Salah Orang

1100 Kata
Sagara memasuki rumah mewah yang ditinggali oleh kedua orang tuanya. Sementara ini, sang ayah sedang berbisnis ke luar kota dan ibunya tinggal bersama dengan para pelayan. Sedangkan adik lelakinya berkuliah di luar negeri. Baru saja Sagara melongok ke ruang tengah, ibunya sudah menuruni tangga, turun dari kamar karena sang pelayan memberitahu bahwa anak kesayangannya sudah datang. “Mama,” panggil Sagara bergegas mendatangi ibunya dan menyalami tangan wanita paruh baya itu, sebelum kemudian mendekapnya hangat. “Kamu ini, baru seminggu nggak ketemu mama, udah kayak setahun.” Sagara terkekeh mendengar ucapan sang ibunda, lalu menarik tangan wanita itu ke ruang tengah, di mana mereka seringkali bercengkerama bersama. Sebenarnya dia merasa kasihan karena ibunya itu sendirian di rumah. Sagara menghela napas. Jika saja dia tidak penasaran dengan gadis bernama Faradilla itu, dia sudah pasti menemani ibunya di rumah. Sahara Laili, wanita berusia lima puluh tahun itu, mengelus lengan sang putra pertamanya. Meski lelah bekerja di pemerintahan, tapi kedatangan Sagara menjadi penyegar rasa letihnya. Kerinduan akan anak bungsunya yang menjalani study di luar negeri, masih ditambah dengan keputusan Sagara untuk membangun rumah sendiri dan tinggal di sana. Namun, demi kemandirian sang putra, Sahara mendukungnya. “Ya kangen lah, Ma. Masa nggak kangen.” Sahara mengerucutkan bibirnya, merajuk pada anak lelakinya itu dengan mata menatap lekat ke kedua mata Sagara. “Beneran kangen? Kalo Mama nggak panggil kamu lewat Lee, kamu nggak juga pulang,” rajuk Sahara. “Bukan gitu, Ma. Tapi Sagara lagi ada kerjaan banyak. Kalo kerjaan itu kelar, pasti Sagara pulang. Udah kangen sama masakan lezat Mama,” tutur Sagara, mencoba merayu ibunya agar tidak lagi merajuk. “Oh, jadi kangen Mama Cuma mau makan—“ “Bukan, Mama,” potong Sagara, memeluk wanita yang duduk di sebelahnya dengan senyum manis itu. “Iya, iya.” Sahara memanggil seorang pelayan dan memintanya untuk membuatkan dua cangkir teh untuk menemani mereka berbincang. Ada hal yang dipikirkan oleh Sahara selama ini, terutama setelah penolakan anak sahabat sang suami untuk perjodohan yang mereka rencanakan. Sebenarnya, Sahara sudah sangat senang karena sang anak yang tidak pernah mengenalkan seorang gadis padanya mau-mau saja dijodohkan, tapi rasanya kecewa ketika pihak perempuan malah melarikan diri dari rumahnya dengan kabar perjodohan, bahkan sebelum mereka memperkenalkan diri. “Gini Sagara, Mama ada kenalan lagi. Namanya, Mutiara, seorang gadis teman Samudra, adikmu. Dia sepertinya ingin mengenalmu lebih dekat—“ Sagara berdecak mendengar itu. Sampai Sahara hanya bisa tersenyum. “Ya kalo kamu berkenan, tapi kalo nggak ya nggak apa-apa, Sagara. Mama itu Cuma mikir masa depan kamu. Usiamu udah menginjak kepala tiga, kan?” beber Sahara. “Mama, Sagara tau Mama khawatir sama Sagara karena penolakan itu, Sagara menjadi malu, tapi nggak Ma. Mama nggak perlu khawatir.” Tatapan Sahara beralih ke pelayan yang menurunkan dua cangkir teh dan cemilan di atas meja sambil membenarkan ucapan Sagara bahwa dia hanya khawatir dengan kondisi sang anak usai mendapatkan penolakan. “Ya, Sagara. Mama jadi tenang kalo kamu nggak terganggu dengan insiden itu. Kalo memang belum jodoh ya mau gimana, tapi mama harap kamu nggak menutup hati kamu dengan perempuan.” “Mama tenang aja, kalo misalkan Samudra duluan yang menikah, akupun nggak apa-apa, Ma.” Sahara tekekeh dibuatnya. “Adikmu masih kuliah. Masih lama perjalanannya meski sebentar lagi dia selesai skripsi. Dia harus bisa memimpin perusahaan sepertimu. Lihat saja kelakuannya masih seperti anak-anak.” Sagara tersenyum melihat ibunya. Perasaannya sedikit lega ketika melihat gurat tawa di wajah sang ibu yang menunjukkan bahwa dia memang baik-baik saja. “Ya, siapa tau, Ma,” gurau Sagara, mengambil satu cemilan dari atas meja dan memasukkannya ke dalam mulut. “Nggak mungkin. Dia masih terlalu jauh untuk mengenal cinta, sama seperti kamu. Ah, anak lelaki memang seperti itu, ya? Katanya di umur delapan belas tahun mereka akan berhenti bermain-main, nyatanya di usia dua puluh satu, adikmu masih saja mengoleksi diecast. Dasar kekanakan.” Sagara terkekeh mendengar keluhan ibunya, tapi berhenti ketika melihat keprihatinan yang tidak terlalu berarti di wajah sang ibu. “Nggak usah khawatir, Ma. Dia akan berkembang kalo memang membutuhkan uang untuk hidup. Lihat saja nanti pas lulus. Dia akan mikir,” tukas Sagara, menenangkan ibunya. “Iya, semoga aja,” sahut Sahara tersenyum lega. *** Sagara telah puas melepas rasa rindu pada ibunya. Dia pun memutuskan untuk pulang ke rumah petang itu. Sementara di rumah Sagara, Fara masih mondar-mandir seraya melihat ke arah jam. Ini sudah lewat dua jam waktunya pulang. Namun, pria yang menjanjikan memberinya gaji mingguan itu belum juga pulang. “Huh, jangan-jangan dia pergi Cuma mau ngeles nggak mau kasih aku gaji. Ini kan seharusnya aku dapetin hakku,” gerutu Fara, menghempaskan bobotnya ke sofa dengan kesal. Sepuluh menit kemudian, terdengar suara deru mobil. Namun, Fara heran karena mobil yang berhenti di depan gerbang bukanlah mobil Sagara. Dia masih mengintip dari jendela. Apakah ada seseorang yang turun dan memang ingin mencari tuannya atau mencari siapa. Benar saja, bel rumah berbunyi dan Fara harus beranjak dari sofa untuk menghampiri tamu itu di depan pintu gerbang. Dia tidak habis pikir kenapa Sagara tidak juga memiliki seorang satpam di rumah itu. Kan bisa mengurangi pekerjaannya selain alasan keamanan. “Ya?” sambut Fara dari celah gerbang. Sejujurnya dia tidak mau berurusan dengan tamu majikannya itu, meski di depan gerbang hanyalah seorang gadis dengan penampilan cukup menarik. “Apa ini rumah Sagara?” tanya gadis itu, melongok ke lubang gerbang. “Mmm, iya, tapi dia baru pergi,” sahut Fara. Berusaha sesingkat mungkin menyahut gadis asing itu. “Sudah janjian?” tambah Fara. “Belum sih, tapi aku ingin ketemu. Kamu siapa, ya?” tanya gadis itu. “Saya—“ Gadis itu meluruskan punggung karena ada mobil datang dari arah utara sebelum Fara selesai menjelaskan siapa dirinya di rumah itu. Fara agak lega karena yang datang adalah mobil Sagara. “Nah, aku nggak perlu lagi berurusan dengan orang asing.” Fara hanya tidak mau kesalahan karena memasukkan orang tidak dikenal ke dalam rumah. Jadi rasanya sangat lega ketika Sagara sudah pulang, juga lega ketika menyadari tidak sia-sia dia menunggu majikannya untuk menagih gaji mingguannya. Fara membukakan gerbang lebar-lebar ketika mobil Sagara sudah sampai di depan. Namun, sayang, gadis tadi ikut masuk ke dalam sebelum dia bisa mencegahnya. Gadis itu berlari dan berdiri di samping pintu sopir. Menunggu dengan manis. Fara menahan tawa melihat kelakuan gadis itu. Benar saja, Lee keluar dari dalam dan disambut oleh gadis itu. “Sagara, aku Mutiara, teman Samudra. Aku ingin sekali berkenalan denganmu—“ Gadis bernama Mutiara itu sempat mengulurkan tangannya ke arah Lee, tapi raut wajah datar Lee membuat Fara terkekeh. Sungguh dagelan baginya. Gadis yang terlalu gegabah. Fara menepuk jidatnya, sambil tertawa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN