Bayu tidak bisa berhenti memikirkan kekesalannya pada Fara sampai dia bawa emosi ke pekerjaannya. Semua orang yang ditemui mendapatkan sikap buruk darinya.
“Kalo dia bukan anak pemilik hotel ini, udah aku hajar,” gerutu karyawan lain yang mendapatkan perlakuan tidak baik dari Bayu.
Mereka tidak lagi memperdulikan Bayu yang dengar-dengar akan dipromosikan menjadi manager baru karena suksesnya proyek pertama dari sang ayah. Sebagian besar karyawan tidak kagum akan hal itu karena bukan suatu pencapaian dari nol, melainkan instan karena Bayu adalah anak pemilik hotel itu sendiri. Jika dia bukan anak pemilik hotel, dia tidak akan memiliki wewenang itu.
Dalam kesendiriannya, Bayu tambah kesal karena makin banyak orang tidak respect padanya. Dia pun memutuskan untuk masuk ke ruang manager lama, di mana posisi itu memang seminggu ini masih kosong dan sementara digantikan oleh ayahnya sendiri yang juga sibuk. Kedua mata Bayu menyapu seluruh ruangan yang kosong.
“Andai aku bisa duduk di kursi itu, para karyawan akan tunduk dan hormat. Namun, kenapa syaratnya begitu berat?” gumamnya, melipat kedua tangan di depan d**a.
Dia berjalan ke tempat duduk manager dan menghidupkan komputer. Melihat rencana resort wisata yang akan dibangun oleh perusahaan milik Berlian.
“Benar-benar luas dan rencana yang begitu matang.”
Dalam hati, Bayu memuji kepandaian Berlian karena konon katanya Berlian sendiri yang terjun dalam proyek pembangunan tempat wisata itu. Bayu mulai mengutak-atik rencana pembangunan penginapannya sendiri. Dia pun berpikir tema yang akan dia buat untuk itu.
“Aku nggak akan mempermalukan Berlian. Sesuai dengan resort yang sedang dia buat, hotelnya akan memberi fasilitas yang sangat memuaskan.”
Bayu bersemangat browsing untuk mencari sumber-sumber yang bisa dia ajak bekerja sama dalam pembangunan hotelnya. Mulai dari arsitek sampai bahan baku yang cukup mahal. Semua dia pertaruhkan. Terlebih untuk nama baiknya di hadapan Berlian.
Ponselnya berdering ketika asyik mengumpulkan sumber yang bisa dia pertimbangkan. Bayu meraih benda pipih itu dari atas meja kerja. Mengetahui siapa yang menghubunginya, Bayu berdeham kecil, menghilangkan suara parau yang akan muncul.
“Halo, Berlian.”
“Mas Bayu, aku baru pusing mikirin proyek ini. Bisa nggak kalo kita ketemuan di cafe buat bicarain ini? Aku traktir,” ajak Berlian.
Menyenangkan.
Begitulah kesan Bayu terhadap Berlian yang seringkali mengajaknya tanpa berpikir tentang biaya dan sebagainya.
“Oh, kebetulan ini aku juga belum sarapan tadi. Ayo aja,” sambut Bayu.
Tentu saja dia tidak mengindahka kata-kata Berlian yang akan mentraktirnya. Demi gengsi, dia tidak mungkin menerima tawaran itu. Usai membicarakan lokasi cafe yang mereka sepakati, Bayu bersiap meraih kunci mobilnya, meninggalkan ruangan manager utama.
Semua karyawan berdecak, iri sekali pada Bayu yang bisa seenaknya keluar tanpa ijin walau anak pemilik hotel, tapi posisi mereka sama.
“Kerja seenak udelnya sendiri,” gerutu para karyawan dan housekeeper melihat kepergian Bayu.
“Eh, dia itu dapet proyek dari bokapnya, tau? Nggak usah pada ngiri, dia itu anak siapa dan nggak usah protes adanya nepotisme. Itu hak pemilik hotel ini. Udah, kerja, kerja!” usir salah satu karyawan agar semua tidak berkumpul membicarakan hal yang tidak perlu karena pengunjung hotel saat itu sedang cukup banyak.
“Huh, coba aja kalo nggak nepotisme, dia nggak bakal kerja bahkan kayak aku yang rajin gini,” gerutu para karyawan yang bubar untuk mengerjakan pekerjaan masing-masing.
***
Sementara itu di PT Supernova, Fara sudah mulai memasuki lift bersama dengan Lee untuk menuju ke lobby. Sebagian besar karyawan membungkuk pada mereka, mengira Fara adalah tamu khusus Sagara. Para wanita pun menatap iri pada penampilan Fara saat itu.
“Sebenarnya aku ke sini suruh ngapain, Tuan Lee?” tanya Fara yang masih bingung belum mengerti kenapa dia didandani dan diajak oleh Lee ke lobby ruang manager.
“Nanti, Tuan Sagara yang akan menjelaskan.”
Fara memijat keningnya. Berbicara dengan Lee, sudah seperti kuis, tebak-tebakan. Dia tidak paham, tapi sebagai seorang asisten rumah tangga, dia harus menuruti apa perintah tuannya.
Akhirnya mereka sampai di lantai lobby. Fara tergesa mengimbangi langkah kaki Lee yang memiliki kaki panjang menuju ke ruangan yang sungguh cozy.
“Sagara, aku Cuma kepengen kenal sama kamu. Lihat, aku rela menyempatkan diri mengunjungi kantormu, padahal aku harus mengikuti bimbingan skripsi satu jam lagi.”
Gadis berwajah kesal itu melirik ke jam tangan yang melingkari pergelangan tangan putihnya. Namun, walau hanya menyetujui berteman dengan Mutiara, rasanya kepala Sagara begitu berat untuk mengangguk.
“Kenapa kamu malah mengabaikan bimbingan skripsi yang justru lebih penting dari pada berbasa-basi di sini dan menggangguku?” tanya Sagara, tak menatap ke arah Mutiara yang menatapnya dengan pandangan kagum.
“Kamu lebih penting dari apapun, Sagara. Aku suka pria yang tidak pernah berpacaran. Usia kita terpaut tiga tahun, jadi kurasa co—“
“Aku punya kekasih,” potong Sagara, membuat wajah Mutiara pias dan bergurat kecewa mendengarnya.
“Bohong. Setelah rumor tentang pembatalan perjodohan, apa sesingkat itu kamu bisa memiliki kekasih? Seorang pria dingin biasanya tidak akan memikirkan memiliki pasangan dalam waktu singkat usai patah hati.”
“Teori dari mana itu?” sungut Sagara.
“Aku lihat dari sikap kamu,” sahut Mutiara. Sungguh, matanya menyiratkan bahwa dia tidak ingin kehilangan lelaki dambaannya itu.
Suara langkah kaki mendekat, membuat Mutiara mendengkus karena mengganggu waktu berharganya saat berhasil duduk bersama dengan Sagara.
“Selamat siang, Tuan Sagara. Nona Fara sudah datang.”
Tampak penasaran wajah Mutiara melihat Fara, dia meneliti dari atas ke bawah penampilan Fara. Begitu juga dengan Sagara yang terpukau oleh penampilan Fara saat itu.
“Oh, ehm, Sayang ayo kemarilah. Ada yang ingin berkenalan denganmu,” ujar Sagara, membuat dua bola mata Fara membulat sempurna mendengarnya.
Kedipan mata Sagara yang sudah berdiri menyambutnya, membuat Fara bergegas menyadarkan diri untuk mengerti situasi yang ada. Dia meringis, menatap Sagara dan Mutiara bergantian. Dia menarik napas, berpikir jadi itu yang menyebabkan dia dibawa ke tempat Sagara bekerja.
Fara melangkah perlahan mendekati Sagara, sedangkan Lee pamit undur diri. Ketika sudah dekat, Fara agak berjengit kaget merasakan tangan Sagara berada di pinggangnya. Kaku sekali, tapi Fara berusaha untuk tampak natural di hadapan Mutiara yang tercengang melihat mereka berdua.
“Ini settingan,” geram Mutiara.
“Mana ada?” tukas Sagara, makin mengeratkan lingkar tangannya sampai badan Fara menempel padanya.
“Eh, iya, Mbak. Kami udah berpacaran selama—“ Fara berhenti sejenak, berpikir lalu memutuskan untuk menyebut angka yang terlintas di benak.
“Tiga bulan!”
“Enam bulan!”
Mereka saling berpandangan aneh dengan kedua mata Sagara yang kesal karena Fara tidak kompak sekali dengan dirinya karena bebarengan menyebut jumlah bulan yang berbeda.
Mutiara heran sekali dengan keduanya. Menganggap hal itu sangat konyol ketika mendatangi Sagara dan pria itu malah mengundang seorang perempuan untuk datang mengaku sebagai kekasihnya.
“Bohong,” sungut Mutiara.
Dia tidak melihat kemesraan antara pasangan itu. Lalu terbersit ide yang cukup bagus untuk membongkar kebohongan Sagara.
“Mmmm, tiba-tiba aku ingin ke toilet.”
“Sebelah sana,” tunjuk Sagara ke samping.
“Kamu bisa menggunakannya dengan leluasa karena office boy kami selalu melakukan pembersihan dengan maksimal.”
Mutiara baru mendengar keramahan Sagara saat ini. Dia meringis, berdiri dan bergegas melangkah ke toilet. Namun, Sagara menebak pergerakan gadis itu. Dia bukan ke toilet, melainkan bersembunyi di balik pintu untuk mengintip apakah benar omongannya tentang Fara.
“Tuan Sagara, Anda—“
“Pssst.”
Sagara meletakkan telunjuknya di bibirnya sendiri, lalu memegang dua bahu Fara dan menghadapkan perempuan itu padanya. Kedua mata bening Fara menatap Sagara tidak mengerti, tapi melihat dua mata Sagara yang seolah memohon padanya, dia pun diam dan menunggu apa yang akan dikatakan oleh Sagara.
Sagara menatap dua mata Fara bergantian sambil masih memegang dua bahu perempuan itu. Meneguk salivanya, sementara dia tahu ujung sepatu Mutiara sudah tampak di balik pintu. Sagara menarik napas, lalu menghembuskannya cepat dan tersenyum dengan sealami mungkin. Kedua matanya kembali menatap lekat pada Fara.
“Cium aku.”