Bab 2. Target Balas Dendam

1783 Kata
“Cuma lo bilang?” murka Sandra. Ia menghempaskan tubuh Naya ke dinding. Mereka berdua tengah bersitegang di belakang kampus. Naya menyeret Sandra ke sana karena ingin mempertanyakan kenapa Sandra bisa bertindak sekeji itu. “Andai lo tau apa yang dilakuin Jimmy ke gue itu Nay!” desis Sandra sambil mencengkram kerah baju Naya. “Tapi kalau lo sakit hati gara-gara malam itu, harusnya lo marah ke Jimmy dong San! Bukan ke gue! Apa lagi ke Raka dan Lian yang gak tau apa-apa! Mereka sampai harus kehilangan nyawa gara-gara arogansi lo!” protes Naya berang. “Lo ngomong apaan sih dari tadi? Cowok lo mati kenapa harus gue yang disalahin? Mereka kena imbas kutukan lo!” raung Sandra. “Gak ada yang namanya kutukan Sandra!” tegas Naya. “Lo punya bukti gue yang melakukannya? Pastiin ada Nay! Karena kalau enggak gue bisa tuntut balik lo!” ancam Sandra sambil berlalu meninggalkan Naya. Naya merosot ke lantai. Ia memandangi punggung Sandra yang menjauh dengan putus asa. Baru kali ia gemetaran menghadapi Sandra, si psikopat itu! “Gue emang gak punya bukti kuat San, tapi gue akan menghentikan permainan gila lo ini!” gumam Naya frustasi. Naya termenung, apa yang harus ia lakukan? Bukti yang ia punya begitu lemah. Kedua kasus itu juga sudah dianggap sebagai kecelakaan belaka. Keluarga Raka dan Lian juga sudah mengikhlaskan kematian anak mereka. Hanya saja Naya tidak ikhlas, mereka berdua tidak patut mati sia-sia! Naya harus menghentikan Sandra. Tapi bagaimana caranya? . . Naya baru saja balik dari fotocopy dengan setumpuk kertas di tangannya. Ia baru saya memfotocopy bahan kuliah dari catatan temannya sewaktu ia bolos kuliah seminggu beberapa waktu yang lalu. Naya ketinggalan banyak. Atensi Naya teralihkan ketika ia melihat Sandra sedang berbicara dengan seorang cowok di parkiran. Naya diam-diam mendekat dan menguping. Ia bersembunyi di balik sebuah mobil. “Aaa.. kak Gavin nanti jemput aku lagi ya? Jam 3?” rengek Sandra manja. Naya pura-pura muntah. “Gak bisa dek! Kakak sibuk banget hari ini. Nanti siang kakak sama papi ada janji sama klien.” cowok yang dipanggil Gavin itu angkat bicara. “Kamu pulangnya naik taksi aja ya? Atau nanti kakak suruh pak Diman menjemput kamu.” “Ih, gak usah dek kak!” Sandra menolak. Ia malas sekali, sopir pribadi papinya itu tidak mau diam. Pak Diman akan selalu membicarakan hal-hal random yang membuat Sandra sakit kepala. Sandra salut kepada papinya yang bisa menghadapi kerandoman pak Diman. “Aku nebeng teman aja. Atau kakak ajak aku ke show room beli mobil baru?” gurau Sandra. “Dek, mobil kamu itu cuma lagi di servis. Bukan rusak atau hancur!” Gavin mengacak-acak rambut adik kesayangannya itu. “Ya udah, kakak jalan dulu ya! Gak enak sama karyawan, masa bos telat terus.” Gavin memeluk Sandra sekilas dan langsung masuk ke dalam mobil Maybach hitam metalik. “Uuh, sultan..” gumam Naya sambil menyunggingkan senyum penuh arti. Ia mengintip Sandra yang juga sudah meninggalkan parkiran menuju kelas. Naya memutuskan untuk kembali ke kelas juga. Setelah mengembalikan buku catatan Juwi, si mahasiswi paling pintar di angkatannya, Naya bergegas ke kursi Cila. Cila sedang sibuk maraton menonton drakor di ponselnya. “Cil, lo harus nemenin gue istirahat nanti ke tempat Jeno!” titah Naya tanpa permisi dan salam. Cila mendelik sebal. Jeno benar, anak ini memang gak punya tata krama! “Lagi? Ngapain?” tanya Cila sambil kembali fokus ke layar ponselnya. “Ada satu tugas lagi yang harus dikerjai Jeno!” “Lo aja sendiri deh! Atau suruh Jeno yang ke sini. Gue harus nuntasin tiga episode terakhir hari ini juga! Kalau enggak gue bisa mati penasaran!” Naya begitu gemas, ia merebut ponsel yang sedang di pegang Cila. Cila merebut balik ponselnya, tapi Naya buru-buru memasukkannya ke dalam bajunya. “Balikin! Hape gue jadi bau kena keringat lo!” geram Cila. “Gak! Lo gak tidur semalaman gara-gara pantengin babang Lee Jong Suk! Lihat tuh mata, udah kaya panda. Sekarang gara-gara cowok bertahi lalat lucu itu lo juga mengacuhkan teman lo yang cantik ini? Gak bisa! Dengerin dulu gue baru gue balikin!” balas Naya. Cila mendengus sebal, “Huh, oke! Apa?” “Gue udah nemu cara untuk menghentikan Sandra. Tapi gue butuh bantuan Jeno untuk mencari info tentang seseorang. Gue harus bergerak cepat sebelum ada korban baru.” Bisik Naya. “Kalau lo gak mau ada korban, gampang Nay! Lo gak usah pacaran. Masalah beres!” bisik Cila enteng. Naya menggeplak tangan Cila gemas, “Lo mau gue jadi perawan tua?” geramnya. Sesaat kelas yang heboh menjadi tenang karena pak Yogi dosen ekonomi makro sudah masuk kelas. Semua mahasiswa yang duduk berantakan kembali ke tempat masing termasuk Naya. “Nih, hape lo!” Naya mengeluarkan ponsel Cila dari dalam bajunya, “Panas, lumer d*da gue!” Cila menerima ponselnya dengan ekspresi jijik. *** Jam 1 siang Naya dan Cila benar-benar sudah berada di labor komputer sarangnya Jeno. Kebetulan Jeno sendiri adalah asisten labor. Dan menurut Jeno yang hobi berselancar di dunia maya, spot wifi terbaik di fakultas teknik ini adalah labor komputer. Naya mengetuk pintu labor, “Permisi.. apakah ada saudara Jeno di dalam?” Naya melonggokkan kepalanya sambil nyengir kuda. “Udah masuk aja! Gak usah sok basa-basi!” sahut Jeno. Naya dan Cila masuk. Naya meletakkan sekaleng minuman kopi di hadapan Jeno, “Buat lo!” ujarnya. “Ngeri gue Nay! Lo gak lagi kesambet kan?” tegas Jeno sambil menatap Naya dengan ekspresi aneh. “Itu sogokan Jen! Gue butuh bantuan lagi!” “Hah, sudah ku dugong! Apa misi kali ini?” Naya mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto kepada Jeno. “Bisa cari info tentang dia?” tanya Naya. Jeno dan Cila kompak melihat foto itu. Keduanya berpandangan dengan bingung. “Ganteng banget Nay. Ini siapa?” tanya Cila. “Itu Gavin, kakaknya Sandra. Gue mau tau semua info tentang dia. Mulai dari hobi, apa yang tidak dia suka, tipe cewek idamannya, kebiasaannya, pekerjaannya dan kehidupan percintaannya!” rinci Naya. “Lo nemu nih foto dimana Nay?” tanya Cila penasaran. “Itulah gunanya media sosial Cil!” sahut Naya sambil mengedipkan mata. Jeno mengangguk setuju. “Hm, oke. Gampang ini mah! Kasih gue waktu 2 sampai 3 hari.” Tukas Jeno. “Sip! Berapa Jen?” “Gratis!” “Hah? Tumben baik bener lo?” Naya ternganga tak percaya. “Anggap aja bonus karena kemaren lo udah membayar gue dengan sangat pantas.” Jeno menyunggingkan senyum. *** Hari ini Naya akan menjalankan misi pertamanya. Dia sudah mengantongi sejumlah informasi tentang Gavin dari Jeno. Sesuai dengan info yang dia dapat, Gavin adalah CEO muda yang memimpin PT. Nusantara Techno menggantikan papinya. Gavin baru saja kembali dari luar negeri sehingga ia belum memiliki pacar. Ini akan mempermudah misi Naya, ia tidak perlu menyingkirkan seorang gadis untuk memuluskan jalannya. Sayangnya karena Gavin tidak mempunyai pacar Jeno tidak mendapatkan informasi tentang kriteria cewek idaman Gavin. Yang jelas Gavin adalah orang yang sopan. Pasti cowok itu juga menyukai cewek yang sopan seperti dirinya. Dan itu tidak sulit bagi Naya untuk melakukannya! Gavin akan selalu makan siang tepat waktu. Ia akan selalu pergi sendiri tanpa sekretarisnya. Misi Naya hari ini adalah ia akan menabrakan diri ke mobilnya Gavin. Dengan itu ia bisa mengikat Gavin dengan cara bertanggung jawab padanya. “Lo yakin mau membalas Sandra dengan cara ini Nay?” tanya Cila ragu-ragu. “Yakin! Sandra gak akan berkutik kalau dia orangnya.” Tegas Naya optimis. “Tapi Nay, orang yang bakal lo jadiin alat itu bukan orang sembarangan! Dia orang dewasa, bukan remaja labil kaya kita!” Cila berusaha memperingatkan sahabatnya ini sebelum menyesal. “Lah terus?” timpal Naya acuh sambil terus menatap lift. “Lo bayangin gimana murkanya cowok itu nanti Nay! Jangan main-main sama orang dewasa deh Nay! Apalagi dia itu bos! Ngeri gue!” “Dari tadi lo ngomongin orang dewasa mulu! Dia cuma beda tujuh tahun dari kita!” “Sebenarnya ada satu hal lain yang paling gue khawatirin Nay!” “Apa?” “Gue takut kalau lo bakal terjebak sama permainan lo sendiri. Gimana kalau akhirnya lo naksir beneran sama dia?” Pertanyaan Cila itu membuat Naya terdiam. Tapi sesaat kemudian kepercayaan dirinya kembali. “Itu gak akan terjadi Cil! Gue sedang dalam misi balas dendam, bukan misi mencari cinta!” tegas Naya. “Tapi Nay, lo yakin akan kenalan dengan cara ini?” Cila masih khawatir dengan cara gila sohibnya. “Ini cara yang paling bagus supaya dia bisa terikat sama gue Cil! Gue harus mengambil resiko!” “Gimana kalau ternyata di luar ekspetasi lo? Lo mati misalnya?” Naya menyentil mulut Cila gemas. “Lo ngomong suka sembarangan ya! Kalau gue mati gue bakal jadi hantu dan menggigit leher lo!” Naya menajamkan penglihatannya. Dari kejauhan ia melihat sosok Gavin keluar dari lift dan berjalan menuju mobilnya. “Target gue datang Cil. Gue harus siap-siap ambil posisi. Cil, anterin mobil gue pulang ya!” pinta Naya sambil buru keluar dari mobilnya. Cila hanya bisa pasrah melihat Naya yang tengah mengendap dari mobil ke mobil. Dasar keras kepala! “Lo sama gilanya dengan Sandra, Nay! Mudah-mudahan lo cuma keserempet doang!” gumam Cila. Sementara itu Naya sudah mengatur posisinya. Ia akan segera menyeberang begitu mobil Gavin melintas. Mudah-mudahan hanya tabrakan pelan, sehingga ia tidak perlu patah kaki. Syukur-syukur tidak menyusul Raka dan Lian. Naya mengintip dari balik sebuah mobil, mobil Gavin sudah mundur dari posisi parkirnya dan siap-siap akan jalan. Naya mengambil ancang-ancang dan mulai berhitung. Ia harus berakting senatural mungkin. Tepat di hitungan ketiga Naya melintas secepat mungkin dan.. BRRAAKK! Tabrakan yang diskenariokan Naya terjadi. Tubuh Naya limbung dan langsung menghantam lantai beton basement dengan keras. Gavin menginjak pedal rem kuat-kuat dan mobil berhenti kurang setengah meter dari badan Naya yang sudah tergeletak tak berdaya. Cila yang masih menunggu di dalam mobil Naya begitu terkejut mendengar benturan yang cukup keras itu. Ia buru-buru keluar dan terkesiap begitu melihat Naya sudah tergolek. Cila menutup mulutnya menahan pekikan yang nyaris keluar. Ia berusaha menahan diri, andai ia berlari mengejar Naya, semua rencana dan pengorbanan Naya akan sia-sia. Naya meringis kesakitan. SeKenapa rasanya sesakit ini? Naya merasakan perih di kepala dan sekujur badannya lalu pandangannya mulai buram. Ia tidak sanggup bergerak sedikitpun. Gavin buru-buru keluar dari mobil begitu ia berhasil menghentikan laju mobilnya. Dengan sigap ia menghampiri Naya. Mukanya langsung pias begitu melihat gadis yang sudah ditabraknya sudah bersimbah darah. “Mbak..! Mbak bisa mendengar saya?” Gavin menepuk pelan pipi Naya. Naya tidak bergerak. Gavin semakin panik. Ia melihat ke sekeliling, tidak ada satu orangpun yang tampak. Dengan badan yang gemetar karena cemas, Gavin mengangkat tubuh Naya masuk ke dalam mobilnya. Rencana Naya berhasil. Tapi niatnya yang pura-pura pingsan gagal, karena Naya benar-benar pingsan!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN