“Kamu butuh dokter?” tanya Sagara, menatap Fara dengan datar.
Fara menarik tangannya dengan cepat, lalu meringis dan menggelengkan kepala. Dia merutuki mulutnya yang terlalu jujur mengatakan apa yang dia rasakan.
“Ng-nggak, Tuan Sagara. Saya Cuma—“
“Jangan bilang jantung kamu berdebar karena saya pegang tangan kamu.”
Ucapan Sagara membuat kecut wajah Fara. Dia menyengir, tapi sambil menggerutu dalam hati.
“Bisa-bisanya dia terlalu percaya diri,” gumam Fara. Melanjutkan adukan bubur di dalam panci dan melihat Sagara keluar dari dalam dapur dengan perasaan lega.
“Jangan lama-lama, kalo buburnya mateng, siapin di ruang makan. Terus panggil aku, ya?” titah Sagara yang berjalan sembari menengok ke belakang dengan telunjuk ke arah Fara.
“Iya,” sahut Fara mengelus d**a, merasakan debar itu mulai mereda.
"Dear jantung, please. Jangan suka sembarangan berdebar gitu deh."
“Ih, kenapa sih aku ini?” gerutu Fara berdesis setelah Sagara sudah naik ke lantai dua. Fara menghentakkan kedua kakinya, menyesali mulutnya yang berbicara jujur, tapi memang dia merasakan hal itu. Suatu kebodohan yang dia sesali ketika menyadarinya, membuatnya salah tingkah sendiri.
***
Sagara telah duduk di kursi di dalam ruang kerja seraya menutup wajah. Dia menghela napas mengingat kejadian barusan.
“Tuan, Nona Fara yang menolak Anda telah menikah dengan seorang pria, anak dari pemilik beberapa hotel di kota ini.”
Ucapan Lee waktu itu terngiang di otak Sagara. Semula, kedua orang tuanya menawari untuk dijodohkan dengan gadis bernama Faradilla Terry Firdaus, anak dari rekan ayahnya. Seorang pengusaha kelas kakap seperti sang ayah yang memiliki perusahan di berbagai kota. Namun, begitu dia menyetujui, kabar yang beredar bahwa gadis itu pergi dari rumah karena membangkang dengan perjodohan, membuatnya kesal.
Sagara, perjaka berusia tiga puluh tahun itu, merasa terhina sudah. Dia pikir dirinya terlalu tua menjomblo maka orang tuanya harus mencarikan istri, padahal dia sendiri terlampau menikmati kehidupannya selama ini. Penolakan itu, membuat Sagara merasa penasaran dengan gadis bernama Terry atau Fara.
Makanya, dia menjadikan Fara seorang pembantu agar bisa mengetahui bagaimana sifat gadis itu.
“Ngapain juga sih aku pake penasaran sama perempuan itu?” keluhnya sendiri, tidak habis pikir kenapa dia sampai membangun rumah baru yang hampir mirip dengan rumah Fara yang pernah dia kunjungi usai gadis itu pergi dari rumah dan berencana mempekerjakan gadis itu demi mengerjainya saja.
“Kan bisa, aku pilih cewek lain, nikah, beres. Ya, kan? Kenapa musti narik dia ke rumah ini? Kenapa aku cari perkara aja?” gerutunya pada diri sendiri.
“Aneh-aneh,” omelnya sendiri.
“Sekarang, terbukti perempuan itu masak aja nggak bisa, bersih-bersih juga kurang maksimal. Apa anak tunggal memang kayak gitu?” gumam Sagara mengulas sifat Fara.
Sebenarnya dia berencana ingin mengerjai Fara, tapi entah kenapa melihat langsung wajah Fara membuatnya tidak tega untuk mencela masakannya. Bahkan sayur yang keasinan pun dia makan juga. Hanya saja, sewaktu rasa jengkelnya kumat pada Fara, Sagara bisa mengancam pemotongan gaji. Itu saja.
“Salah sendiri dia melarikan diri, jadi hidup susah kayak gitu, kan? Apa suaminya nggak tau ya kalo dia kerja seperti ini?” gumam Sagara merasa aneh dengan ijin suami Fara.
“Trus, kenapa juga dia pake kerja? Seharusnya, suaminya memenuhi kebutuhannya.”
Tangan Sagara mengambil ponsel, lalu menghubungi Lee sang sekertaris berdarah Korea-Indonesia itu.
“Lee, coba kamu ke sini.”
Seiring dengan itu, Fara mengetuk pintu ruang kerja Sagara, lalu Sagara beranjak dan membukakan pintu, melihat Fara dengan senyum manis berdiri di depan ruangannya.
“Tuan, bubur sudah siap. Silakan sarapan dulu,” ujarnya, memasang senyum meski terpaksa. Ya, demi apa kalau bukan demi uang.
“Oke. Kamu lanjut bersih-bersih, aku turun sebentar lagi.”
“Baik, Tuan.”
Pintu ditutup dan Fara kaget karena dia sempat melirik ke dalam. Dia penasaran kenapa ruangan yang tampak biasa itu tidak boleh dimasuki. Fara meringis ketika Sagara melotot padanya sambil memutar kunci pintu dan bergegas turun dari lantai atas.
“Apa perjaka tua itu memelihara tuyul di ruang kerjanya?” gumamnya, menundukkan wajah, tapi menatap punggung Sagara dengan tatapan tajam.
***
Lee datang di saat Sagara selesai makan. Dia sendiri yang membuat kuah jadi rasanya lumayan. Di ruang makan, Sagara bertanya pada Lee.
“Lee, apa kamu tau kenapa Fara boleh kerja?” tanya Sagara mengusap sudut bibirnya dengan serbet makan.
“Suaminya di-PHK dari perusahaan tempat dulu dia kerja, Tuan. Jadi sekarang dia kerja di hotel milik ayahnya. Kalau yang saya amati, kemungkinan ekonomi mereka sedang sulit.”
“Ekonomi sulit? Bukannya kerja di hotel ayahnya cukup menjanjikan?” cecar Sagara, merasakan keanehan.
“Saya kurang tau, Tuan.”
Sagara mengerutkan dahi. Dia mengibaskan tangan di depan wajah.
“Hah, ngapain juga aku perduli. Yang penting kan aku mau balas kelakuan dia itu,” sungutnya, tidak habis pikir kenapa dia malah memikirkan Fara.
Matanya menatap ke arah perempuan yang sedang mengepel lantai dengan baju seragam yang dia beri waktu itu. Sagara menyunggingkan senyum, kenapa perempuan itu penurut sekali.
“Tuan, Nyonya Besar ingin berbincang dengan Anda di rumah. Beliau sudah menunggu.”
Sagara memutar kedua bola mata mendengar itu, seolah bisa menebak arah pembicaraan yang akan dibahas oleh ibunya.
“Sebentar, aku masih harus menyelesaikan kerjaan.”
Lee mengangguk, setia menunggu tuannya yang kembali ke dalam ruangannya. Sagara dengan santai melewati Fara yang sibuk mengayunkan tongkat pel, tapi tidak dengan Lee. Dia berdiri menunggu Fara, sampai Fara harus beberapa kali berhenti mengayunkan tongkat pelnya.
“Anda bisa lewat aja,” ujar Fara yang merasa tidak nyaman dengan pekerjaannya karena Lee hanya berdiri di depan pintu ruang makan.
“Tidak.”
Fara mengerutkan dahi mendengar ucapan Lee barusan. Dia berpikir sejenak, lalu tersenyum masam, mengayunkan lagi tongkat pel ke lantai. Namun, sebentar kemudian dia memejamkan kedua mata ketika harus mengepel ruanga makan.
“Mendingan Anda ke ruang kerja Tuan Sagara,” titahnya, lirih.
“Hm, tidak.”
Fara menyugar rambutnya. Dia menatap pria yang berdiri tegak seperti sedang berbaris itu.
“Kalo gitu, Anda minggir sedikit, saya mau ngepel ruang makan dan membereskan piring Tuan Sagara,” pinta Fara, masih heran dengan pria di depannya. Bada tegap memenuhi ambang pintu.
“Ya.”
Fara sedikit mengeluarkan udara dari hidungnya mendengar sepatah kata saja yang keluar dari mulut pria itu dan kaki pria itu melangkah satu langkah saja ke samping kanan. Fara kemudian melewati celah yang diberikan oleh pria itu.
“Benar-benar karya Tuhan yang luar biasa pria ini, aneh.”
Fara melanjutkan pekerjaan, sementara heran dia melihat pria itu masih berdiri di ambang pintu. Dia pun berdendang kecil, tapi Lee tetap saja bergeming. Heran sekali.
Tentu saja saya tidak berani menginjak lantai yang sudah dipel oleh Nona Fara. Mendingan saya berdiri di sini dari pada harus mengotori lagi lantai itu.
Lee mengamati lantai dan menunggu lantai itu kering, baru dia akan melangkah keluar dari rumah Sagara.