Keesokan pagi tiba. Fara mengerjapkan kedua mata dengan kepala masih berdenyut. Dia menyapu seluruh ruangan di mana dia berbaring itu dengan kedua matanya. Sudah kebiasaan bagi Fara untuk tidak segera bangkit ketika bangun tidur, tapi kali ini dia terpaksa terduduk karena kaget dengan ruangan yang sering dibersihkannya itu. “A-aku ada di kamar tamu Tuan Sagara?” gumamnya, menepuk dahi. Satu per satu memori di otaknya kembali. Fara menutup mulut ketika ingat dengan sepenggal kejadian semalam. “Astaga,” gumam Fara, memegang dadanya, lalu perut hingga area bawah yang terasa aneh, agak sakit. “Jangan bilang aku—“ Fara sangat terperanjat mendapati dirinya sekarang telah memakai piyama satin, padahal semalam dia memakai baju yang diambil dari butik Sagara. “Siapa yang mengganti bajuk

