Bab 3. Pacaranlah dengan Saya

2304 Kata
Gavin menatap Naya yang masih belum sadarkan diri. Entah kenapa sejak pertama melihat Naya, ia langsung menyukainya. Padahal mereka belum kenal. Dan pertemuan pertama merekapun adalah sebuah kecelakaan. “Cantik!” gumamnya. Gavin mendekat dan mengamati setiap inci wajah Naya. “Hidung mancung dan bibir mungil ini.. kamu imut!” lagi-lagi Gavin berguman sambil mengulas senyum. Tiba-tiba Naya terbangun, Gavin buru-buru menjauh dan memasang tampang kalem. Naya menyerngit, kepalanya terasa pusing. Ia berusaha bangkit, namun Gavin menahan bahunya. “Berbaring saja! Mbak belum boleh banyak bergerak!” larang Gavin. Naya memandang Gavin dengan bingung. Ia berusaha mencerna keadaan, perlahan kesadarannya kembali. Ia tertabrak, tidak! Lebih tepatnya menabrakkan diri ke mobil Gavin dan sekarang berakhir di rumah sakit. “Mbak sudah ingat? Saya orang yang tidak sengaja menabrak mbak. Maafkan saya!” pinta Gavin penuh penyesalan. “Bisakah mbak memberitahu nomor keluarga yang bisa saya hubungi?” “Po-ponselku..?” gumam Naya lirih. Gavin mengeluarkan ponsel Naya yang layarnya sudah hancur. Dengan enggan ia menaruhnya di atas nakas. “Ponsel mbak hancur. Saya minta maaf untuk ini juga. Saya akan menggantinya.” Gavin mengatupkan kedua tangannya penuh penyesalan. Naya menatap Gavin dengan iba. Sepertinya cowok ini mempunyai attitude yang baik. Ia sedikit menyesal. Apa Cila benar ya? Tidak seharusnya ia melibatkan orang dewasa. Tapi Naya sudah sejauh ini! “To-tolong hubungi sahabat saya, Cila..” Naya menyebutkan sejumlah nomor kepada Gavin. Gavin langsung mengontak Cila dan setangah jam kemudian gadis itu datang sambil menangis. “Nayaa..!” raungnya begitu memasuki ruang rawat Naya. Ia langsung berhambur memeluk Naya. Naya meringis kesakitan,”Aduuh.. sakit Cil! Jangan kuat-kuat..” lirihnya. “Gimana ceritanya bisa gini Nay? Siapa yang udah lakuin ini ke elo? Trus kenapa nomor lo juga gak aktif dari tadi?” Cila memberondong Naya dengan pertanyaan bertubi-tubi. Padahal ia cuma ingin menanyakan pertanyaan yang ketiga. Tapi sandiwara kan sudah dimulai sejak tadi siang. “Maaf mbak!” Gavin menyela dari belakang. “Saya akan bertanggung jawab!” Cila menoleh dan langsung melotot begitu melihat keberadaan Gavin, ia tidak sadar cowok itu dari tadi berada di situ. Dengan geram ia mendekati Gavin dan berusaha menunjuk batang hidung Gavin. Tapi sayangnya, Gavin terlalu tinggi. Tinggi Cila bahkan hanya seketiak Gavin. Berada dalam jarak sedekat tu membuat Cila meneguk ludah ngiler. Niatnya untuk memarahi Gavin malah batal karena terpesona. Aslinya Gavin justru lebih ganteng di bandingkan fotonya. “Gila..!” gumam Cila sambil mengusap ilernya. “Maaf mbak?” Gavin berusaha menunduk dan menyamakan tingginya dengan Cila. Cila nyaris pingsan andai Naya tidak menyadarkannya. “Cil..” Naya berusaha memanggil Cila yang tengah terpaku. Ia begitu sebal melihat sahabatnya yang labil ini. Harusnya dia memarahi Gavin, bukannya terpesona! Cila buru-buru kembali duduk di dekat Naya sebelum ia benar-benar khilaf. Ia tiba-tiba mengingat sesuatu yang sangat penting. “Nay, gimana cara ngasih tau nyokap lo?” bisik Cila cemas. Naya terdiam, ia bahkan tidak memikirkan itu dari tadi. Ia bisa saja berbohong kalau malam ini akan menginap di rumah Cila. Lalu bagaimana besok? Naya memindai setiap jengkal badannya. Sebelah kakinya di gips, sebelah tangannya juga! Belum lagi luka goresan di sana-sini! Bagaimana ia akan menjelaskan kepada mamanya? Cila menatap prihatin sahabatnya itu. ‘Lo sih nay, cari masalah sendiri!’ gumamnya dalam hati. Tiba-tiba ponsel Cila berdering. Cila langsung melotot begitu melihat nama yang muncul dilayar ponselnya. Ia memperlihatkan kepada Naya. “Nyokap lo..” lirihnya. “Angkat aja Cil..” sahut Naya pasrah. Cila mengangguk. “Ha-halo tante..” jawab Cila terbata-bata. “Cila.. kamu tahu Naya kemana? Sudah jam segini kok belum pulang juga? Mana ponselnya tidak aktif!” Asti mamanya Naya terdengar begitu khawatir. Cila meneguk ludah. Ia tidak tau harus mulai dari mana. “Maaf, bisa ponselnya diberikan kepada saya? Biar saya yang bicara!” Gavin menyela sambil menjulurkan tangannya. Cila menoleh kepada Naya meminta persetujuan, Naya mengangguk. Cila menyerahkan ponselnya kepada Gavin. “.. Cila.. kamu masih di sana?” “Halo tante, saya Gavin. Saya..” Gavin menjauh dari kedua gadis itu dan menjelaskan duduk masalahnya kepada Asti. Kurang dari satu jam kemudian, Asti datang dengan terburu-buru. Bahkan reaksinya lebih heboh dari Cila. Ia begitu histeris melihat anak gadisnya yang sudah berubah menjadi setengah mumi. Bagaimana tidak, Naya putri satu-satunya. Tentu dia sangat khawatir. Gavin habis diomeli Asti. Cowok itu hanya menunduk dan mengangguk-angguk seperti siswa bandel ketangkap guru BK. “Saya akan bertanggung jawab sampai Naya sembuh tante. Termasuk mengganti ponsel Naya yang rusak.” Sahut Gavin pasrah. “Itu harus! Sebagai lelaki kamu harus bertanggungjawab! Kamu harus antar jemput Naya ke kampus sampai dia bisa menyetir sendiri!” titah Asti. Naya, Cila dan Gavin langsung terbelalak. “Tapi tante..” protes Gavin. “Tidak ada tapi-tapi!” potong Asti tegas. “Kamu tidak lihat? Gara-gara kamu anak saya jadi begini? Bagaimana ia akan menyetir dengan kaki dan tangan yang patah begitu? Saya tidak bisa menyetir! Sopir pribadi kami sedang ikut suami saya tugas ke luar kota. Baru bulan depan akan kembali. Kamu ada solusi selain memintanya naik taksi? Saya tidak mau anak saya naik turun taksi di tuntun sembarangan orang!” tegas Asti. “Kalau kamu keberatan, saya akan telpon papa Naya memintanya pulang. Silahkan kamu hadapi amukan suami saya karena sudah melukai putri kesayangannya!” tambah Asti lagi. Gavin langsung tertekuk, “Baiklah tante!” jawabnya putus asa. Cila mencolek Naya, “Lo sekongkol sama nyokap?” bisiknya. Naya menggeleng, “Enggak! Tapi tiba-tiba gue makin sayang sama nyokap!” Naya dan Cila saling melempar senyum. *** Tiga hari kemudian Naya sudah keluar dari rumah sakit. Dan hari hukuman buat Gavin di mulai. Pagi-pagi Gavin sudah menunggu di depan rumah Naya. Membimbing Naya masuk mobil dan mengantarnya sampai ke gerbang kampus. Selanjutnya tugas Gavin akan diteruskan Cila. Naya sengaja minta diturunkan di gerbang saja supaya tidak ketahuan Sandra. Naya baru akan memulai strateginya, ia tidak mau Sandra mengacaunya. Gavin pun turut lega mengantar sampai gerbang saja, tidak perlu sampai kelas. Ia juga tidak mau ke-gap Sandra! Sorenya ia kembali menjemput Naya di gerbang dan mengantarnya sampai rumah. Gavin tidak punya pilihan lain. Dialah yang menabrak Naya. Dia harus bertanggung jawab walaupun ia harus repot gara-gara itu. Sebenarnya Gavin tidak keberatan melakukan itu, malah dia senang. “Permisi ya Nay. Saya mau memasangkan safety belt.” Gavin meminta izin untuk kesekian kalinya. Naya tidak bisa menarik sabuknya karena tangan kanannya patah dan ia kesulitan melakukan dengan tangan kiri. Naya hanya mengangguk, “Silahkan mas Gavin. Maaf merepotkan.” Gavin tersenyum. Ia mendekatkan badannya ke Naya dan menarik sabuknya pelan-pelan. Gavin sengaja, karena ia ingin bisa melirik wajah Naya dari dekat. “Kita berangkat?” tanya Gavin. “Mas Gavin, hari ini aku gak ke kampus. Mas bisa antarkan aku ke rumah sakit?” pinta Naya. “Hah? Mau apa Nay?” tanya Gavin kaget. “Aku cuma mau kontrol sama ganti perban kok mas! Jangan kaget gitu!” Naya memamerkan senyum manis yang membuat hati Gavin berdesir. Gavin mengangguk dan segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Naya. Kurang dari satu jam mereka sampai di rumah sakit. Gavin terpaksa memarkirkan mobil agak jauh dari pintu masuk, karena parkiran sedang penuh. “Nay, kamu bisa tunggu sebentar? Saya ambil kursi roda dulu. kejauhan kalau kamu jalan dari sini, kaki kamu bisa tambah sakit.” Gavin bertanya sambil melepas sabuk pengamannya. “Mas..” Naya menahan tangan Gavin sebelum cowok itu keluar dari mobil. “Kalau mas gak keberatan, bisa gendong aku aja biar gak bolak balik?” Naya menatap Gavin penuh harap. “Se-serius Nay? Boleh?” Gavin tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Naya mengangguk. Tanpa diminta dua kali Gavin langsung keluar dari mobil dan berjalan membukakan pintu untuk Naya. Naya tersenyum melihat antusiasme Gavin. Sejak awal ia tahu bahwa targetnya ini telah tertarik padanya. “Permisi, maaf ya Nay!” Gavin meminta izin sebelum membopong Naya. Dan.. deg! Jantung Gavin berdetak kencang. Naya cukup tersentuh melihat kesopanan Gavin. Cowok ini selalu minta izin jika akan menyentuhnya. Gavin juga hobi minta maaf jika ia merasa bersalah. Kadang ia merasa sedikit bersalah karena sudah mengerjai Gavin. Naya tersenyum tipis merasakan detakan jantung Gavin yang begitu terasa olehnya. Ia mendongak melihat wajah tampan yang sedang bersemu itu. ‘Ganteng dan baik.’ batin Naya. Naya menggeleng cepat, ia menolak apa yang baru saja ia pikirkan. Hari berlalu dengan cepat. Tak terasa sudah tiga minggu Gavin mengantar jemput Naya. Tangan dan kaki Naya yang patang juga sudah mulai sembuh. Ia tidak lagi harus menggendong tangannya. Dan kakinya pun tidak perlu memakai tongkat lagi. Naya sudah bisa menginjakkan kakinya. “Aku rasa besok mas Gavin gak usah repot-repot menjemputku lagi. Aku udah bisa nyetir sendiri. Aku gak enak lama-lama repotin mas Gavin.” Ungkap Naya pagi itu. Gavin melirik Naya dengan kecewa. Jika itu terjadi, ia tidak akan bertemu Naya lagi. “Gak masalah kok Nay!” suara Gavin terdengar sedih. “Aku beneran udah baikan mas. Mas bisa fokus kerja lagi. Aku tahu mas Gavin itu sangat sibuk. Aku bisa lihat dari begitu seringnya sekretaris mas Gavin menelpon” balas Naya. Ia mulai memasang umpan. Kalau analisanya tidak salah, Gavin pasti akan mencari cara untuk bisa menahan kebersamaan mereka. Gavin terdiam, hati sedikit sedih. Ia menyetir tanpa mengucapkan sepatah katapun hingga sampai ke gerbang kampus. Naya sedikit kecewa Gavin tidak berbicara apa-apa. “Nay, nanti sore bisa temani saya ke suatu tempat sebelum pulang?” tanya Gavin begitu Naya akan turun dari mobil. Gadis itu mengangguk dan sebuah senyum samar tercetak di bibirnya. “Oke mas!” Sorenya Gavin benar-benar membawa Naya ke suatu tempat. Sebuah kafe cantik dengan telaga kecil sebagai latarnya. “Tempatnya ini mas?” Naya mengedarkan pandangannya ke sekeliling kafe yang tampak sepi. Gavin mengangguk dan membantu Naya berjalan menuju meja di pinggir telaga. Ia melambaikan tangan dan seorang pramusaji datang membawa buku menu. Gavin memesan beberapa menu dan tak lama pesanan itupun datang. “Makan dulu yuk Nay!” Gavin membantu Naya memotong makanannya dan sesekali menyuapinya. Naya menerima suapan Gavin dengan malu-malu. Susah payah ia menahan senyum karena ia sudah mengira apa yang akan terjadi setelah ini. “Nay, saya mengajakmu kesini karena ingin membicarakan sesuatu.” Gavin memulai obrolan begitu mereka selesai makan. “Apa mas?” “Maaf kalau pertanyaan saya akan membuatmu tidak nyaman. Kamu sudah punya pacar Nay?” Naya terdiam. Ia sudah memperkirakan ini, tapi ditanya begini ternyata cukup membuatnya gugup. Sementara Gavin menanti jawaban Naya harap-harap cemas. “Aku jomblo mas! Kenapa? Mas Gavin mau nembak aku?” tanya Naya menantang. Ia tidak punya cara lain untuk mengatasi kegugupannya selain menggoda Gavin. Sementara Gavin tersenyum senang. Ia begitu bahagia mendengar jawaban Naya. “Kalau begitu mau kah kamu menjadi pacarku?” tanya Gavin sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil dari kantong jasnya. Sebuah cincin berlian cantik menyembul dari kotak itu. Naya langsung melotot dan menutup mulutnya menahan pekikan. Ia menatap Gavin tak percaya. Ini sih terlalu manis kalau hanya untuk sebuah keisengan! Gavin mengulas senyum manis yang membuat wajahnya semakin tampan. “Ma-mas Gavin serius?” Gavin mengangguk, “Saya sudah menyukaimu sejak tanpa sengaja menabrakmu. Sepertinya saya jatuh cinta pada pandangan pertama.” Naya terdiam. Sesaat hatinya ragu, apa tidak masalah ia mempermainkan hati seseorang yang tulus padanya? Tapi cepat-cepat ia menampik perasaan itu. Sejak awal inilah rencananya! Ia sudah sampai di finish. Kenapa harus mundur karena memikirkan perasaan pria ini. Adiknya kan dajj*al! “Kamu.. tidak mau Nay? Kamu.. tidak tertarik pada saya?” tanya Gavin terbata-bata. Ia agak cemas melihat diam-nya Naya. “Aku juga suka mas Gavin!” ucap Naya akhirnya. “Jadi?” Gavin menanti harap-harap cemas. “Aku mau!” Gavin tidak bisa menyembunyikan wajah bahagianya. Ia buru-buru memasangkan cincin itu ke jari Naya sebelum gadis itu berubah pikiran. “Syukurlah pas!” gumamnya senang. Tanpa sadar Naya juga tersenyum senang karena terbawa perasaan. Penyanyi kafe langsung menyanyikan lagu cinta begitu Gavin memberikan kode berupa lambaian tangan. Suasana langsung terasa begitu romantis. Gavin mengusap sayang punggung tangan Naya yang baru saja ia pasangkan cincin. Kedua saling menatap dan melempar senyum. “Tapi mas, kenapa kafe ini begitu sepi? Aku gak lihat satu pengunjungpun selain kita. Jangan bilang mas Gavin menyewanya untuk momen ini! ” tebak Naya. Biasanya adegan seperti ini hanya ada di film. Gavin mengangguk mengamini tebakan Naya. Mata Naya membulat sempurna. Diam-diam di dalam hatinya ia merasa semakin terbebani. Menjelang malam Gavin mengantarkan Naya pulang ke rumahnya. Ia tidak mau di pacarnya ini kena omel, karena Naya pernah cerita kalau mamanya suka marah jika Naya pulang malam. Padahal ingin rasanya Gavin menghabiskan sisa hari ini bersama Naya. “Nay, besok saya jemput ya?” Gavin kembali bersikeras menawarkan diri “Gak usah mas, aku udah bisa nyetir kok!” tolak Naya untuk kesekian kalinya. “Sekali besok aja! Masa hari pertama habis jadian gak boleh jemput?” muka Gavin mencebik sedih. Naya tersenyum, baru kali ini ia melihat ekspresi Gavin selucu ini. Biasanya cowok itu hanya bisa memasang tampang flat atau tersenyum saja. “Oke deh..” Naya mengalah. Gavin tersenyum senang dan mengusap kepala Naya. Tak lama kemudian mereka sampai di rumah Naya. Gavin membantu Naya turun dan memapahnya hingga pintu. “Saya balik ya! Kamu buruan mandi dan istirahat.” Ucapan Gavin terdengar begitu manis hingga mau tak mau Naya jadi tersenyum. “Oke, mas Gavin juga hati-hati di jalan!” balas Naya. Gavin meraih tangan Naya dan mengecupnya sekilas. Naya sedikit tersentak namun ia cepat-cepat menggagahi diri. ‘Gue gak boleh terjebak permainan sendiri!’ gumamnya dalam hati. “Saya pulang ya!” Gavin melepaskan tangan Naya dan lagi-lagi melempar senyum termanisnya. Naya tersenyum miris. Ia membalas lambaian tangan Gavin yang akan masuk ke dalam mobilnya. “Yes!” pekiknya senang. “Oke San, gue ikuti permainan lo! Kita lihat apa lo bakal sanggup menghabisi pacar gue selanjutnya?” Naya menyunggingkan senyum sambil memandang Gavin, kakak satu-satunya Sandra yang mulai menghilang dari pandangannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN