Tapi bukan Gavin namanya kalau menyerah semudah ini. Ia tidak akan menjadi pebisnis sukses andai gampang menyerah, apalagi dalam menghadapi pasang surut dunia usaha yang jelas-jelas lebih kompleks dari dunia percintaan. Setelah memantapkan tekadnya, Gavin mencabut selang infus yang menancap di tangannya. Dengan mengumpulkan tenaga yang sebenarnya belum pulih Gavin bangkit turun dari brangkarnya. “Eeehh.. ngapain? Mau kemana lo bos?” Indra buru-buru memapah Gavin yang terhuyung. “Saya mau pulang!” tegas Gavin. “Pulang kemana? Ke penginapan? Belum boleh!” “Bukan, saya mau menyusul Naya ke Jakarta!” “Apa lo kata? Gak ada! Berdiri aja gemetaran gini gimana mau ke Jakarta? Jangan lebay kaya di drama-drama deh!” omel Indra kesal. Cowok itu menduduk paksakan Gavin kembali ke ranjangnya. “

