Cantik

1213 Kata
Masih dengan menu yang sama, Bayu menatap jengkel roti dan selainya di atas meja pagi itu. Dengan memejamkan kedua mata, dia memanggil istrinya dengan kesal. “Fara! Nggak bisakah kalo kamu kasih aku sarapan yang lebih baik dari hari-hari ini?” “Aku nggak sempat beli sayur, Mas!” sahut Fara dari dalam kamar mandi. Bayu memutar kedua bola matanya. Dia jadi tambah kesal dengan Fara. Bayu duduk di kursi makan menunggu istrinya siap berangkat kerja. “Udah mulai macam-macam aja, dia.” Fara keluar dari kamar mandi seraya menggosok rambut basahnya dengan handuk. Dia melewati Bayu dengan terburu-buru. Namun, tangan Bayu mencekalnya hingga langkah Fara terhenti. “Apa, Mas? Aku keburu ini,” sungut Fara, merasakan sakit di pergelangan tangan karena ulah Bayu. “Fara, apapun kerjaan kamu, kamu nggak boleh mengabaikan suami kamu,” tegas Bayu, berdiri menatap Fara dengan tatapan mata yang tajam. Fara mendengkus perlahan. Bagaimana tidak kesal? Semalam saja Bayu tiba-tiba pergi keluar rumah membawa kejengkelan dan membiarkan dirinya juga lapar dengan rasa kesal. “Aku Cuma niruin kamu, Mas. Kamu juga mengabaikan aku. Kamu pikir, memberikan sebagian gajimu pada keluargamu itu bukan mengabaikanku? Bahkan, aku tidak diberitahu sebelumnya.” “Jadi, kamu nggak terima kalo aku kasih sebagian gajiku pada keluargaku? Bukankah uang itu juga dari hotel keluargaku? Fara, kalo kamu mau ngatur keuangan, atur aja uang kamu sendiri! Masih untung aku bisa kerja di hotel papaku. Kalo kamu mau gajiku sepenuhnya, berubahlah jadi anak tunggal seorang pengusaha kakap dan beri aku pekerjaan sebagai seorang CEO! Baru kamu bisa menikmati semua gajiku,” ujar Bayu, yang tidak disangka-sangka oleh Fara. Kedua matanya menatap mata sang suami dan menemukan pria itu sungguh-sungguh dengan ucapannya. Dia yakin, pria itu belum tahu siapa dirinya, tapi mengucapkan kata-kata yang sungguh menyakitkan andai saja benar Fara adalah seorang anak panti asuhan. “Kamu sadar, Mas? Ngomong gitu?” tanya Fara, berkaca-kaca. “Ya emang gitu kenyataannya, kamu bukan siapa-siapa, Fara. Orang tua kamu juga aku nggak ngerti tinggal di mana. Semiskin apa orang tua kamu sampai nitipin anaknya ke panti asuhan? Petani? Pedagang kecil? Aku yakin kamu nggak mau ajak aku menemui ayahmu karena keadaan ekonomi mereka, kan? Masih untung kamu cantik, Fara.” “Astaga,” sahut Fara mengelus dadanya sendiri. Kenapa kata-kata pria itu sungguh menyakitkan? “Harusnya kamu bersyukur karena aku bisa mengangkat derajatmu, tapi kamu malah meremehkan aku,” imbuh Bayu, melepaskan cekalannya. Mendadak, Fara lemas dan hanya bisa menatap kepergian suaminya yang tampak begitu marah, menutup pintu dengan sangat kencang. “Perkara makan pagi, dia bisa semarah itu.” Sakit sekali hati Fara. Dia bekerja untuk menambah uang belanja. Hanya saja karena semalam belum sempat mampir warung makan karena pulang larut, suaminya marah sekali sampai pagi. “Apa dia nggak bisa beli makan di kantin dulu?” Fara menatap kedua tangannya. Menyesali kenapa dia tidak bisa memasak. Sekalinya memasak, Bayu membuatnya trauma dengan tidak menyentuh masakannya sama sekali kapan hari itu. Malah mengatakan pada Fara jika lebih baik dia membeli saja dari restoran yang menyediakan masakan jauh lebih lezat dari masakannya. Dua bulir air menetes dari kedua mata Fara, langsung dia hapus ketika ingat bahwa dia harus bergegas pergi. *** Sagara menatap Lee yang seolah tergesa ingin mengatakan sesuatu. Dia mengangkat kedua alisnya menunggu dan benar saja, sang asisten mulai membuka suara. “Tuan, gadis itu ke kantor.” Sagara mengerutkan dahinya mendengar ucapan Lee. Dia menoleh ke arah Lee, meminta penjelasan lagi. “Gadis yang bernama Mutiara, dia menunggu Anda di kantor.” “What? Kalian nggak bisa usir dia?” tanya Sagara. “Dia bilang, dia akan menghubungi Nyonya Sahara jika tidak diperkenankan masuk. Jadi, resepsionis menyuruhnya duduk di lobby.” Sagara menghela napas, melirik ke jarum jam yang berdetak begitu cepat, sampai perempuan yang ditunggu pun belum datang ke rumah. Padahal, dia sudah bersiap untuk berangkat. “Ah, kenapa perempuan aneh itu belum datang juga?” gerutu Sagara, berdecak mondar-mandir di depan pintu utama. Sesekali dia menatap ke arah gerbang, tapi nyatanya yang ditunggu belum juga kelihatan batang hidungnya. Perempuan aneh, tapi ditunggu juga. Lee menghela napas heran dengan tuannya itu. Dia juga ikut menunggu, menangkap kegelisahan Sagara. “Mmm, gini aja, Lee. Aku akan ke kantor sekarang. Nanti kalo Fara datang ....” Sagara memberikan beberapa perintah pada Lee. “Baik, Tuan.” Sagara kemudian pergi menggunakan mobilnya, lalu meninggalkan asistennya itu menunggu Fara di rumahnya. Lima belas menit setelah mobil Sagara keluar, barulah Fara turun dari taksi dengan tergopoh-gopoh membuka gerbang rumah Sagara. Lee bisa mendengar derap langkah kaki Fara yang tergesa berlari masuk ke dalam rumah. “Eh, Tuan Lee. Maaf, maaf! Saya terlambat sekali, tadi ada masalah—“ Fara menghela napas, mendesah berat jika ingat kejadian tadi. Beberapa hari ini dia sering sekali bertengkar dengan Bayu. “Anda nggak perlu tau. Oh, iya, tuan Sagara sudah berangkat?” tanya Fara, menyapu seluruh ruangan dengan kedua matanya. “Sudah.” Fara menepuk jidat, baru ingat kalau asisten itu irit bicara. “Oke, aku akan langsung membersihkan rumah saja. Mm, Tuan Lee kenapa masih di sini, ya?” tanya Fara. “Begini, Nona Fara. Tadi Tuan Sagara minta agar saya membawa Anda ke butik dan ke salon. Beliau meminta Anda untuk datang ke kantornya. Mungkin ada beberapa pekerjaan yang harus dilakukan dan itu ada bonusnya.” Fara sampai melongo mendengar Lee berbicara. Pria kulkas itu sekalinya bicara banyak sekali. Dia sampai harus sangat berkonsentrasi agar bisa menangkap maksud Lee. “Butik? Salon? Buat apa?” tanya Fara. “Untuk ke perusahaan Tuan Sagara, harus berpenampilan menarik. Saya akan membawa Anda ke butik dan salon keluarga.” “Tapi aku—“ “Ini perintah,” potong Lee. Fara memutar bola matanya ketika Lee sudah bergerak cepat ke arah mobil di depan. “Ini sebenernya yang juragan siapa sih? Sagara atau Lee? Grrr!” Fara sampai lupa dengan masalahnya karena Lee sangat mendesak agar dia menuruti perintah Sagara yang aneh menurutnya itu. Suara klakson mobil membuat Fara buru-buru keluar dan mau tidak mau menuruti perintah Lee. “Pakai sabuk pengaman Anda, Nona.” Fara mengangguk, bagai kerbau dicocok hidungnya menghadapi Lee. Dia memasang sabuk pengaman, lalu mobil melaju dengan kecepatan cukup tinggi. *** Semua karyawan butik maupun salon sudah bersiap bahkan sebelum Fara tiba di sana. Mereka menyambut dengan sigap kedatangan Fara dan Lee. Segera, mereka memilihkan beberapa setel baju dan mendandani Fara dengan riasan yang natural karena wajah Fara sudah cantik dari dasarnya. Dress atasan dan bawahan berwarna putih tulang membalut tubuh Fara. Rambutnya digulung estetik, memberikan kesan istimewa pada Fara yang semenjak jadi istri Bayu tidak pernah menginjakkan diri ke butik ataupun salon. “Cantik sekali,” puji para karyawan yang berdiri di depan ketika Fara sudah mulai berjalan dengan high heels ke mobil yang akan dikendarai oleh Lee. “Terima kasih,” ucap Fara. Dia menatap dirinya di cermin tadi. Ya, itu adalah jati dirinya yang sebenarnya, berkelas. Setiap orang yang menatapnya pasti mengira dia adalah seorang anak orang kaya dan itulah kenyataannya. Mobil kembali melaju ke sebuah gedung bertingkat menjulang dengan simbol SN, yaitu PT Supernova, perusahaan bidang migas terbesar di negara itu. “Jadi, Tuan Sagara itu kerja di sini?” tanya Fara, polos, tidak tahu sejak pertama dia bertemu Sagara. “Iya,” sahut Lee kembali ke mode senyap. “Hmmm,” sahut Fara mengangguk-angguk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN