“Nggak bisa,” sahut Fara dengan bergetar.
Dalam waktu singkat, Sagara meminta hal yang sangat tabu, membuat otaknya serasa kacau.
“Nggak mungkin. Bukankah kamu udah nikah?” Sungut Sagara seraya melirik ke pintu. Gadis yang dia hindari masih saja bertahan di sana.
“Ng—“
Sagara menekan tubuh Fara ke tubuhnya, meraih leher perempuan itu agar bisa melekatkan bibirnya. Pria itu sedikit memiringkan kepala dan berhasil mencium bibir Fara yang terasa sangat lembut.
Ini adalah ciuman pertama bagi Sagara.
Saat itu pula debar jantung Fara sudah tidak bisa terkendali. Semula, tangannya sudah berada di d**a Sagara, hendak mendorong lelaki itu, tapi merasakan bibir yang lembut dan berbeda dari suaminya, Fara malah memejamkan mata. Tangannya melemah, tidak jadi mendorong lelaki itu.
Sagara masih melihat Mutiara di balik pintu. Pria itu nekat membuka bibir Fara dengan lidahnya, lalu melumat bibir itu dengan lembut dan semakin dalam. Herannya, Fara malah menikmati ciuman itu. Tanpa sadar, dia membalas ciuman Sagara, tangannya berpindah dari d**a, ke lengan yang kokoh dan mencengkeramnya.
“Sial, mereka benar-benar sepasang kekasih,” gerutu Mutiara merasakan sakit di dadanya, lalu memilih pergi dari tempat persembunyian. Tidak tahan melihat pemandangan yang menyakitkan itu. Sampai Mutiara pergi, Sagara dan Fara masih menikmati ciuman itu.
Mereka berciuman selama satu menit lamanya. Lama sekali! Sampai Sagara tidak lagi melihat bayangan Mutiara di balik pintu. Sagara melepaskan tubuh Fara begitu saja sampai perempuan itu terhempas ke sofa.
“Ah!” seru Fara, kaget menatap ke Sagara dengan pandangan kesal.
“Tugasmu selesai. Kamu boleh pulang setelah perempuan tadi pergi,” ujar Sagara mengusap bibirnya yang basah dengan ibu jari, lalu membenahi jasnya yang tidak rapi karena ulah Fara, sambil berjalan ke jendela dan menatap keluar.
Fara mendengkus dongkol. Apa semua pria seperti ini? Setelah dapat, membiarkannya terjatuh? Untung di sofa yang empuk, bukan di lantai. Dia berjanji akan menuntut pria itu jika terjadi.
“Baik, saya pergi.”
Sagara menatap kepergian Fara. Salah tingkah sekali, meraba dadanya. Ada debar terasa di dalam setelah ciuman itu.
“Sial, jangan sampai aku suka dengan ciumannya.”
Sagara menggelengkan kepala, lalu duduk di kursi kerja dan menatap layar komputer, tapi apa yang terjadi? Bayang wajah Fara malah menari-nari di benaknya. Dia sampai memejamkan mata dengan rasa yang masih tertinggal di bibirnya.
“Tuan?”
Nyaris Sagara melompat dari kursi ketika Lee memanggilnya.
“Ah, kamu ini! Ngagetin aja!” sungut Sagara.
“Maaf, Tuan, tapi tadi Nona Mutiara sudah pergi dan Nona Fara juga sudah pulang menggunakan taksi—“
“Kenapa nggak kamu—“
Sagara menghentikan ucapannya saat menyadari dia menunjukkan perhatian pada Fara. Dia berdeham lalu menanyakan agenda hari itu pada Lee.
***
Fara meraba dadanya yang masih saja berdebar sambil menyentuh bibirnya.
“Astaga,” ucapnya, memijat kening. Rasanya masih saja lekat di bibir.
Fara mengeluarkan kaca kecil lalu menatap bibirnya yang agak sakit karena Sagara sempat menggigitnya tadi.
“Dia membuat bibirku sakit,” gerutu Fara, melihat benjol lembut di dalam bibir.
Fara mendesah dongkol, memasukkan cermina kecil itu ke dalam tas. Lalu menikmati perjalanan, tapi pikirannya masih saja ke kejadian di lobby tadi. Namun, di tengah perjalanan Fara harus tersentak melihat mobil suaminya berada di sebuah cafe. Dia pun meminta sopir untuk menurunkannya di depan cafe itu.
“Makasih, Pak.”
Fara keluar dari taksi, lalu berjalan memasuki cafe. Dia memakai kacamata hitam dan maskernya agar bisa memata-matai sang suami yang katanya sibuk di hotel, tetapi kenapa malah tertangkap sedang duduk di pojok bersama seorang gadis yang cantik.
Fara duduk di pojok lain, sejajar dengan kedua insan yang sedang bercengkrama asyik itu. Sakit sekali hatinya melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh sang suami. Bayu tampak memegang tangan si wanita, lalu mencium punggung tangannya.
“Tega banget sih dia,” omel Fara, tapi Fara masih ingin melihat sejauh apa hubungan keduanya. Fara melihat Bayu dengan gagah membayar pesanan.
“Nafkahi istrinya aja separoh gaji, sekarang dia gampang banget bayarin perempuan lain di cafe,” gumam Fara di balik lembaran menu yang menutupi wajahnya.
Keduanya bergerak setelah Fara memesan kopi, sampai membuatnya membayar kopi yang belum dia sentuh sama sekali demi mengejar ke mana perginya kedua orang itu. Fara bergegas menyetop taksi, lalu menyuruh sopir membuntuti mobil suaminya.
Tercengang.
Fara menemukan keduanya berbelok ke sebuah hotel yang bukan milik keluarga Handoyo. Dia pun segera membayar taksi, lalu turun dan membuntuti sampai di depan resepsionis.
Dadanya bergemuruh melihat Bayu merangkul perempuan itu masuk ke dalam lift. Dia pun bergerak ke tangga manual dan berupaya mengintip ke mana mereka masuk.
Fara mengelus d**a melihat Bayu membuka sebuah kamar bersama wanita tadi.
“b******n,” gumam Fara, dengan kedua mata memerah.
Dia merasa pengorbanannya selama ini tidak ada artinya. Selama ini bertahan bersama dengan pria itu sia-sia saja, bahkan rahasia yang disimpan menjadi tanda tanya besar bagi Fara dengan masuknya Bayu bersama seorang wanita ke dalam kamar. Mau apa lagi selain berhubungan kotor?
Fara geram, melangkah ke pintu kamar yang ditempati oleh Bayu. Dia pun menggedor pintu itu dengan rasa kesal yang sudah beranak pinak mengingat segala sikap keluarga Bayu padanya dan dia rela dipotong nafkah lahir yang menjadi hak.
“Keluar, Mas!” teriaknya.
Bayu yang berada di dalam, baru mulai mencium leher Berlian kaget bukan kepalang dengan gedoran pintu seperti orang marah di depan. Dia pun harus meredam keinginannya, lalu bergerak membuka pintu.
“F-Fara?”
Terkejutlah dia melihat wanita berpenampilan lain yang ternyata wajah istrinya di depan pintu hotel.
“Mas, selama ini kamu bohongi aku, ya! Kamu b******k, Mas! b******n tengik, kamu! Aku muak sama kamu! Selama ini, dua bulan lamanya aku nemeni kamu, nggak cukup nafkah—“
Bayu bergegas menutup mulut Fara dan menariknya ke balik tembok agar tidak terlihat orang-orang atau Berlian. Dia meletakkan telunjuknya di bibir Fara sambil menatapnya tajam.
“Kamu jangan berteriak-teriak. Aku melakukan ini biar aku bisa mendapatkan posisi sebagai manager. Untuk siapa? Ya untuk kamu, Fara. Demi kamu, aku rela seperti ini.”
“Tapi, nggak harus seperti itu juga, Mas kalo mau posisi manager! Kamu bahkan malah udah kayak gigolo!” jerit Fara, dibalas tamparan oleh Bayu.
Fara merasakan panas di pipinya, menatap Bayu dengan tidak percaya pria itu bisa menyakiti dirinya. Namun, sepertinya Bayu tidak perduli.
“Nggak perlu kamu bilang seperti itu. Kupu-kupu malam saja, memenuhi kebutuhan keluarganya dengan tubuh. Terus, kalo kamu bilang aku gigolo, kamu sendiri kerja apa? Dari mana kamu bisa berdandan seperti itu? Dengan apa kamu membeli baju bermerk yang kamu pakai itu, hah?”
Fara masih mengelus pipinya yang memerah. Meski Bayu agak heran dengan penampilannya yang menarik, tapi nyatanya dia masih menuduh Fara sembarangan dan tetap akan mewujudkan niatnya.
“Dia itu, anak pemilik pengusaha resort terbesar keenam di negara ini. Jadi, kamu nggak usah berpikiran negatif, lagian, kamu nggak pernah bisa memuaskan aku, kan?”
Fara terkejut sekali mendengar suaminya tega mengatakan itu. Dia merasa sangat nyeri di d**a mendengar ucapan tajam sang suami, seperti tersayat sembilu. Dia pun terisak, menatap suaminya pergi meninggalkannya lagi memasuki kamar tadi. Dengan lemas, dia melangkah pergi dan keluar bersama pikiran yang kacau balau.
Fara menyetop taksi lagi dan meminta sopir untuk membawanya pergi tak tahu arah tujuannya.