Bayu pulang ke rumah dengan lesu. Hatinya tidak karu-karuan karena tidak juga mendapati Fara di rumah. Beberapa kali menghubungi, wanita itu juga belum mengangkat panggilannya.
Sampai-sampai dia melempar ponselnya karena kesal. Untung saja, benda pipih itu tidak sampai pecah berkeping-keping. Bayu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dan berusaha untuk tidak memikirkan istrinya lagi.
Sementara itu, di rumah Sagara yang baru saja memarkir mobil di halaman rumah, keluar dari mobil dan membuka pintu mobil samping di mana Fara sedang tertidur. Sagara terpaksa membawa Fara ke rumahnya karena bingung mau membawanya ke mana. Dia menggendong Fara lagi, memasuki rumah. Sagara membawa Fara masuk ke dalam kamar tamu.
Fara yang mengerjapkan kedua mata dengan kedua pipi memerah karena masih mabuk, menatap Sagara dengan kedua mata sayu. Sagara hendak keluar dari kamar dan membiarkan Fara di ranjang.
“Papa, aku salah, Papa.”
Sagara terhenti mendengar ucapan Fara. Dia menengok, tidak tega karena perempuan itu menangis sesenggukan menyebut ayahnya.
“Papa, aku udah pergi dari rumah. Aku rindu papa, mama, aku nggak mau diremehin seperti mereka-mereka itu,” isaknya, turun dari tempat tidur dengan sempoyongan mendekati Sagara.
“Fara, kamu mabuk. Tidur ajalah,” ucap Sagara iba pada perempuan itu.
Rambut Fara sudah acak-acakan, tambah lagi menangis kencang. Sagara merengkuh kepala Fara dan meletakkannya ke d**a. Dia membiarkan Fara melampiaskan tangisnya ke dadanya yang bidang untuk beberapa saat. Akhirnya, Fara terdiam dan menengadah ke wajah Sagara dengan kedua mata sembab.
“Mas Sagara, aku capek—“
Sagara terkejut mendengar Fara memanggilnya. Ketika mabuk, perempuan itu benar-benar kacau. Sagara jadi penasaran berapa botol minuman yang diminum Fara.
"Mas?" ulangnya terkekeh.
“Oke, udah nangisnya? Bobok ya sekarang?” pinta Sagara dengan halus, membuat Fara mengangguk-angguk lucu dan mengikuti langkah Sagara yang memapahnya ke ranjang.
Perlahan, Sagara menidurkan Fara, tapi karena kakinya tersandung sisi karpet dan membuatnya malah nyaris terjerembab di atas tubuh Fara.
“Astaga,” gumam Sagara, sambil menahan bobot tubuhnya dengan kedua tangan agar tidak menimpa Fara.
“M-maaf,” ujarnya pada Fara yang tersenyum menatapnya dengan pandangan sayu.
Baru saja pria itu mau bangkit, tapi tangan Fara melingkari lehernya dan menahan Sagara tetap dalam posisi itu.
“Mas Sagara, kamu cakep, tampan, sayang banget kalo jomblo,” ujar Fara dengan tersenyum-senyum.
“A-apa maksudmu, Fara? Lepasin,” pinta Sagara, tapi tangan perempuan itu masih kuat mencengkeram lehernya.
“Aku mau ditemeni, mau dipeluk kayak tadi,” rengek Fara mendekatkan leher Sagara ke tubuhnya agar menempel.
Sagara meringis, lalu demi menuruti Fara agar perempuan itu tidur, dia pun memeluknya. Sagara mengelus kepala Fara, tapi Fara malah belingsatan, tanpa mau melepaskan pelukan Sagara, dia malah melepaskan bajunya.
“Mengganggu, panas sekali.”
Sagara terbelalak melihatnya, dua gundukan yang tertutup renda putih, dengan kulit mulus terpampang di hadapannya, agak tertekan oleh d**a bidang yang tertutup oleh kemeja putihnya.
“Fara, tutup badanmu.”
Fara malah memejamkan kedua mata sembari melepaskan rok yang melilit tubuh bagian bawahnya. Melempar benda itu ke lantai lagi.
“Nah,udah nggak ada yang mengganjal,” ujarnya dengan satu tangan masih melingkar ke leher Sagara yang menelan saliva melihat tubuh Fara. Baru kali ini Sagara melihat tubuh wanita dengan nyata.
Ingin rasanya memejamkan kedua mata, tapi otak dan hati tidak sinkron karena otak kotornya mendominasi. Pria yang tidak pernah sekalipun main di ranjang dengan wanita, sekarang disuguhi pemandangan yang selalu dia hindari. Sagara tidak munafik melihat itu. Area bawahnya mulai menggeliat, meronta dan menegang ketika kulitnya bertemu dengan kulit Fara.
Mereka saling berpandangan, meski Fara masih belum sadar. Sagara merutuki dirinya sendiri ketika pikirannya berkelana saat seorang perempuan nyaris telanjang di bawah tubuhnya ketika mabuk.
“Dia mabuk, Sagara” ucapnya pada dirinya sendiri dan berniat melepaskan diri dari pelukan Fara.
Namun, apa yang terjadi, Fara malah mendekatkan bibirnya ke bibir ranum Sagara, menempelnya dengan lembut. Sagara memejamkan kedua mata, teringat lagi ciuman pertamanya dengan perempuan itu. Otak pria, bagaimanapun tidak dapat menghindari itu. Kenikmatan tempo hari, seolah terdorong untuk ingin dia ulangi lagi. Sagara membalas ciuman Fara dan melumat bibir ranum itu sampai kehabisan napas. Dia terengah-engah, merasakan tubuhnya mulai memanas.
Sagara tidak sadar kapan kemejanya terlepas, juga celananya dan mereka berada di atas ranjang dengan berpelukan dan masih saling berciuman. Setan dalam diri Sagara membujuk agar menuruti bagian bawahnya yang menegang itu. Nanti jika Fara sadar, dia tidak akan tau karena sudah pasti kehormatannya sudah diambil oleh sang suami. Jadi, tidak terlihat jelas Sagara telah melakukannya dengan Fara. Begitu kata setan di pikirannya.
“Kamu tampan, aku mau sama kamu dari pada sama pria tidak berguna itu,” racau Fara, yang tidak dipahami oleh Sagara.
“Iya, baik,” sahut Sagara dengan suara parau karena otaknya telah didominasi oleh nafsu.
Akhirnya mereka melucuti semua pakaian dan Sagara menggila menciumi bagian tubuh Fara, meninggalkan bercak merah tanda kepemilikan di tubuh wanita itu. Desahan Fara makin membuat Sagara gila. Dia terengah-engah melakukan olahraga ranjang itu. Menelusuri dua gunung yang sudah tidak tertutup lagi oleh renda, bahkan menelusuri hutan kecil di bawah yang membuat siempunya bergetar hebat ketika Sagara mencoba-coba untuk menyentuhnya bagai tidak pernah disentuh.
“Aku nggak tahan,” ujar Fara tak kalah parau dengan Sagara, tanpa sadar.
Sagara menelan salivanya, tapi sesuatu yang tegang di bawah makin menuntut untuk melepaskan apa yang sudah ada di ujung.
“Maaf ya,” tutur Sagara mencium kening Fara, lalu mengarahkan sesuatu yang tegang itu ke bagian intim Fara.
Rintihan itu tidak dipahami oleh Sagara, tapi mereka masih melanjutkan permainan itu sampai pelepasan. Sagara merasakan sensasi luar biasa malam itu. Dia merebahkan tubuh di samping Fara yang tersenyum dan memejamkan mata dengan nyamannya di sisi Sagara.
Sagara meraup wajahnya.
“Astaga,” ucapnya dengan sesal, tapi mengingat nikmatnya, dia meringis.
“Ternyata seperti ini rasanya, pantas saja teman-temanku suka keluar masuk hotel dengan pacar-pacar mereka.”
Sagara memiringkan tubuhnya karena udara dingin sudah mulai menelusup. Pria itu mendudukkan diri, hendak meraih selimut yang ada di bawah lantai di sisi kanan Fara karena ulah mereka, selimut itu terjatuh.
Tangan Sagara baru akan mencapai selimut itu, tapi dia sangat terkejut melihat sesuatu yang m*****i di sprei putih, tepatnya di bawah p****t Fara.
“D-darah? Dia—“
“Nggak mungkin, nggak mungkin!”
Sagara memucat, menggelengkan kepala, terkejut sampai melompat ke bawah. Meraup wajah tidak percaya dengan apa yang dia lihat.