Syarat

1395 Kata
“Maaf, Tuan kami masih di dalam.” Fara tidak dapat menahan tawanya lagi sampai dua orang itu menengok padanya. Dia pun berdeham demi menghentikan tawa. Lalu mengibaskan tangan ke bajunya agar teralihkan pikirannya. Ketika melihat ke depan lagi, Sagara sudah berdiri di depan gadis dengan kedua pipi memerah itu. Fara kembali menguping. “M-maaf, Sagara. Aku Mutiara, teman Samudra, adikmu. Aku dengar dari teman-teman bahwa kamu barusan patah hati. Jadi, aku menawarkan diri pada mama kamu untuk sekadar berteman.” Fara melirik ke arah Sagara, tapi apa yang dia lihat malah mengagetkan. Sagara menatapnya tajam bagai ingin membunuh Fara dengan tatapannya! Fara meringis dan menunduk, meski belum juga hilang rasa gelinya dengan kekonyolan gadis bernama Mutiara. Fara agak lega ketika Sagara sudah menatap Mutiara lagi. Namun, dia tidak menyambut uluran tangan Mutiara dan membiarkan tangan mulus gadis itu mengambang di udara. Fara bisa membayangkan betapa kecut wajah Mutiara saat itu. Sayang, dia berada di belakang Mutiara berdiri. “Sebaiknya kamu pulang,” ujar Sagara datar terhadap Mutiara. “Tapi, Sagara. Kamu belum menerima—“ “Pulang!” tegas Sagara, membuat Fara yang berdiri agak jauh dari mereka saja sempat berjengit kaget dengan kemarahan lelaki itu. Sagara melewati gadis yang beraut kecewa itu, dan melewati Fara yang masih berdiri di depan. Sementara, Lee mengusir Mutiara dari tempatnya berpijak. “Masuk,” titah Sagara terdengar jelas di telinga Fara. Sumpah, Fara ketakutan saat itu. Ini lebih dari horror. Kakinya bagai kesetrum untuk ikut masuk mengikuti Sagara ke dalam rumah. “Duduk!” Beberapa titah yang diikuti dengan mudah oleh Fara. Dia duduk di atas sofa yang dia duduki sebelum gadis bernama Mutiara itu datang. “Kenapa kamu biarkan gadis seperti itu masuk ke dalam rumah, Fara! Aku nggak suka!” tegas Sagara. Fara merasakan tegang di tubuhnya, bahkan bayangan wajah konyol Mutiara tadi tidak bisa membangunkan jiwa komedinya lagi. Dia berusaha mengangkat kepalanya, menatap Sagara dengan takut-takut. “Emm, tadi saya nggak nyuruh dia masuk, tapi dia masuk sendiri, Tuan. Saya kan, tadi bukain pintu gerbang buat—“ “Kamu bisa menahannya di luar dan menolak kedatangannya. Jangan bilang kamu menungguku biar lepas dari masalah gadis itu,” tuduh Sagara dan memang benar adanya. “Nggak, nggak gitu, Tuan.” “Pokoknya, aku nggak mau lagi lihat gadis itu masuk ke rumah ini, oke? Sebagai hukuman atas keteledoran kamu, kamu harus—“ Kembali, Sagara merasa tidak tega memberikan hukuman yang berlebihan meski perasaannya sangat kesal pada Fara. “Harus apa, Tuan?” “Hapalin Pancasila dan butir-butirnya. Besok pagi kamu harus sudah hapal.” Kedua mata Fara terbelalak mendengar hukumannya. Dia rasa, sudah bebas jadi anak sekolahan, tapi nyatanya tidak sekarang. Pria yang tidak pernah menjadi gurunya, malah membuat pusing dengan hukuman yang berhubungan dengan pelajaran kewarganegaraan. “Tuan, hukuman itu tidak aku pelajari di sekolah dulu—“ “Sekarang banyak kan, internet juga pasti bakal nyediain semua yang kamu butuhkan. Carilah!” Fara mendesah berat. “Orang ini manusia lahir tahun berapa, kenapa masih menghukumku seperti itu?” gumamnya, dengan tubuh lemas. Fara berbalik, tapi teringat akan gaji mingguan. Akhirnya, dia kembali berbalik dan mendapati Sagara telah mengulurkan beberapa lembar uang merah. Fara semringah melihatnya. “Ini gaji mingguan kamu. Saya nggak pernah yang namanya menunda pembayaran kecuali memang ditolak oleh penerima gaji.” “Ah, mana ada yang menolak gaji? Makasih, Tuan Sagara.” Fara menerima lembaran uang dengan jumlah sepuluh lembar itu. Tidak banyak buatnya, tapi bisa dia gunakan untuk berbagai keperluannya sendiri. Semenjak melarikan diri dari rumah, Fara belajar menghargai uang. Dia mensyukuri berapapun uang yang diterima dari suaminya. Sekarang, bekerja pun, dia bersyukur dengan uang itu. “Masih awal karena pekerjaan kamu juga belum sempurna. Lagi, udah dipotong karena kesalahan kamu kemarin itu,” ujar Sagara. “Nggak apa-apa, Tuan.” Sagara heran sekali dengan wajah syukur Fara menerima uang yang tidak seberapa. Tadinya dia pikir, Fara akan bersungut-sungut karena uang yang diterima pasti jauh dari uang sakunya dulu. Namun, bayangan Sagara keliru karena ternyata Fara sebahagia itu menerima penghasilan. “Saya pulang dulu, Tuan.” “Eh, tunggu. Biar Lee yang mengantarmu sekalian dia pulang bawa mobilnya.” Fara meringis, tapi mengangguk juga mengingat waktu sudah cukup malam untuk pulang. Dia pun mengikuti Lee, pria kulkas yang berjalan di depannya membukakan pintu untuknya seperti seorang ratu. “Aku ini pembantu, Tuan Lee. Aku bisa buka pintu mobil sendiri.” Fara berdecak pada Lee yang memperlakukannya sedikit istimewa itu. Dia duduk di belakang, dan Lee sudah duduk di belakang kemudi. Mobil melaju bersamaan dengan bunyi klakson mobil Lee yang meninggalkan rumah Sagara. “Tuan Lee, apa Tuan Sagara itu baik?” tanya Fara saat perjalanan. “Hm,” sahut Lee. “Maksud Anda? Dia baik? Kenapa dia kasih aku hukuman menghapal butir-butir Pancasila?” berondong Fara, agak maju dari duduknya agar pria itu mendengarnya. “Ya.” Fara mengernyitkan dahi mendengar sahutan pria itu. “Apa pria ini hanya bisa bilang ‘hem’ dan ‘ya’? Astaga,” gerutu Fara bergumam, menepuk dahinya. Akhirnya, Fara menyandarkan punggung ke sandaran jok mobil dan membuka ponselnya, mencari hukuman yang diberikan oleh Sagara. Dahi Lee berkerut melihat kesungguhan Fara menghapal hukumannya malam itu juga. Padahal dia pun tahu bahwa tuannya akan cepat lupa dengan apa yang dikatakannya tadi. Biarlah. *** Mobil telah sampai di ujung gang rumah Bayu. Fara bergegas turun dan membungkuk memberi hormat pada Lee, lalu berjalan menuju ke rumahnya. Dia telah menghapal setidaknya lima baris dari sila pertama. “Ah, capek sekali,” keluhnya sampai di depan rumah. Namun, sambutan Bayu tidaklah membuatnya enakan. Malah menambah rasa letih Fara. “Pulang malam, kayak kupu-kupu malam aja.” Fara melotot mendengar ucapan Bayu yang sedang duduk di depan televisi. “Apa, Mas?” desak Fara, mendekat ke arah Bayu yang duduk santai, tapi dadanya bergemuruh geram melihat Fara yang datang seterlambat itu. “Kamu udah budeg, Fara? Kamu itu pulang jam berapa? Apa kerjaan kamu memang jual diri sampai pulang nggak tau waktu?” Bayu berdiri dengan kedua tangan di pinggang. Sudah letih tadi dia pulang dari kantor hotel, tapi tidak menemukan Fara yang biasanya menyediakan kopi untuknya. “Mas, kalo tadi nggak nunggu gaji, aku pulangnya bisa awal!” sungut Fara. “Lagian, aku kerja bukan jadi wanita rendahan macam yang kamu sebut itu, Mas! Aku ini kerjanya halal!” bela Fara pada dirinya sendiri. Tega benar pria itu menuduhnya sembarangan. “Jadi, kalo gitu kenapa kamu nggak bilang sama aku apa pekerjaan kamu?” desak Bayu. “Mas, aku nggak yakin kamu bakal nerima rendahnya kerjaan yang kujalani, tapi demi tambahan uang, aku mau jalani, Mas. Biar nggak direndahin kakak-kakakmu lagi. Udah, aku capek!” Fara masih harus bungkam dengan suaminya. Dia mendengar Bayu mengumpat, tapi tak digubrisnya. Fara masuk ke dalam kamar dan menangis jengkel. Bayu yang kesal, pergi ke rumah ibunya. Dia lapar sekali, tapi Fara tidak menyiapkan masakan. Sundari menyambut anaknya dengan senyum. Tidak juga dia tanya anak lelakinya, kenapa datang tak membersamai sang menantu. “Ma, masak apa?” tanya Bayu, membuka tudung saji. Ada berbagai masakan di dalamnya dan tentunya enak-enak. Berbeda dengan keadaan di rumah. “Makan aja, tadi mama sama papa udah makan. Oh iya, apa papa kamu udah bilang kalo akan memberikan sebagian proyek padamu, Nak?” tanya Sundari, tumben sekali baik terhadap Bayu, mengambilkan piring dan mengisinya dengan nasi untuk anaknya itu. “Iya, tapi papa bilang ada syaratnya.” “Benar.” Sundari dan Bayu menoleh. Pria yang dibicarakan sudah berdiri di ambang pintu ruang makan. Dia pun kembali duduk di ruangan itu, menemani sang anak makan. “Papa memang ingin kamu mendapatkan proyek baru, tapi ada syaratnya. Syaratnya, kamu harus dekat dengan Berlian. Dia itu manager, tapi anak dari pemilik perusahaan pariwisata yang sangat besar di beberapa kota.” Bayu tersedak mendengarnya. Sundari buru-buru menyodorkan segelas air putih padanya. “Dekat? Maksud Papa?” tanya Bayu. “Ya, dekat dalam arti menjadi kekasih,” jelas Eka, dengan seringai di wajahnya. “Pa, tapi aku punya—“ “Papa nggak maksa, tapi kalo kamu mau mendapatkan sebagian proyek perusahaan kita, ya itu syaratnya. Terserah kamu aja sih, mau apa nggaknya.” Dengan enteng, Eka melirik pada istrinya yang juga tersenyum dan menatap pada Bayu dengan penuh pengharapan. Bayu mendesah, mengunyah nasinya dengan hambar. Dalam hatinya menolak syarat itu, tapi jika dia menolak, dia akan selamanya menjadi karyawan rendah dengan gaji minim di hotel milik ayahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN