“Ka-kakak adik?” Gavin langsung melongo, seingatnya Naya anak tunggal. “Iya! Yang uda maksud si Indra dan Naya yang sedang duduk di batu itu kan?” Gavin mengangguk pasrah seperti orang bodoh mendengar pertanyaan si bapak. “Mereka sepupuan uda! Si Indra itu anaknya Marini, si Naya anaknya Asti yang tinggal di Jawa. Aa.. Marini dan Asti itu adik kakak kandung seayah seibu. Satu nenek mereka uda! Aa.. Itu rumah si Indra yang punya restoran bagus itu!” dengan bahasa Indonesia logat Padang si bapak menjelaskan silsisah Indra dan Naya kepada Gavin. Si bapak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia bingung sendiri. Entah untuk apa ia menjelaskan panjang lebar padahal Gavin tidak mengenal mereka. Tapi bagi Gavin penjelasan si bapak membuat dadanya begitu lapang. Ia bagai menemukan oase di te

