Wanita Selalu Benar

1076 Kata
“Maaf, Berlian. Aku sebenarnya ajak kamu ke sini cuma untuk lihat-lihat interior kamar hotel lain, tapi kenapa tangan ini khilaf,” sesal Bayu usai masuk kembali ke dalam kamar hotel. Berlian mendesah. Dia sendiri tidak habis pikir kenapa bagai tersengat listrik menuruti ajakan Bayu yang tadinya mencium punggung tangan, tapi malah ciuman itu sampai ke lehernya. Untung saja ada seseorang di depan pintu yang entah siapa, membuat mereka menghentikan semua itu. “Ya udah, sekarang kita lanjut aja pekerjaan kita, Mas. Anggap aja yang tadi itu tidak terjadi,” sahut Berlian, kikuk. Mengelus lehernya yang masih meremang karena sentuhan Bayu. “Iya, ayo.” Semula, memang niat mereka tidak melakukan aneh-aneh, tapi memang benar adanya jika ada dua orang berlainan jenis, maka setanlah yang ada di tengahnya. Di samping itu, Bayu makin membulatkan tekad untuk mendekati Berlian. Laksana kucing disuguhi ikan asin, ya doyan aja. Namun, melihat Berlian sekarang sudah merapikan diri dan berdiri di depan pintu, tidak seperti bayangan Bayu –wanita itu tiduran di atas kasur dengan melucuti bajunya, menunggu dengan e****s, ternyata tidak. Jadi, Bayu memilih berdalih meminta maaf atas kekhilafannya. Namun, Bayu setidaknya tahu bahwa Berlian ada rasa padanya. Sayang, kedatangan Fara membuat semua itu gagal. “Ayo, Mas.” Gurat kecewa juga terdapat di wajah Berlian ketika Bayu malah mengajaknya keluar, padahal pria itu sudah membayar kamar hotel dengan penjualan fantastis tersebut. Tadi di cafe, Bayu mengatakan bahwa dia penasaran dengan interior hotel paling mewah di kota itu dan ingin sekali mendatanginya langsung, meski harus merogoh koceknya dalam-dalam. Dia akan menyerahkan bukti pembayaran hotel pada keluarganya dan foto bersama Berlian yang dia lakukan saat ini demi memotong uang yang harus diberikan pada keluarganya. *** Fara menerawang jalanan dari dalam taksi dengan pandangan kosong. Dia merasa tercurangi. Bahkan, pengorbanannya selama ini dipandang sebelah mata oleh sang suami. Sepertinya tidak ada harapan lagi dengan pria itu. Fara jijik sekali, meski ada hal yang dia ketahui tentang sang suami dan itu tidak etis jika membicarakan tentang ranjang mereka. “Stop, Pak.” Fara meminta sopir taksi menghentikan taksinya ketika melihat sebuah bar. Dengan sisa uang yang masih cukup banyak, Fara ingin masuk ke sana. Dia ingin melepaskan semua kegalauan di dalam bar. “Satu botol Soju beralkohol, Kak,” pintanya saat sudah duduk di dalam. “Baik, Kak.” Nekat. Fara benar-benar melampiaskan kekesalannya dengan menenggak minuman memabukkan itu ketika pelayan datang membawakannya sebotol minuman mengandung alkohol itu. “Sebotol lagi,” pintanya. Sampai, lima botol dia habiskan sendiri. Fara agak gila rupanya dengan kejadian di hotel tadi. Kesalahpahaman atau apa, tapi ucapan Bayu membuatnya sakit hati dan kecewa. “Laki-laki nggak berguna kok bisa masuk hotel sama cewek,” kekehnya, meracau. Dengan mata kuyu, dia menghabiskan petangnya di dalam bar itu. Tidak perduli orang-orang, tidak perduli pada dirinya sendiri. Bahkan, high heels yang dia pakai sudah tergeletak di lantai. Fara meletakkan kepalanya di atas meja dan mulai tertidur setelah sebelumnya meracau tidak jelas berisi u*****n-u*****n kotor tentang Bayu, suaminya. Sementara itu, di rumah Sagara, pria yang sudah memakai piyama itu berjalan mondar-mandir di depan rumah. Setelah Lee mengatakan bahwa Fara telah pulang, dia pun menyusul pulang tak lama kemudian. Harusnya, perempuan itu sudah di rumah. Namun, dia tidak mendapati Fara di sudut mana pun dalam rumahnya. Bahkan beberapa gelas masih kotor dan belum dibersihkan. “Dia ini, minggat ke mana?” gerutu Sagara yang kesal sekali sampai ingin menoyor kepala Fara jika perempuan itu kembali ke rumahnya. Sampai mandi sore dan waktunya Sagara biasa menghabiskan waktu di depan komputer atau menikmati kopi malamnya, Fara belum juga pulang. Dia berdecak, mengambil ponsel untuk ke sekian kalinya dan mencoba menghubungi asisten rumah tangganya itu. Namun, lagi-lagi tidak diangkat dan membuat Sagara makin merasa marah, kesal, tapi juga cemas. Semua campur aduk jadi satu. Pria itu tidak mengerti kenapa dia merasa secemas itu. Ingin rasanya dia mencari Fara ke rumah suaminya, tapi dia tidak mau cari perkara. “Perempuan aneh itu,” geramnya, menggerutu sembari mengambil mantel tebal dan kunci mobilnya. Terpaksa, dorongan di dalam otaknya meronta-ronta untuk mencari Fara. Banyak hal yang dia duga, dari yang buruk sampai buruk sekali. “Aargh!” geramnya mengacak rambut ketika terbersit bayangan buruk yang terjadi pada Fara. Diculik orang, disekap, diperkosa sampai dimutilasi. “Nggak mungkin, Sagara,” gumamnya pada dirinya sendiri, untuk menenangkan dirinya. Mobil Sagara mulai bergerak ke jalan. Matanya tak henti mengawasi jalanan, setiap sudut kota. Sesekali dia turun dan bertanya pada seseorang yang diperkirakan sering berada di jalanan, seperti tukang asongan, penjual bensin, satpam dan lain-lain. Namun, hasilnya nihil ditunjukkan dengan gelengan kepala mereka. “Nggak mungkin kan, masuk ke situ,” gumamnya ketika melintasi bar. Sagara mulai frustasi, sampai dia melihat seorang perempuan keluar dari dalam bar dengan sempoyongan dari spion. Sagara sangat mengenali baju perempuan berambut acak-acakan itu. Dia memarkir mobil dengan asal, lalu keluar dan menghampiri wanita tadi. Benar saja yang dia duga. Fara mabuk dan berjalan dengan asal. “Langit cerah, secerah hatiku huuu ....” Fara berdendang asal-asalan, padahal langit sedang gelap-gelapnya saat itu. “Bodoh,” umpat Sagara memasukkan kedua tangan ke dalam mantel, mengikuti jalannya Fara dari belakang. Kedua kaki Fara seolah berjalan menyilang dan tidak kuat menopang tubuhnya sendiri, tapi perempuan itu terkekeh-kekeh seperti orang gila. “Apa benar dia anak pengusaha nomor satu seantero negeri ini?” keluh Sagara melihat kelakuan Fara. Sampai akhirnya, Fara duduk di sebuah bangku pinggir jalan dan duduk lemas di sana. Sagara ikut duduk di sebelahnya. Fara menoleh pada Sagara dan menundukkan kepala dengan kedua bola mata menatap sayu ke arah pria itu. Telunjuknya mulai terangkat dan menowel hidung Sagara. “Dasar, impoten.” Sagara terlompat, berdiri dan melotot pada Fara yang malah menaik-turunkan alisnya masih menatap pada Sagara. “Kurang ajar bocah aneh ini!” gerutunya, menengok ke kiri dan kanan, mana tau ada orang yang mendengar racauan Fara. Betapa kata-kata yang sangat fatal jika ada orang yang mendengar. Bukankah berita selama ini, Sagara terkenal dengan pria yang jarang didapati bersama dengan wanita? Bagaimana jika ada seorang pencari berita yang mendengar racauan Fara? Apa tidak akan heboh dunia bisnis menyebarkan hoax itu? Sagara merasa sangat lega ketika sekitarnya aman. Dia pun duduk kembali mendekati Fara yang mulutnya berbau alkohol itu. “Kamu ada masalah apa, hah?” tanya Sagara. “Masalah? Nggak ada. Aku ini wanita kan? Wanita selalu benar,” kekehnya, membuat Sagara menggelengkan kepala, memijat pangkal hidungnya karena wanita di sebelahnya itu mabuk berat, sampai dia terkejut ketika menoleh ke arah Fara lagi. “Ehhh!!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN