Sandra mendobrak kasar pintu ruang kerja Kenzo. Di belakangnya Retno tergopoh-gopoh berusaha mencekal tangan Sandra. Kenzo yang sedari tadi telah mengamati keributan yang terjadi di lobi showroomnya menyunggingkan senyum sinis saat melihat muka Sandra yang memerah karena amarah. “Maaf mas Kenzo, saya—“ “Santai No, lo turun aja ke bawah!” potong Kenzo menanggapi ucapan Retno, sekretarisnya. Retno mengangguk dan menutup pintu, meninggalkan Kenzo dan Sandra berdua di ruangan itu. “Gue gak nyangka anak konglomerat gak punya adab kaya gini!” cemooh Kenzo. “Gak usah bacot lo kak! Maksud lo apa bawa-bawa Jimmy ke masalah ini?” murka Sandra dengan mata melotot. “Ya iyalah Jimmy harus dibawa! Lo musuhin Kanaya gara-gara dia kan? Gue udah ingatin lo Sandra, jangan sentuh Naya lebih dari yang k

