badannya. Fara mencium bau parfum yang lembut ketika Sagara mengangkat kedua tangannya agar Fara bisa mengikat celemek itu. “Udah kutebak belum punya anak.” Gumaman tak jelas itu seperti dengungan lebah di telinga Fara. Dia mendengkus. “Gimana, Tuan?” tanya Fara yang memang tidak mendengar jelas ucapan Sagara. “Itu ... kupasin bawang dan jahe, buruan.” “Iya, Tuan.” Fara bergegas mengambil seruas jari jahe dan satu siung bawang putih dan melakukan perintah Sagara, sementara pria itu merendam berasnya. “Untung aja dia nggak denger tadi,” gumam Sagara meringis sembari merendam berasnya, menengok sebentar ke arah Fara yang sibuk mengupas bawang dengan memunggunginya. Sagara mendekati Fara, lalu memperhatikan cara wanita itu mengiris bawang. “Siniin,” ucapnya mengulurkan tangan untuk mengambil alih pekerjaan Fara. Fara ragu menyerahkan benda berkilat itu ke tangan Sagara, tapi melihat pria itu mengiris bawang, Fara terbelalak dibuatnya. Tangan Sagara sungguh terampil mencacah bawang seperti yang dia lihat di tayangan video dalam ponselnya. Menggeprek bawang, lalu mencacahnya menjadi bagian kecil dan lembut. Lalu menggeprek jahe dan semua bahan itu telah siap di atas talenan. “See?” ucap Sagara membuat Fara tersentak. “Ya,” sahut Fara meringis, merasa jauh kalah dengan pria di depannya yang dia kira hanya bisa mengurusi pekerjaannya saja. Namun, tidak hanya sampai di situ, Fara dibuat tertegun melihat Sagara menuang olive oil ke dalam panci di atas kompor yang sudah dia nyalakan dengan api sedang, lalu memasukkan kedua bahan tadi dan menumisnya. Dia pun memasukkan beras ke dalam panci sebentar setelah meniriskannya, lalu menuang air ke dalam panci. Fara bertepuk tangan kecil tanpa suara. “Whuaa .... hebat Tuan Sagara,” pujinya takjub. “Tugasmu, aduk berasnya sampai jadi bubur,” titah Sagara, memberikan tempat pada Fara. “Baik, kalo Cuma aduk aja, gampang,” sahut Fara mengambil alih peran Sagara yang mendengkus dan menggelengkan kepala melihat tingkah Fara. Fara tidak melihat pria itu pindah dari tempatnya berdiri mengawasi Fara, sampai beberapa menit, dia masih saja berdiri, lalu Fara melihat pria itu menyiapkan bahan-bahan lain dengan cepat, bahkan tanpa melihat resep. Sesekali Fara memperhatikan pria itu memasak. Sungguh keren, ternyata. Dia kira hanya chef keren di layar yang bisa seperti itu, tapi nyatanya majikannya bisa melakukan apa yang dilakukan para chef professional. Sagara selesai menggoreng ayam yang sudah dimarinase semalam dan membuatnya menjadi suwiran, lalu membuat kuah dengan cepat sembari menunggu kuahnya mendidih. Namun, Fara masih saja mengaduk bubur. Fara terhenyak ketika mengendus parfum. Itu artinya, Sagara mendekat padanya. Tambah kaget lagi ketika tangan Sagara memegang tangannya. “Aduk dengan benar, sampai dasar panci biar nggak gosong.” Fara memegang dadanya, melirik perlahan pada wajah tampan Sagara yang begitu dekat dengan wajahnya. “Kenapa?” tanya Sagara mengernyitkan dahi. “S-sepertinya ada yang nggak beres sama jantung saya,” sahut Fara meringis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN