“Astaga, anak ini—“
Tiba-tiba Fara sudah tersungkur di trotoar karena kedua matanya sangat berat dan kepalanya sangat pusing. Sekali lagi, Sagara harus berjongkok dan menarik tangan Fara agar perempuan itu bisa duduk. Namun, yang terjadi malah Fara berdiri terhuyung sampai menabrak tubuh Sagara. Keduanya terjatuh ke trotoar dengan posisi Fara di atas Sagara.
“Aaargh! Lepasin, dasar pria sombong nggak tau diri, sukanya kasih hakku ke orang lain!” gerutu Fara mendorong tubuh Sagara, sampai dirinya sendiri yang menggelundung ke sebelah Sagara.
Sagara bergegas berdiri melihat Fara memejamkan kedua mata dengan posisi terlentang di trotoar. Beberapa orang mengamati mereka, tapi kemudian pergi berlalu begitu saja karena di sekitar bar sering terjadi hal seperti itu. Orang mabuk di jalanan.
“Pulang,” ucap Sagara dengan menekan dahinya, satu tangan berada di pinggang, kedua mata terpejam.
“Nggak,” lirih Fara dengan kedua mata juga terpejam.
“Pulang, Fara.”
“Mana bisa pulang, aku nggak punya rumah. Orang tuaku pasti membenciku, semua orang membenciku, semut pun membenciku, aku nakal.”
Sagara menggelengkan kepala, tapi sedikit terhibur juga karena di saat Fara mabuk malah mengeluarkan kata-kata aneh.
Akhirnya, Sagara berjongkok lagi dan sekuat tenaga menarik gadis itu hingga berdiri, lalu menggendongnya seperti membawa karung beras di pundaknya.
“Turunin!” teriak Fara, memukul-mukul punggung Sagara sepanjang jalan menuju ke mobil yang terparkir sembarangan.
Namun, Sagara tetap tidak perduli. Dia tidak menuruti Fara, tetap membawa Fara masuk ke dalam mobil. Fara tampak agak tenang ketika Sagara memasang sabuk pengamannya. Di saat itu, Fara melingkarkan kedua tangan ke leher Sagara dan mengerucutkan bibir sambil tersenyum-senyum.
“Cium aku, cium aku,” ucapnya sewaktu mengerucutkan bibir.
Sagara memutar kedua bola mata, berupaya melepas tangan Fara yang melingkari leher. Namun, dia agak tertegun mendengar ucapan Fara.
“Cium aku, ah andai kamu kayak perjaka tua itu, pasti aku senang.”
“P-perjaka tua?” ulang Sagara mengerutkan dahi mendengar kata-kata Fara.
Fara sudah tertidur lagi di saat Sagara melototinya. Dia merasa Fara sedang membicarakan dirinya. Sagara berdecak.
“Andai aku bisa membiarkanmu tidur di bangku panjang tadi,” geramnya, lalu menutup pintu mobil dan berpindah ke sisi bagian kemudi.
***
Bayu menghempaskan bobotnya ke sofa. Dia sangat kesal ketika tidak menemukan Fara di dalam rumah. Dia ingin membicarakan soal kejadian di hotel tadi agar Fara mengerti bahwa semua yang dilakukan untuk hidup mereka.
“Fara, ke mana kamu,” gumam Bayu geram seraya berjalan mondar-mandir di depan teras.
Karena bosan menunggu dan istrinya itu tidak pulang-pulang juga, maka Bayu memutuskan untuk pergi ke rumah orang tuanya. Tambah lagi, sang ayah memintanya datang untuk membicarakan soal pertemuannya dengan Berlian. Dengan memakai jaketnya, Bayu berjalan menjauh dari rumah.
Malam itu, seperti biasa ayah dan ibunya sedang duduk di ruang tengah sembari menonton televisi. Bayu juga melihat Dela sedang duduk menemani orang tuanya di sana.
“Ma, Pa, santai?” ucap Bayu, melepaskan jaketnya dan meletakkan di sebuah gantungan khusus sebelah sofa.
“Eh, Bayu, sini, duduk sini.”
Dela bergeser, memberi tempat pada adik lelakinya untuk bisa ikut bergabung bersama mereka.
“Mbak Dela, kok di sini?” tanya Bayu, sudah duduk di sebelah kakaknya itu.
“Iya, sepi di rumah. Anak-anak lagi ke rumah kakek neneknya, trus mas Andi juga lagi ke luar kota selama tiga hari,” sahut Dela dengan wajah cemberut.
“Oh, jadi sibuk banget ya mas Andi abis kenaikan jabatan?” tanya Bayu berbasa-basi.
“Ya begitulah, yang penting pulang bawa uang banyak,” sahut Dela, kembali menatap ke layar televisi.
Bayu melirik tangan Dela yang makin dipenuhi dengan gelang emas. Kalung, serta cincin. Dia merasa kakaknya sudah mirip toko emas berjalan. Namun, Bayu tidak terlalu memperdulikan. Mungkin memang seperti itu kakaknya dengan gaya hidupnya.
“Yu, kata kamu tadi ketemu Berlian,” ujar Eka Handoyo memulai pembicaraan.
“Iya, Pa. Tadi aku ajak Berlian makan di cafe, terus kami survei hotel nomor wahid di kota. Ya pengen lihat aja bagaimana pelayanannya,” beber Bayu.
Senyum terbit di wajah Eka dan Sundari. Dela tampak biasa saja mendengar ucapan adiknya itu, hanya terlihat sibuk mengunyah cemilan yang ada di atas meja.
“Bagus, Nak.”
“Terus, kayaknya gimana itu si Berlian? Apa dia tertarik sama kamu?” serobot Sundari, tampak antusias.
Bayu mengulas senyum tipis. Dia sendiri belum bisa menyingkirkan Fara dari otak, tapi dia juga tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mendapatkan tawaran sang ayah. Bagai makan buah simalakama. Berlian cantik, Fara juga cantik. Namun, ada satu hal yang tidak bisa dia ungkapkan, hanya Fara yang mengerti tentang itu. Ranjang mereka tidak sepanas pasangan muda lain yang baru saja menikah. Keluarga Bayu juga belum tahu soal itu. Fara begitu sempurna menutupinya.
“Iya, sepertinya begitu, Ma.”
Sundari tersenyum lega mendengarnya, lalu obrolan berlanjut ke rencana-rencana Bayu ke depan. Eka dan Sundari mengangguk-angguk mantap pada rencana Bayu.
“Apa kamu bisa mewujudkan rencana itu, Yu? Aku nggak mau lho dimintai bantuan, pokoknya kamu harus mandiri.”
Bayu melengos mendengar ucapan Dela. Dia melirik ke arah Dela yang berbicara dengan mulut penuh.
“Aku sedang berusaha, nggak kayak kamu Mbak, yang Cuma ngunyah kayak sapi memamah biak aja,” goda Bayu. Sebuah bantal sofa mengenai kepalanya dari tangan Dela.
“Awas kamu ngeledek. Hidup Cuma sekali, harus dinikmati. Kamu ya kudu kerja keras, kalo aku kan udah diusahakan sama mas Andi? Ngapain mikir lagi? Kalo mau makan ya tinggal makan, pengen pilih apa tinggal tunjuk. Itu namanya hidup,” celoteh Dela.
“Huh, iya, iya. Aku bakal sekaya kamu, Mbak. Nggak usah khawatir aku bakal pinjem uang kamu,” gerutu Bayu, mendengkus.
“Udah, udah! Kalian ini kakak beradik udah kayak kucing sama tikus aja. Yu, contoh itu kakakmu. Dia nggak kerja juga udah hidup enak. Kalo istrimu, nggak kerja juga nggak bakal bisa karena nggak pinter ngatur uang,” celetuk Sundari.
Bayu mendesah. Telinganya sudah capek mendengar keluarganya membicarakan soal Fara dan menjelekkannya.
“Fara kerja, Ma.”
Sundari, Eka dan Dela menatap Bayu.
“Kerja? Kerja apa?”
Tak lama, terdengar kekehan dari mulut mereka. di luar dugaan Bayu, mereka malah tertawa.
“Yu, Yu, lulusan apa, kerja apa?” tukas Dela.
“Iya bener,” sahut Sundari, menutup mulutnya.
“Aku juga nggak ngerti, tapi dia pake baju kerja, kok!” sahut Bayu, berupaya membela istrinya.
“Haish, housekeeper juga dapet baju kerja,” tukas Dela lagi, diriingi tawa Sundari, sementara Eka tidak lagi mendengar celotehan mereka.
Wajah Bayu merah padam menahan malu. Dia sendiri tidak tahu apa pekerjaan Fara. Dia hanya terima ejekan dari ibu dan saudara perempuannya itu. Tidak tahan, Bayu pun berpamitan pulang.
"Ingat Yu, pokoknya nikah sama anak panti asuhan itu yang bikin kamu sial sampe kena PHK," tukas Sundari mengingatkan ketika Bayu sudah beranjak dari ruang tengah.